Destiny Holder

Destiny Holder
Kekacauan Di Semesta J-60



"Mungkin sebaiknya aku berlatih bagaimana cara menggunakan kekuatan ini seperti kata Cezo, mungkin saja dibutuhkan pada suatu saat nanti" ucap Katsura sambil bangun dari duduknya.


"Nah gitu dong bersemangat" ucap Feria yang menoleh kebelakang.


"Hei kau akhir-akhir ini selalu dekat dengan Katsura, jangan-jangan kau menyukai nya, ya?" tanya Hosura yang menghadang Feria.


"HAH? TENTU TIDAK DONG! MINGGIR, AKU MAU LEWAT!" balas Feria.


"Sudah pasti ini mah hahaha, akan ku sebarkan ke anggota yang lainnya" ucap Hosura.


*** Di Semesta J-60 ***


"Berantakan sekali ya disini, apa mereka tidak ada niatan bersih bersih?" sindir salah seorang yang ada disitu.


"Mereka sudah kabur, tuan" ucap si penjaga.


"Kabur ya.. mereka tidak akan bisa kab-" ucapnya lalu sorot matanya melihat kebelakang dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh.


Dia merasakan sesuatu yang janggal, lalu berkata "Energi ini... menghilang?"


"Ada apa tuan Ferus?" ucap penjaga disitu


"DORMAN! MENGHILANG DARI DUNIA INI!" teriaknya.


"Apa? itu pasti tidak mungkin, tuan Dorman kan pemegang kekuasaan disini, dia juga kuat. Mana mungkin dia bisa menghilang tanpa jejak" balas penjaga.


"Tidak... ini murni dia menghilang dari dunia ini.. energi nya murni menghilang secara fundamental, tidak tersisa satu pun."


"Jika itu benar maka mungkin kekacauan terjadi dimana-mana, aku akan segera kembali" ucapnya sambil terbang.


Benar apa katanya, kekacauan dimana-mana, lalu dia berkata, "Cih karena dia pemegang takhta dan kekuatan tertinggi, jika dia hilang akan menimbulkan banyak kekacauan, seperti saat ini."


"Mereka semua mencoba menguasai wilayah orang lain, seperti tidak ada lagi aturan disini. Ini benar benar parah" kata Ferus sambil melihat kebawah.


Dia pun kembali ke penjaga disana dan berkata, "Benar dugaanku, kekacauan dimana-mana, seperti neraka saja. Untuk mengatasi kekacauan ini kita butuh pemimpin pengganti untuk sementara."


"Namun kita tidak memiliki kandidat lagi, Dorman belum menikah dan tidak mempunyai keturunan. Jadi harus pilih siapa?" balas penjaga disitu.


"Kau, carilah dulu cara untuk mencari pemimpin, di kerajaan banyak orang yang bisa menggantikan posisi Dorman, namun hanya terhalang oleh perbedaan kekuatan yang sangat besar" kata Ferus.


"Tapi bukankah tuan salah satu kandidat yang bisa mengisi takhta jika tidak ada halangan?" tanya penjaga.


"Aku tidak bisa, aku akan pergi mencari asal semesta mereka sendiri" balas nya sambil terbang perlahan.


"Apa? maaf jika saya lancang, walau tuan teramat kuat, tapi apakah anda yakin bisa mencari semesta mereka dengan pasti?" tanya penjaga.


"Kau pikir aku sudah menjadi pengawal kerajaan berapa tahun? aku sudah tahu jika Dorman ini tidak mati, dia hanyalah pergi dan memindahkan semua energi kekuatan Golden Orb ini ke suatu semesta lain. Entah apa yang dia rencanakan."


"Dan juga hanya aku yang tahu karakteristik semesta yang menyimpan kekuatan Golden Orb ini" jelas Ferus sembari meninggalkan penjaga itu.


"Baiklah jika itu yang tuan mau, aku permisi dulu"


"Baiklah, jadi alam semesta mana yang perlu kucari?" ucapnya diluar angkasa.


***Di Semesta Katsura***


Waktu telah berlalu 1 hari dan Katsura sedang sarapan di kantin.


"Hei Katsura, kata Arizawa kita akan mengunjungi makam para anggota yang telah tiada, kau harus ikut" ucap Zeldris sambil memakan roti.


"Oh ya? jam berapakah itu" balas Katsura yang mulutnya penuh makanan.


"Katanya kita pergi jam 9 Pagi, kau cepatlah makannya, ini sudah jam 8, akan ku tunggu di depan gerbang ya" ucap Zeldris sembari memakan seluruh rotinya dan pergi meninggalkan Katsura.


"Mengapa baru sekarang diberi tahu nya ya? ah sudahlah, aku akan cepat."


Setelah Katsura selesai sarapan, dia melihat jam masih jam 08:10 dia memutuskan untuk membeli beberapa bunga.


"Hmm tidak ada seseorang, baiklah saatnya aku pergi" ucap Katsura.


"Kira-kira aku akan membelikan bunga apa, ya? Herald suka dengan warna biru, mungkin kubelikan bunga lili biru saja.."


"Namun mawar merah juga bagus, apa kubeli dua dua nya saja ya?" ucapnya sambil menghitung uang yang dia bawa.


"10,30,70.. aku punya 70 ribu... tidak akan cukup untuk 1 buket bunga. Aku belikan yang satuan saja mungkin ya?"


"Katsura? sedang apa dia disini? bukannya Arizawa menyuruh untuk kumpul di gerbang, ya?" kata Feria yang lagi berjalan disekitar situ.


"Ah ku ikuti saja deh dia"


"Baiklah kuputuskan untuk membeli 2 tangkai bunga yang besar saja, mungkin cukup" ucap Katsura sambil masuk ke toko bunga.


