Destiny Holder

Destiny Holder
Harapan?



Hiromi terkena ledakan dahsyat, dan ledakan itu ada banyak sekali di sekitarnya. Arizawa kembali dari bentuk anginnya, dia muncul di langit-langit agar tak terkena dampak nya.


Sambil mengangkat Yukichi yang tak berdaya, wajahnya saja bahkan sudah menjawab semua pertanyaan Arizawa.


"Berdirilah, kau sudah bisa terbang sekarang" ucapnya, lalu menurunkan Yukichi.


"Eh?? apa itu barusan? saking hebatnya aku sampai tak bisa mengetahui apa yang terjadi" ucapnya linglung.


"Berhenti memujiku seperti itu, itu hanya pengembangan dari sihirku, menjadi sihir tingkat tinggi. Yang bahkan Hiromi sendiri mungkin akan mati setelah semua ledakan ini berakhir."


"Kekuatanmu sudah jauh melebihi rekan yang lain, ya. Aku semakin tenang jika tetap berada disini" Yukichi tersenyum polos.


"Namun aku masih penasaran dengan cara kinerja sihirmu yang barusan, kau bilang bahwa angin ada dimana saja. Apakah itu menunjukkan bahwa kau adalah angin itu sendiri?" tanya Yukichi.


"Ya, dalam mode ini, yakni mode pelepasan ku, aku bisa menjadi angin. Tubuhku lenyap sepenuhnya dan kesadaran ku menyatu dengan angin yang ada di bumi."


"Lewat situ juga aku bisa merasakan apa yang disentuh oleh angin-angin. Seperti yang aku lakukan saat mencari pilar keenam Hiromi. Dan aku juga bisa membentuk kembali tubuhku dari angin jika aku mau."


"Pelepasan ini sudah aku lepaskan sebelumnya saat Hiromi baru saja datang, namun persiapannya memakan waktu yang cukup lama. Makannya aku hanya berbasa-basi dengannya di awal pertemuan" jelas Arizawa tentang kekuatan barunya.


"Ketua memang hebat!" Yukichi bertepuk tangan.


Arizawa kesal dia merasa diledek terus menerus. "Berhenti mengejekku sialan!" balasnya dengan nada tinggi.


"Ehehe, iya iya maaf" ucapnya.


Tak lama kemudian seluruh ledakan sudah mereda, dan mereka pun turun ke bawah untuk mengecek keadaan Hiromi.


Keadaan tanah hancur lebur, retak dimana-mana, hutan menjadi gundul akibat angin yang terlalu kuat.


Radius kerusakan yang disebabkan serangan Arizawa adalah sampai 4 kilometer, dan gelombang ledakannya sampai 10 kilometer jauhnya.


Arizawa dan Yukichi berjalan mengelilingi medan pertempuran, melihat tanah-tanah yang rusak. Mereka sudah berjalan cukup lama untuk mencari Hiromi, namun tidak ketemu juga.


"Mungkin dia lenyap? ledakan tadi juga tidak cuma satu saja" asumsi Yukichi.


"Hmm, itu mungkin terjadi, namun aku masih tak percaya sampai aku melihat barang peninggalannya sedikit saja. Baru aku menerima bahwa dia telah tewas" Arizawa kekeh ingin mencari Hiromi.


Sesaat kemudian setelah mereka berjalan terus, mereka menemukan sebuah kawah kecil dan beberapa tumpukan batu.


"Ini mencurigakan sekali" ucap Arizawa.


Yukichi membuka telapak tangannya ke arah bebatuan itu, lalu memindahkan batu tersebut ke tempat yang lain.


Setelah di angkat, tidak ada apa-apa. Hanya sebuah ranting pohon yang terbawa oleh angin.


"Kukira kita akan menemukannya disini" Arizawa kecewa, dengan murungnya ia pun berbalik.


"Kau tidak apa?" Yukichi bertanya pelan.


"Ya, aku hanya lelah dengan semua ini. Kita sudah berjalan selama dua jam lebih dan tidak menemukan peninggalan Hiromi sama sekali. Aku menyerah, aku akan kembali ke markas untuk istirahat."


Yukichi menatap Arizawa memelas, lalu dia pun membantu Arizawa bangun dari duduknya.


Tak lama saat ingin perjalanan pulang, sebuah suara merenggut tanah terdengar nyaring di telinga Arizawa dan Yukichi.


Sontak keduanya menengok ke belakang, dan alangkah terkejutnya mereka melihat Hiromi yang masih hidup, dengan pakaian yang compang-camping.


Tubuhnya lumpuh, dan dipenuhi oleh luka lebam dan luka bakar. "Bagaimana kau bisa selamat..?!" muka Arizawa pucat saat bertanya.


