Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 124



"Oke Miss lanjut lagi yaa. Selanjutnya, Meyka sama Nico, Tiara sama Rizal, Amel sama Raffa, Viola sama Rifky, Melitha sama Vian, Lolita sama Jino, Layla sama Rio, Angelica sama Very, Dona sama Evan, Cindy sama Gilang, Reva sama Adit, dan yang terakhir Arra sama Dennis", lanjut Miss Dianti.


"Yess, untungnya gue yang dipilih buat duduk sebangku sama Raffa, jadi gue bisa selidikin Raffa sama Lolita. Ada apa ya malem itu?", batin Amel sambil terus melihat setiap gerakan Raffa.


.


.


.


Semua siswa sudah duduk, kecuali Adit dan Reva. Mereka berdua masih berdiri, dan saling menjauh. "Kalian berdua, kenapa masih berdiri?, ayo duduk di tempat kalian", ucap Miss Dian. "Maaf Miss, bukannya saya nggak patuh sama perintahnya Miss, tapi saya nggak mau duduk sebangku sama Reva Miss", jawab Adit. Reva langsung menoleh dengan perasaan takut.


"Lho kenapa?", tanya Miss Dian. "Heh Adit!, lo nggak usah sok jadi Seok-Hoon sama Eun-Byeol lahh!. Tinggal duduk doang, apa salahnya siih?", ujar Kinnara. "Ya emang bener siih Kin, kan Adit calon Pianis, terus Reva kan calon penyanyi seriosa alias penyanyi sopran. Jadi mereka berdua ngerasa kek jadi Ro-Na sama Seok-Hoon, hahahaha", tambah Dona ikut meledek Adit dan Reva.


"Ohh gitu ya?. Yaudah kalian duduk ajah, nggak usah malu-malu yaah. Ayo duduk, Adit, Reva", perintah Miss Dian. Akhirnya dengan terpaksa Adit dan Reva pun mau duduk sebangku. "Nggak papa, masih ada jalan lain buat deketin Meyka", dalam hati Adit.


.


.


.


Arra mengeluarkan bolpoin nya dari tasnya. Namun, tiba-tiba bolpoin itu terjatuh dan menggelinding hingga ke bawah meja Vian. "Arghhh!!, napa harus jatohnya ke bawah mejanya Melitha sama Vian siih!!. Males banget dehh!!", batin Arra sambil memutarkan matanya.


Arra berjalan dengan santai ke arah meja Vian dan Melitha. Arra langsung menunduk ke bawah meja dan tiba-tiba krkkk... Tangan Arra dan tangan Vian saling bersentuhan, sama-sama ingin mengambil pulpen itu. Sedikit lama hingga mereka saling berpandang-pandangan. "Ehh Sori", ucap Vian sambil menarik tangannya. Arra pun sedikit tercengang.


Saat Arra hendak berdiri tak sengaja tiba-tiba kepalanya kejeduk meja. Drrr..., "Auwwww!!", teriak Arra, sontak membuat anak-anak lain menoleh ke arah Arra. Tiba-tiba teman-temannya tertawa melihat kejadian itu. "Ihhhh bukannya nolongin apa gimana kek!!. Malahan diketawain, huh!! dasar durhaka kalian!!!", ujar Arra sambil terus memegangi kepalanya yang sudah agak memerah.


Vian ikut menertawakan Arra. "Ihh apaan siih kalian!, heh Vian!, lo nggak usah ikut-ikutan ngetawain gue yaa!", ucap Arra kesal. Ia pun kembali ke bangkunya dengan perasaan marah. Ia terus memegangi kepalanya.


"Lu ngapain ke sana?", tanya Dennis dingin. "Hah?, ini ngambil pulpen, tadi jatoh ke bawah mejanya Vian", jawab Arra terlihat biasa saja. Tatapan Dennis terlihat berbeda. "Lo kenapa Den?, lo cemburu?. Hahaha, nggak usah cemburu kalii, gue juga nggak ngapa-ngapain sama Vian", ucap Arra. Namun Dennis seperti tak mendengarkan kata-kata Arra, ia terus fokus menatap wajah Arra dengan pandangan sinis.


"Udah siih kali, ngeliatin gue kek gitu banget. Udahlah lo nggak usah cemburu, hahaha", ledek Arra lagi. "Nggak kok!, gua nggak pernah cemburu sama lu!. Lagipula kita bukan siapa-siapa, kita cuman sebatas teman sebaya, dan kita juga cuma sebatas sodara sepupu. Nggak usah baper sama kebaikan gua", ujar Dennis.


"Dennis?, kenapa dia ngomong kek gitu sama gue?. Apa yang dia omongin itu emang bener?. Perasaan dia selalu berubah-ubah, nggak pernah netep satu kalimat", batin Arra.


BERSAMBUNG....