
Istirahat...
Rifky duduk sendirian di kantin. Evan datang dan duduk di depan Rifky. "Udah selesai ngerjain soalnya Van?", tanya Rifky. "Em, udah. Sumpah Ky, susah banget soalnya", jawab Evan sambil mengeluarkan sepucuk kertas. "Kertas apaan tuh?", tanya Rifky. "Hah?, ohh ini?. Ini surat titipan buat Arra. Biasa, dari Dennis", jawab Evan.
"Dari Dennis?", tanya Rifky, Evan mengangguk. "Sayang..", panggil Dona kepada Evan. "Oii, bentar yah Ky", Evan menghampiri Dona. Rifky tersenyum melihat mereka berdua yang kini jadi pasangan yang romantis.
"Ini surat apaan siih?", Rifky mengambil kertas itu dan membukanya. {Raa, maaf gua nggak bisa ngomong langsung. Tapi lu bisa nggak, sepulang sekolah, kita ketemuan di parkiran belakang sekolah. Pliss lu dateng yaah}.
"Dennis sama Arra lagi berantem?. Ini kesempatan buat gua!", pikir Rifky. Entah apa yang akan dilakukan oleh Rifky.
"Yaudah, sampai jumpa sayang", Evan kembali duduk di bangku sebelumnya. "Maaf yah lama", ucap Evan. "Iyah nggak apa-apa, oh iyah ini suratnya, tapi mau jatoh, takutnya ilang lho. Tuh Arra, kasih langsung ajah ke dia", ujar Rifky.
Evan mengangguk dan pergi menghampiri Arra. "Raa...", panggil Evan. Arra berhenti berjalan. "Kalian pergi dulu ajah yaah", ucapnya kepada teman lainnya. "Kenapa Van?", tanya Arra. "Nihh, ada surat dari Dennis buat lu. Baca yaah", Evan pun langsung pergi.
.
.
Rifky pergi mencari Lolita. "Biasanya juga dia nongol kalo nggak dicari.. Ehh itu dia.", gerutu Rifky. "Lolita", panggilnya dengan nada datar. Lolita menolehkan kepalanya. "Kenapa?", tanya Lolita.
"Gua punya tugas buat lu!", Rifky membisikkan sesuatu di telinga Lolita. "Gimana?", tanya Rifky. "Oke, gue setuju", jawab Lolita, dan ia pun langsung pergi ke kelasnya.
.
.
Bel Masuk Berbunyi...
"Arghhh!!, gua harus ngerjain tugas lagii!!!", teriak Vian. "Itulah.., mangkanya, kalo disuruh belajar, ya belajar. Jangan main game terus!, hahaha", ledek Rizal. "Enak ajah lu!. Gua nggak main game!", ujar Vian mengelak.
.
.
Lolita menghampiri Arra. "Raa".
"Iyah?, kenapa Ta?".
"Lo mau nggak bantuin gue?".
"Bantuin apa?".
"Gue banyak tugas, jadi mungkin gue nggak bisa piket ntar pulangnya. Jadi lo mau nggak, gantiin gue piket, ntar pulang sekolah?".
.
.
Pulang sekolah...
Dennis sudah berada di halaman parkiran belakang sekolah. Ia terus melihat jam tangannya. "Lama banget sihh Arra!. Mana udah sejam lagi gua nungguin!", gerutu Dennis. Ia mengacak-acak rambutnya.
"Lu lagi nungguin siapa Den?", tanya Jino. "Nungguin Arra, lu liat dia nggak Jin?", tanya Dennis. "Dia lagi piket tuh di kelas", jawab Jino santai. "Hah?, piket?. Kan dia piketnya barengan ama gua kan?", Dennis terlihat sangat kesal. "Ohh iyah juga yaah. Ehh tapi katanya siih dia tuh gantiin Lolita. Soalnya Lolita ada banyak tugas yang dia kerjain, jadinya nggak sempet deh piketnya", kata Jino.
.
.
"Duhh, gue udah telat nihh. Gue pulang duluan yaah Taa", pamit Arra. "Makasih yaah Raa", Lolita tersenyum jahat. Namun, ia tak tau, kalau sebenarnya Dona memperhatikan Lolita sedari tadi. "Ada yang nggak beres nihh sama Lolita!. Keknya dia sengaja ngelakuin hal ini deh!", pikir Dona.
.
.
"Yaudah kita pulang yuk!", ajak Dennis. "Lu nggak jadi nungguin Arra?", tanya Jino. "Nggak ahh, males banget!", ucap Dennis. Ia pun langsung pergi.
"Dennis...", teriak Arra. Dennis berhenti berjalan. Arra berlari menghampiri Dennis. "Maafin gue yaah Den. Gue telat, udah sekarang lo mau bilang apa ke gue?", ucap Arra. "Udah lupa!!", jawab Dennis jutek. "Den, lo marah yaah?", tanya Arra. Dennis menghela nafasnya.
"Ya siapa yang nggak marah coba!. Kita udah punya janji buat ketemuan di belakang sekolah, dan lu sengaja telat, dengan alasan ikut piket sukarela ke sahabat!. Gimana gua nggak kesel coba!!, gua udah nungguin lu lebih dari sejam, lu tau nggak sih??!!", ujar Dennis dengan nada marah maksimal.
"Ya tapikan dia sahabat gue Den, gue kasihan, dia itu lagi punya banyak tugas yang harus-".
"Iyah?, lu itu lebih takut sama sahabat lu?. Oke gue tau!, gua cuma pacar lu. Dan gua nggak ada hak buat ngatur kehidupan lu!", ujar Dennis. "Ya nggak kek gitu Den.., yaudah maafin gue. Yaudah kita ketemuan nanti malem di taman", ucap Arra. "Oke!, jangan sampe telat lagi!", jawab Dennis dan langsung pergi.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...