"Katsura ingin membeli bunga? untuk siapa?! apakah dia punya pacar atau semacamnya?!?!" tanya Feria yang ada dibalik tiang listrik.


"Yah.. lagian kalau dia punya pacar juga memangnya aku ini siapa.. aku hanya teman di organisasi."


Setelah beberapa saat kemudian Katsura keluar dan membawa 2 tangkai bunga, 1 Mawar Merah dan 1 Lili Biru dan tak sengaja menemukan Feria yang sedang mengumpat.


"Eh Feria? apa yang kau lakukan disini?" tanya Katsura.


"Eh? aku? kok kamu tahu aku ada disini?" tanya Feria.


"Iya dong, omong-omong kau sedang apa disini? apa kau ingin membeli bunga juga?"


"Eh? tidak kok.. kamu membeli bunga itu untuk siapa?"


"Aku mau memberi ini di makam Herald, dia menyukai warna biru jadi kubelikan bunga lili biru."


"Untuk Herald juga, aku berpikir kalau 2 warna akan bagus"


"Oh begitu ya... aku salah paham ternyata" ucapnya dalam hati


Lalu waktu berlalu ke jam 9, melihatkan makam anggota Viper yang telah tiada.


" Korga Soranta


Felix Alonso


Toshi Arizawa


Tooru Kasigawa


Herald Finddor "


"Perjuangan kalian kami hargai, dan akan kami kenang sebagai pahlawan, terimakasih telah bergabung dengan organisasi ini. Jika tidak ada pengorbanan kalian mungkin kita semua telah tiada" ucap Arizawa.


Angin kencang meniup membuat suasana menjadi semakin tegang dan langit mulai mendung.


"Letakan satu tangan kalian di pundak, ini sebagai penghormatan kepada mereka" seru Homura.


Setelah beberapa jam disana akhirnya mereka bubar juga dan kembali ke markas, namun sebelum kembali Katsura menanamkan bunga Lili Biru di makam Herald. Lalu dia mengingat sesuatu.


"Aku benci sesuatu berwarna merah, mengingatkan ku pada jasad ibuku"


Kata Herald dalam ingatan Katsura


"Baiklah Herald, sampai saat ini pun kau membantuku memilih pilihan, mungkin Mawar Merah ini akan ku simpan di kamarku saja, Terimakasih sekali lagi, Herald"


"Hei Katsura ayo pulang, keburu hujan" ucap Feria dibelakangnya.


"Iya aku menuju kesana" balasnya.


1 Hari berlalu, Katsura memutuskan untuk ke sekolahnya lagi untuk mengambil surat putus sekolah.


Sesampainya disekolah dia dimarahi oleh bu guru.


"HEI KATSURA! KAU SUDAH BOLOS BERAPA BULAN, HAH?"


"Eh anu bu.. itu saya ada izin..."


"IZIN APA? IBU TAK PERNAH MENDAPATKAN SURAT IZIN DARIMU!"


"Ahh, baik bu saya minta maaf, kalau bisa aku ingin putus sekolah saja, aku ingin fokus berlatih seni bela diri"


"Putus sekolah? kau tidak akan bisa dengan tugas mu yang bolong-bolong itu, lagipula bulan depan kau kenaikan kelas. Kau bebas menentukan pilihanmu setelah naik kelas."


"Ini, Daftar nilaimu yang bolong-bolong, ibu kasih waktu 2 bulan jika ingin naik kelas, kerjakan ya" ucap Ibu guru sambil meninggalkan Katsura depan kelas.


"Ahh tugas lagi tugas lagi, baiklah akan ku kerjakan"


Waktu menunjukan pukul 13:20 Hari mulai mendung kegelapan serta diiringi dengan gerimis kecil-kecil.


Terlihat Feria yang sedang berjalan didepan Katsura.


"Heii Feria, sedang apa kau disini?"


"Ah halo Katsura, aku sedang menunggu bus untuk ke kantor ibuku."


"Oohh begitu ya, aku ada sesuatu untukmu. Ini bunga Mawar Merah ambillah, kuberikan saja untukmu"


"Eh? EH EH EH EH? EHH?" ucap Feria dalam hati


"A-apakah boleh? itukan buat Herald"


"Aku baru ingat, Herald benci warna merah, kamu kan suka warna merah jadi kuberikan saja untukmu"


"Terimakasih ya Katsuraa!!" balas Feria dengan tersenyum bahagia


"Ya sama-sama, omong-omong aku pergi dulu, daah!"


Feria mengenggam Mawar itu di dada sambil tersenyum sendiri dan mengatakan "Gilaa.. dia selalu saja bisa membuatku tergila-gila."


"Hujan.. jika ke markas Viper akan butuh setengah jam.. Oh ya! aku bisa kerumah dulu, aku akan mengunjungi ibu dulu, baru aku ke markas Viper lagi" ucapnya sambil berjalan ke arah utara.


Tak lama kemudian dia hampir sampai di komplek perumahannya, namun dia pergi ke lapangan di dekat situ, dia mengingat saat bermain basket dengan Herald.


"Apakah kau yang bernama Katsura Laith?" ucap seorang pemuda dibelakang Katsura.


Postur pria itu ramping dengan menggunakan jas warna abu-abu serta warna rambut yang coklat dan warna mata yang keemasan.


"S-Siapa kau? aku merasakan tekanan yang sangat mencekam dari dirinya" ucap Katsura dengan wajah pucat.


Hujan yang deras turun menggenangi lapangan.


"Aku? Baiklah akan ku perkenalkan diriku.. Aku adalah Dorman Akami"


"Aku disini untuk membuktikan apakah kau layak untuk ini. Aku berusaha membuktikan yang dibilang dalam Ingatan ku ini"


"Katsura! Bertarung lah melawanku!"


Bersambung....