
Disaat-saat terakhirnya, seluruh pandangan Zero menjadi sangat buram, sesaat sebelum tubuhnya terkena serangan Katsura, dia merasa pasrah dan menerima kekalahannya.
"Apa.. apa yang akan terjadi selanjutnya..?" batinnya, melihat serangan Katsura yang sudah berada persis didepan wajahnya.
"Begini juga tak apa.. aku sudah memenuhi tugasku, sebagai Escalivor" Zero menutup matanya, lalu serangan Katsura membelah tubuh Zero menjadi dua bagian.
Serangan Katsura meledak setelah mengenai tubuh Zero, serangan ini benar-benar mengalahkannya kali ini.
"Haah.. haah.." Katsura berlutut karena kelelahan, nafasnya menjadi berat tidak karuan, keringat mengucur ke sekujur tubuhnya.
Kedua telapak tangannya menggenggam tanah, tubuhnya sedikit di bungkukkan karena terlalu lelah. Aura hijau Katsura juga sudah menghilang, bersamaan dengan penonaktifan Golden Orb miliknya.
"Sial.. aku seharusnya sudah mati tiga kali di pertempuran ini.." ucap Katsura dengan nafas beratnya, lalu dia pun tumbang dan terbaring di tanah.
Di sebelahnya, ada lencana miliknya yang dilepas sebelum Katsura melancarkan serangan terakhirnya, dari situ dia mendengar Arizawa sedang mengomel-ngomel tidak jelas.
"Katsura? Katsura kau disana? halo? kemana sih?" ucap Arizawa yang sedari tadi memanggil-manggil nama Katsura, namun dia tak menjawabnya.
Dengan tatapannya yang sayu, dia berusaha meraih lencana miliknya dengan tangannya yang lemas, bahkan hampir tak bisa digerakkan.
Katsura berhasil meraih lencana miliknya, dan mendekatkan lencana itu ke mulutnya. "Ya aku disini" jawab Katsura dengan suara kelelahannya.
"Katsura!? darimana saja kau tadi?!" Arizawa bertanya dengan nada tinggi, dia kesal diabaikan begitu saja.
"Kau lihat saja sendiri.." Katsura membalikkan lencana nya dan menyalakan mode kamera, yang mana itu memproyeksikan dirinya yang terkapar di atas tanah kepada Arizawa.
Arizawa dan Yukichi terkejut melihat keadaan Katsura seperti itu, lantas mereka pun spontan bertanya, "Katsura! kau tak apa?"
"Aku baik-baik saja, musuh yang ku lawan benar-benar kuat dan merepotkan.. namun jangan khawatir, aku sudah berhasil mengalahkannya" kata Katsura dengan senyum kecil di wajahnya.
"Aku tahu kau pasti akan mengalahkannya.. jadi, apa yang terjadi disana?" Yukichi bertanya lagi.
"Aku tidak tahu, aku belum sempat menjelajahi seisi kastil karena aku langsung di hadang oleh musuhku, Zero sang Escalivor nomor dua."
"Seharusnya aku sudah mati tiga kali saat melawannya.. benar-benar merepotkan" ulas Katsura tentang pertempurannya, yang membuat Arizawa dan Yukichi terkejut.
"Tiga.. kali? saat kau melawan Ferus kau hanya mati satu kali, benar kan?" Arizawa mengingat kembali momen pertama kali Katsura bertemu Ferus.
"Ya benar, serangan Zero sangatlah cepat, kecepatanku tak mampu menyaingi nya, ditambah dia selalu beradaptasi setiap detik pertarungan. Dan yang lebih parah, dia masih nomor dua."
"Aku tak bisa bayangkan seberapa kuat anggota nomor satu itu.." ucap Katsura sambil menghela nafas panjang.
...****************...
Di sisi lain, Felix berhasil menyusup ke dalam kerajaan tersembunyi, Regnum Assilum. Felix langsung menyusup ke dalam dan bersembunyi di balik gedung tinggi.
Benar kata Persa, Regnum Assilum lebih terlihat seperti kota daripada kerajaan, bangunan besar nan modern dimana-mana, banyak sekali benda canggih seperti hologram dan lain-lain.
Felix melihat ke atas langit, dia tahu bahwa ada kubah yang menutupi tempat ini, kubah yang menjadikan tempat ini tak terlihat dan tak terdeteksi.
"Darimana harus ku mulai?" Felix menatap ke langit-langit, kedua tanduk hitam kecil di dahinya mulai menyusut dan menghilang.
Setelah beberapa saat, Felix mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya, dengan suara orang yang berusaha untuk menangkapnya.
