
Kini hanya tinggal Aris dan Vionna. Jalanan terlihat hanya beberapa mobil dan motor yang lalu-lalang.
Seperti suatu kebanggaan Aris bisa melepaskan tangannya dari genggaman Vionna yang menjadi suatu neraka baginya. "Ihhh... Kenapa siih Ayanggg", tanya Vionna dengan nada suara orang teler.
"Apaan siih ayang-ayang, emang gua lagi bau apa??. Ehh itu mah Ayam kali yahh", jawab Aris sedikit membentak membuat Vionna seperti ketakutan akan suaranya.
Vionna akhirnya berjalan sendiri, namun karena kadar alkohol dalam tubuhnya masih tinggi, jalan Vionna masih sempoyongan. Hingga ia hampir saja menabrak pembatas jalan. Tapi untungnya Aris dengan sigap langsung menahannya agar tak jatuh.
"Aduhh Naa. Lu tadi minum berapa botol siih??. Udahlah mendingan gua gendong ajah yukk", Aris merendahkan badannya. Dan langsung saja, plukk... Vionna tanpa menjawab langsung memeluk Aris dari belakang. Dan Aris pun menggendongnya.
.
.
.
.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai ke rumah Vionna. Vionna terlihat sudah agak sadar. "Udah nyampe Na", ucap Aris sambil menurunkan Vionna dari gendongannya. Vionna sangat terkejut saat melihat bahwa yang ada di depannya atau lebih tepatnya yang menggendongnya adalah Aris, laki-laki yang ia perebutkan dengan saudari kembarnya.
"A..A..Ar..Aris..??", tanya Vionna terbata-bata. "Iyah kenapa Na?. Lu udah agak sadar??", Aris bertanya balik. "U..Ud..Udah... Emm... Maafin gue yahh Ris", Vionna terlihat begitu malu saat Aris bertanya apa dia sudah sadar.
"Hah??, berarti Aris tau dong kalo gue itu mabuk. Ya pastilahh... Kan dia yang gendong gue, masa dia nggak tau siih", batin Vionna penuh rasa malu. "Maaf buat apa??. Nggak apa-apa kok Na, itu udah jadi tanggung jawab gua sebagai cowok. Kalo ada cewek yang jalannya sempoyongan abis mabuk itu gua harus bantu jalan sampe ke rumahnya dong. Masa gua tinggal di jalanan. Kalo sampe kenapa-kenapa gimana, kan kasihan orangtuanya", jawab Aris.
"Jangan baper... Jangan baper... Jangan baper, pokoknya jangan baper, dia itu ngomong begitu cuma karena dia punya rasa kemanusiaan terhadap orang lain. Siapa tau lo itu orang yang sekian kalinya diomongin kek begini ama dia", batin Vionna.
.
.
.
.
Esok hari...
Hari sudah berganti pagi. Pagi itu matahari bersinar lebih cerah. Burung-burung berkicauan disertai langit biru seakan tak ada awan.
Dennis terbangun dari tidurnya oleh cahaya sinar matahari yang menyilaukan matanya. Bu Meina membuka jendela yang tepat di samping kiri ranjang Dennis.
"Dia kok masih disini?, katanya tadi malem mau pulang?, alahhh dasar dia mahh takut aslinya mau ninggalin gua sendirian di rumah sakit", pikir Dennis sembari mencoba untuk duduk.
"Nggak usah duduk, udah tiduran ajah, bentar lagi Dokter kesini", ucap Bu Meina menahan Dennis duduk. "Katanya tadi malem Bund amya pulang?. Ehh nggak taunya masih disini, nggak tega yaa liat aku disini sendirian?", tanya Dennis dengan nada sedikit mengejek.
"Nahh itu dokter dateng", jawab Bu Meina mengalihkan pembicaraannya. Memang benar, Dokter Melanie masuk ke ruangan Dennis dengan senyuman manisnya. Terlihat gigi gingsulnya yang cantik menambah keindahan di wajahnya.
BERSAMBUNG...