Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 117



"Inget Den... Jaga harga diri lu, jangan sampe Arra tau kalo lu suka sama dia. Lu harus inget kalo lu itu lagi acting jaim sama Arra", batin Dennis. Dennis melepaskan genggamannya. "Yaudah kalo gitu, gue ke kamar duluan yaa", pamit Arra sedikit grogi. "Ke kamar duluan?, emang kita satu kamar?", tanya Dennis sok polos. "Nggak, maksudnya gue ke kamar gue duluan, ehh maksudnya gue pulang, ehh apa siih. Ahh itu dehh pokoknya, anuu-".


"Masuk ke kamar sendiri maksudnya?", potong Dennis membenarkan kata-kata Arra. "Nahh iya ituu, yaudah yaah dahh", jawab Arra dan ia pun pergi menaiki tangga menuju ke kamar pribadinya.


"Ihhhhh, gue ngapain grogi siih depan Dennis. Selalu ajah kek gini, dikira salting ntarr. Kenapa gue nggak bisa biasa ajah gitu di depan Dennis, nggak usah sok gagu, kek orang nggak normal tauuu. Ihhh nyebelin dehhh!!", gerutu Arra sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Kenapa Ra?, kepalanya sakit?", tanya Rifky yang kebetulan berpapasan dengannya. "Hah??, nggak kok, nggak kenapa-kenapa hehehehe. Cuman kek aneh ajah, kek pengen mukul kepala sendiri gitu. Ngerasa kek otaknya geser jadi gue lagi benerin otak gue biar kek semula lagi", jawab Arra bercanda. Rifky tertawa kecil mendengar candaan Arra. "Lu mahh bisa ajah bikin orang lain ketawa", ucap Rifky.


"Ehh lo nggak tau yaah Ky?. Seseorang yang ingin mencoba atau membuat orang lain tertawa itu pahala gede tauu. Apalagi ngehibur orang yang lagi sad kek lo, ehh canda SadBoyy hahaha. Ehh tapi lo tau nggak Ky?, biasanya orang yang bisa menghibur orang lain, itu orang yang paling pendiem. Dia bisa nutupin penderitaanya dengan cara membuat orang lain tertawa", jawab Arra.


"Iya juga yaah, tapi kek nya lu nggak punya beban hidup dehh", ucap Rifky lagi. "Enak ajah, lo belum tau gimana beban kehidupan gue selama ini, atau bahkan suatu hari nanti, lo bakalan tau gimana susahnya hidup jadi orang kek gue. Secara kan gue anak tengah, dan anak tengah lah yang selalunya jadi pelampiasan kekesalan orang tua", jelas Arra. Rifky merasa kagum dengan kata-kata, ucapan-ucapan Arra. "Lu bisa ngomong kek gini, seolah-olah lu adalah malaikat. Gua salut sama lu Ra, gua jadi tambah sayang sama lu", pikir Rifky sambil tersenyum di ujung bibirnya yang begitu manis, menambah ketampanan di wajahnya.


Pindah Ke Yang Lainnya...


Alice berjalan menuju ke atap gedung A-IJAS untuk mencari kesejukan. Hari itu memang terasa agak panas. Alice melihat sekelilingnya. Gedung A-IJAS sendiri memiliki 3 gedung yang tinggi, gedung di sebelah kanan memiliki 80 lantai, gedung di tengah memiliki 15 lantai yang cukup luas, dan di sebelah kiri memiliki 80 lantai juga sama seperti di sebelah kanan. Alice sendiri berada di atap gedung sebelah kiri.


Alice merasa seperti mendengar suara gerakan pisau yang tajam. Ia pun menengok ke arah sebelah kanan, tak ada seorang pun yang muncul. "Hemm, entahlahh palingan juga apaan", gumam Alice dan kembali menikmati udara malam di atap A-IJAS.


Tiba-tiba terdengar seperti suara sepatu hak tinggi yang berjalan elegan dari arah sebelah kanan. Alice pun kembali menengok ke arah tersebut. "Dia siapaa??, kok dia dari arah suara pisau tadi siih??. Terus juga, kok dia sendirian berani siih?", dalam benak Alice bertanya-tanya.


BERSAMBUNG...