"Hey, yang disana! cepat keluar!" kata orang itu, suara langkah kaki semakin terdengar jelas di telinga Felix.
Felix mengekspos dirinya di atas atap, namun tak ada satupun yang melihat ke arahnya, Felix pun menoleh ke samping dan melihat bangunan yang sangat mencolok.
Bangunan itu terlihat seperti kubah lagi, dan di depannya terdapat dua gedung tinggi dengan atap yang berbentuk segitiga siku-siku saling menghadap ke satu sama lain.
Di tengah-tengah kedua bangunan itu juga terdapat bola energi berwarna kuning cerah, terlihat seperti matahari buatan untuk seisi Regnum Assilum.
"Disana" Felix kembali memunculkan kedua tanduk kecilnya, dan berpindah tempat ke depan bangunan itu, dia percaya itu adalah 'kerajaan' yang asli.
Kedua penjaga yang berjaga didepan pintu masuk pun langsung menghampiri Felix. "Siapa kau? untuk apa kau kesini?!" ucap kedua penjaga itu dan mengeluarkan tombak besi yang dilapisi dengan energi.
Felix tak menjawab, dia terus berjalan pelan ke depan. Kedua penjaga itu tak punya pilihan lain, keduanya menusuk Felix dengan tombak mereka.
Namun, mereka malah terkena serangan nya sendiri walaupun Felix tak bergerak. Felix terus berjalan masuk sementara kedua penjaga itu tergeletak di tanah dengan luka tusukan.
Saat berjalan, Felix membuang sebuah kartu yang bergambarkan dua panah saling membalik, lalu dia pun masuk ke dalam bangunan itu.
"Seharusnya Escalivor sudah tidak ada disini, aku akan aman masuk keluar sesuka hati ke kerajaan ini" ucap Felix, dia membuka tudung dari jubahnya.
"Prioritasku.. aku harus menemukannya sebelum mereka membawanya pergi" Felix masuk ke dalam bayangan dan pergi ke ruangan administrator, orang yang berjaga disana mencoba melawan dengan senjatanya.
"Siapa kau?! penyusup!" orang itu mengambil pisau kecil dan berusaha menusuk tenggorokan Felix, namun Felix memegang dahi orang tersebut dan membuat orang itu pingsan.
"Jadi begitu.. terimakasih informasinya" Felix mencuri informasi secara paksa dengan sihirnya, lalu dia pergi lagi melalui bayangan miliknya.
Felix tiba di depan pintu sebuah ruangan 'koleksi' sang Raja, pintu itu terkunci kuat dan tidak bisa dihancurkan.
Saat Felix bergerak satu langkah, sayup-sayup dia mendengar banyak langkah kaki menuju ke arahnya. Felix tidak panik, dia menyentuh pintu itu dan berhasil menembusnya melalui bayangan.
Di dalam ruangan, Felix mencari sebuah 'makhluk' yang dapat merambat melalui ruang dan waktu, makhluk itu bernama Radix Interitus. Radix Interitus mampu melahap apapun yang ada di jangkauannya dengan kecepatan diluar akal.
Makhluk itu berbentuk akar, kelihatan tidak hidup namun sebenarnya makhluk itu memiliki nyawa.
Felix berjalan cukup lama di dalam ruangan itu, terdengar suara gubrakan pintu dari luar, Felix berusaha semakin cepat untuk menemukan Radix Interitus.
Di dalam ruangan juga penuh koleksi barang-barang aneh yang ditutupi dengan kaca, ukuran kaca itu berbeda-beda tergantung ukuran benda didalamnya.
Akhirnya Felix sampai di kaca terbesar, namun matanya terbuka lebar-lebar, dia sangat terkejut serta khawatir, keringatnya mulai bercucuran.
"Mustahil.." katanya, dia sangat yakin bahwa Radix Interitus seharusnya ada di depan nya saat ini, namun di dalam kaca yang ia lihat saat ini, isinya kosong melompong.
"Tch! aku harus cepat kembali ke mereka!" ucap Felix terburu-buru, saat dia berbalik, pintu sudah terdobrak dan banyak sekali penjaga dengan senjata masuk ke ruangan.
Felix tak ingin ambil pusing, dia pun pergi melalui lubang bayangan di bawahnya sekali lagi.
"Itu dia! tangkap penyusup itu!"
Badan Felix sudah setengah masuk ke dalam lubang bayangannya, para penjaga tak sempat menangkap Felix.
Saat hanya sisa kepalanya yang ada diatas permukaan tanah, Felix berkata, "Aku serahkan sisanya padamu, Yosua" lalu dia benar-benar pergi dari kerajaan itu.
Bersambung...