Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 92



Namun, dibalik mereka yang sedang bercandaan hingga penarikan rambut, ada yang sedang mengintai mereka bertiga. "Yang cucunya iblis yang mana Mel?", tanya laki-laki itu kepada bosnya yang tak lain adalah Vian dan Rizal, musuh terbesar anak IFA Club.


"Cewek yang rambutnya diiket!. Tugas kalian adalah, deketin dia, dan bikin dia hancur sama kayak gue!. Tapi inget!, jangan sampe kalian berdua bener-bener jatuh cinta sama dia!", tegas perempuan bos mafia itu.


Senyuman licik terlihat di wajah perempuan sadis itu. Hati-hati Arra, keselamatan mu akan terancam. Kebahagiaan masih belum berpihak padamu. Masih banyak rintangan yang harus kamu hadapi. Harus kuat Arra, Fighting!.


Pindah Lolita...


Karena kebetulan hari itu adalah hari libur. Kebetulan libur karena guru-guru rapat ke dinas kecamatan. Banyak orang-orang yang sedang berolahraga di lapangan Kota IJAS.


Ada yang sedang lari Jogging, Bersepeda, dan yang lainnya. Ada juga yang hanya ingin menikmati indahnya pagi hari dan segarnya udara pagi di lapangan Kota IJAS yang bersih itu.


Begitu juga dengan Lolita, ia sedang berlari sembari mendengarkan musik menggunakan earphones nya. Ia terlalu menikmati lagunya hingga ia tak tau kalau ada orang di depannya. Dan benar Brakkk.... ia terjatuh menabrak seorang laki-laki dengan tinggi 184 cm. Yang tak lain adalah Jino, orang yang selama ini selalu mengejarnya secara diam-diam.


"Aduhh maafin gue yaahh, gue nggak sengaja nabrak lo. Gue bener-bener minta maaf yaah", ucap Lolita memohon kepada Jino. Biasanya jika ada orang yang dengan sengaja maupun tidak disengaja menyenggol Jino, pasti Jino langsung marah. Namun, mungkin karena ini Lolita jadi dia tak marah. Kan Lolita lope lopenyaa...


"Ohh iya iyah nggak apa-apa. Emm, lu nggak kenapa-kenapa kann??. Nggak ada yang luka kan??", tanya Jino mencari apakah ada yang luka di tubuh Lolita. "Nggak kok. Auww..., sakit", jawab Lolita mengaduh karena tak sengaja Jino menyentuh siku Lolita yang sedikit tergores.


"Tuhh kann, katanya nggak kenapa-kenapa".


"Nyepelein banget...", tiba-tiba Jino menggendong Lolita dan membuat jantung Lolita berdegup dengan sangat kencang.


"Kira-kira jantung gue kenapa-kenapa nggak yaah??. Duhh Jino ngapain pake gendong gue segala siih??, gue deg-degan banget lagii", batin Lolita. Jantung Lolita berdetak semakin kencang dengan bertambah karena Jino terus-terusan menatap wajah Lolita.


Jino juga merasakan hal yang sama seperti Lolita. Apalagi Jino kan yang duluan suka sama Lolita. "Bahkan dia lebih cantik dari sebelum dia deket sama gua. Gua harap lu tau perasaan gua Ta", pikir Jino yang masih terus menatap wajah cantik Lolita.


Setelah lama mereka berdua saling bertatapan, akhirnya Jino membawa Lolita pergi ke tempat P3K yang disediakan di pos pinggir lapangan Kota IJAS. "Udah biar gue yang ngobatin sendiri ajah Jin, makasiih yaah udah mau nolongin gue", ucap Lolita sambil tersipu malu, pipinya merah gaess...


"Beneran nggak apa-apa?. Yaudah kalo gitu, gua tunggu di luar yaah", jawab Jino. Dan Jino pun keluar dari pos itu dan menunggu Lolita di luar pos.


Beberapa lama Jino menunggu Lolita, karena memang di dalam banyak orang sedang antre untuk mendonorkan darahnya. Jino terlihat sedikit bosan menunggu Lolita. Sesekali ia melihat hpnya, menengok ke kanan dan ke kiri.


Tak sengaja tiba-tiba Jino melihat seorang perempuan yang benar-benar ia kenali, tapi kayaknya musuh dehh. Jino mempertajam pandangan itu. "Itu kann...",


BERSAMBUNG...