"Aku juga tidak tahu, namun aku sudah tidak memiliki energi lagi untuk bangkit" jawab Hiromi pelan.


"Sangat menyedihkan melihatmu begini, ya. Namun aku rasa itu pantas untukmu sebagai penebusan dosa-dosamu di masa lampau."


"Saat aku terkena ledakan sihirmu, aku sudah melihat kembali kilas balik hidupku, kukira aku akan mati di dalam ledakan, namun nyatanya tidak demikian."


"Aku seperti terkena kutukan, lihat ini di siku ku" Hiromi menunjukkan sikutnya, dan terpapar jelas bahwa ada sebuah simbol dari tiang kincir angin. Dan itu berwarna hijau menyala cerah.


"Namun mengapa kau tidak mati saat menerima kutukan?" Yukichi bertanya.


"Ini bukan kutukan seperti biasanya, ini adalah kutukan agar aku abadi. Kutukan ini menyiksaku selamanya. Percaya padaku, keabadian bukanlah hal yang menyenangkan" ungkapnya.


"Mengerikan sekali. Jadi, kau tidak akan mati meski aku memenggal kepalamu disini?" Arizawa mengancam.


"Aku tidak yakin, namun seharusnya aku takkan mati, melainkan merasakan rasa sakitnya saja" jawab Hiromi.


Arizawa merasa hampa, jika Hiromi tidak mati, maka mungkin akan ada penyerangan lainnya untuk merebut Mato.


"Namun aku tak dapat membiarkanmu hidup. Kau terlalu berbahaya" kata Arizawa, mencoba membantah argumen keabadian milik Hiromi.


"Terserah kau saja. Namun aku sudah tak memiliki niat itu lagi. Aku sudah mendapatkan pelajaran dari kilas balik yang aku alami."


Hiromi membuka matanya, "Aku melihat sebuah ingatan mengerikan, namun bukan milikku. Dan ingatan itu cukup membuatku gentar untuk tetap di jalan yang sama" ungkapnya lagi.


"Ingatan apa?" Arizawa bertanya.


"Maaf tapi takkan kujawab."


"Baiklah, terserah kau saja. Jadi, sekarang kau akan pergi kemana?"


"Aku tak tahu, mungkin aku ingin pensiun sebagai pemimpin dan menjalani hidup normal layaknya manusia pada umumnya" jawab Hiromi.


Situasi berpindah ke Katsura, dia sedang membantu Homura untuk membawa Yotsuya yang tertangkap.


Tak lama kemudian, Katsura terpanggil ke alam bawah sadarnya. "Marx! akhirnya kau memanggilku lagi kesini" seru nya di dunia terpisah itu.


"Katsura, tidak ada waktu lagi. Cepat tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, tak perlu bertanya-tanya tentang perkataan ku ini. Kau akan segera tahu" ucap Marx terburu-buru.


"Baiklah, mengapa saat Azashi mencoba menggunakan Golden Orb yang sudah diserap, dia malah tewas dengan sendirinya?"


"Golden Orb hanya merestui dipakai oleh pengguna yang dipilih oleh-nya. Jika ada penggunaan paksa, maka pengguna yang tidak direstui itu akan mati bagaimanapun caranya" jawab Marx.


"Ada lagi? cepatlah, waktu kita tak banyak."


"Oke oke, sudah semua, yang aku ingin pertanyakan kenapa kau begitu terburu-buru dan tiba-tiba memanggilku begini?"


"Aku ingin mengucapkan salam perpisahan. Sampai disini kita bertemu di dalam pikiran, kita akan berjumpa lagi di dunia nyata nanti."


"Ada seseorang yang memutus tali koneksi kita, dan itu membuatku tak lagi punya akses ke pikiranmu. Jadi, sekarang gunakanlah Golden Orb dengan bijak. Ingat, kau abadi, kau takkan mati."


"Apa..?"


"Orang ini sangat kuat, berhati-hati lah saat menghadapinya" tubuh Marx perlahan memudar menjadi debu cahaya.


"Tunggu, kau sebenarnya itu wujud kekuatanku atau sebuah makhluk hidup yang terhubung ke kekuatanku?"


"Aku tak punya waktu lagi untuk menjelaskan. Jika kau punya pertanyaan tentang Golden Orb, pergi ke masa lalu sekitar 100 tahun yang lalu, pastikan untuk hanya membawamu seorang ke masa lalu, bukannya satu dunia ke masa lalu" ucap Marx, yang tersisa hanya kepalanya.


"Sampai jumpa di lain hari, Katsura Laith."


Bersambung...