
"Aris?, lo kok ada disini siih?", tanya Viola dan langsung melepaskan genggaman tangan dengan Rifky. "Kenapa?, kalian berdua kaget?. Lu tau Vi?, gua sakit hati!, ternyata selama ini lu khianatin gua yah!. Dahlah!, kita putus ajah!", ucap Aris dan langsung pergi. Diikuti dengan Rifky.
.
.
Aris pergi berjalan menuju mobilnya, ia hendak membuka pintu mobilnya namun sama sekali tak bisa terbuka. "Ris.. Ariss..", panggil Rifky. "Apa sih!. Udahlah gua nggak percaya sama lu lagi!", jawab Aris emosi. "Bukan itu!, tuh mobil gua!", ucap Rifky.
"Ooh!".
"Aduhh malu beud gua!. Njirr ngapain jadi gini siih!!", pikir Aris. Mereka berdua meninggalkan asrama itu.
.
.
.
Dennis dan Arra sampai di sebuah festival makanan dan aneka aksesoris. "Waww... Festival, suka banget", ucap Arra melihat sekeliling. Tempat itu begitu ramai dan di penuhi dengan berbagai macam barang dan makanan yang dijual.
"Suka nggak?", tanya Dennis. "Suuuukaaa banget", jawab Arra dengan senyuman manisnya. "Kita mulai dari mana yaa??". Tiba-tiba Dennis menggandeng tangan Arra. "Kita mulai dari sini", ajak Dennis ke pedagang pertama.
"Nihh, lu suka drakor kan. Lu pasti suka sama semua makanan ini. Aneka makanan khas Korea Selatan", kata Dennis. "Wawww, enak banget makanannya. Nihh lo coba Den", Arra menyuapkan makanan ke mulut Dennis. "Bahkan saat lo buka mulut lebar-lebar pun, lo masih ganteng..", pikir Arra.
.
.
Cukup lama mereka berdua berjalan-jalan dan berkeliling di festival itu, maka sampailah pada pedagang terakhir. "Lu tunggu sini yaa", ucap Dennis. Arra pun mengangguk paham.
Dennis menghampiri ke satu penjual aksesoris itu. "Ini berapaan Nek?", tanya Dennis kepada si nenek penjual itu. "Tujuh ribu", jawab Nenek itu. Dennis pun mengeluarkan uang satu lembar lima ribuan dan satu lembar dua ribuan. "Ini yaa Nek, makasii". Namun, saat Dennis baru saja membalikkan badanya untuk pergi tiba-tiba Nenek penjual itu mengatakan sesuatu. "Hati-hati naak. Setiap kali kamu ingin memulai sebuah hubungan dengan wanita yang sekarang bersamamu, kamu pasti akan selalu mendapatkan masalah. Namun, hubungan kalian tak akan runtuh, meskipun pernah ada kata perpisahan. Dan jauhi wanita lain selain wanita itu, karena jika kamu melanggar ini, kamu akan mendapatkan sebuah kesialan yang amat sangat fatal", ucap Nenek penjual itu.
"Seperti tukang sihir", pikir Dennis dan kemudian menghampiri Arra.
"Udah Den?", tanya Arra. "Udah", jawab Dennis. Namun, pikiran Dennis masih tertuju pada nenek tua itu. "Apa yang bakalan terjadi di antara hubungan gua sama Arra?", pikir Dennis.
"Yaudah yukk kita pulang", ajak Dennis karena memang hari sudah sore. "Hari ini anterin gue pulang ke rumah ajah yaah, gue kangen sama Mamah gue", pinta Arra. "Ntar kalo ada Aris?", tanya Dennis menghawatirkan pacarnya itu. "Biarin laah, ya kalo dipikir-pikir, ngapain gue takut sama Aris. Kan gue seniornya, ya kan hehehe", jawab Arra.
.
.
.
Jalanan cukup macet, sehingga membuat Lusi sangat terlambat untuk bertemu dengan Amel. Untung saja, Amel masih berada di depan Asrama itu. "Maafin yah kak Amel, Lusi terlambat", kata Lusi. "Udah nggak usah minta maaf, nggak papa kok, yuk kita masuk", ajak Amel sambil merangkul pundak Lusi.
.
.
"Yaudah kak, sampai jumpa lagi yaa", kata Lusi berpamitan. "Lo mau kemana Si?", tanya Amel. "Lusi penasaran sama pemandangan dari lantai atas. Soalnya patung Queen of Chastity's Light katanya bagus banget kalo lagi waktu malem", jawab Lusi. "Ooh yaudah kalo gitu, dadahh ati-ati yaah", ucap Amel.
.
.
Amel sampai di lantai paling atas. Filing nya sudah tak enak. Sedari tadi seperti ada yang sedang mengikutinya.
Tiba-tiba ada yang menancapkan ke punggung Lusi hingga Lusi tak berdaya untuk berdiri. Saat Lusi hendak membalikkan badan untuk melihat siapa pelaku yang melakukan hal yang tak terduga kepadanya. Namun, Pisau yang tertancapkan di punggung Lusi ditarik oleh si pelaku itu. Pisau itu kembali di tancapkan di kepala Lusi bagian kiri.
Belum cukup rasa sakit yang diterima Lusi, pelaku itu pun mendorong Lusi dari lantai atas itu. "Aaaaaaaaaa!!!", teriak Lusi menjerit kesakitan. Lusi pun mendarat di patung kesucian. Benar-benar menyakitkan, terlebih lagi punggung yang sudah tertusuk, kembali tertusuk pada mahkota tajam pada patung Queen of the Chastity's light.
Seseorang menjerit saat melihat kejadian seperti itu. Demi menghilangkan jejak, pelaku membius saksi itu dan menyeretnya keluar dari asrama itu lewat pintu belakang.
.
.
Amel yang merasa filing yang tak enak, langsung pergi ke lantai atas. Sesudah ia sampai, ia langsung tertuju pada lumuran darah di lantai itu. Ia begitu terkejut saat melihat sahabatnya telah terjatuh dan tertancap pada patung tajam itu.
.
.
.
BERSAMBUNG...