Dennis Arra

Dennis Arra
EPISODE 151



"Keknya ada yang mencet bel rumah kita ya?". Bu Erica memeriksa pintu depan rumahnya. Tak ada siapa-siapa, namun terlihat ada sebuah tekukan kertas yang mirip seperti surat.


"Kertas apa ini?".


Bu Erica penasaran dan membuka surat itu. Dan..


.


.


.


"SIALAN!!, kok bisa-bisanya dia kabur siih!!!. Kalian buta apa gimana siih!". Melitha terlihat sudah sangat emosi dengan apa yang terjadi.


"Kalo kek gini jadinya, gagal semua rencana gue kan jadinya!. Kalian bener-bener pengen gue hajar apa gimana?!", bentak Melitha.


Semua barang yang ada di atas meja di depannya dipecahkan oleh Melitha. Terlihat seperti orang kesurupan. Tak terkendali.


"Tapi tadi saya liat mba Viola masuk ke mobilnya Mas Vian, Nona", ucap salah satu anak buah Melitha. "Hah?!".


Melitha segera menelfon Vian untuk memastikan apakah benar jika Viola saat ini tengah bersamanya.


"Awas lo Yan kalo sampe lo nggak angkat telfonnya!", tak diangkat.


Lagi-lagi panggilan dari Melitha tak juga diangkat oleh Vian. "Anj*ng!!, sialan tuh bocah!. Damn it!!", Melitha terus mengumpat.


Hingga pada panggilan keempat terdengar HP Vian sengaja dimatikan. "Malahan dimatiin hpnya!. Rizal!, cepet cari temen lo!. Cari sampe dapet!". Rizal pun mengangguk setuju.


.


.


.


PAGI HARI...


Arra turun dari kamarnya menuju meja makan. Di meja makan terlihat sudah ada 2 orang yang sudah bersiap untuk makan. Kini anggota keluarga mereka hanya bertiga, karena kakak perempuan mereka beserta putra mereka harus ikut sang suami bekerja di luar negeri, sedangkan sang Papah harus bekerja di luar kota.


Arra terlihat tak semangat saat berjalan menuju meja makan. "Ayo sini sayang, kita sarapan bareng", ajak Bu Erica kepada putri kecilnya.


Bu Erica merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan putrinya. "Arra?.. Kamu kenapa sayang?, kok diem ajah siih", tanya Bu Erica.


"Mamah diem ajah, dia itu sekarang lagi ngerasain apa yang aku rasain", ujar Aris.


"Cukup Riss", ucap Arra dengan nada pelan.


"Sekarang lu harus membayar semuanya dengan kesedihan juga!".


"GUE BILANG CUKUP ARIS!!!", Bentak Arra. Bu Erica cukup terkejut dengan nada bicara Arra yang sangat keras dan tinggi.


"Lo ngga pernah ngerasain apa yang gue rasain kan Ris!. Apa siih yang udah gue lakuin?, apa siih salah gue Ris!. I don't know all that, Aris!. Semua itu bukan kesalahan gue Aris!", ucap Arra dengan air mata yang tiba-tiba menetes dengan derasnya.


"Hah?, lu bilang itu semua bukan kesalahan lu?. You stupid!. Kalo lu ngga bilang ke Viola, Viola ngga bakalan hilang gini!!", Aris balik membentak Arra.


"Gue bilang apa ke Viola, Ris?. Hah?, gue bilang apa ke dia?", Arra terus membela diri.


"Bukannya lo semua berantakan itu karena kesalahan Viola?. Sebenernya lo itu lebih milih Viola atau Vionna siih?", Arra tiba-tiba mengungkit sesuatu di masa lalunya.


"Haha!, ngelantur lu ya?!. Kalo lu ngantuk, ngga usah keluar, di kamar ajah lu!. Dasar tol*l!!", ujar Aris.


"Udah cukup kalian berdua!". Bu Erica akhirnya berhasil mendapatkan perhatian mereka berdua.


Arra langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


.


.


.


Di Sekolah...


"Raa.., kok lo diem ajah siih?. Ahh ga asik kalo Arra diem ajah", ujar Kinnara. Arra menghela nafasnya.


Arra tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Dennis. Arra langsung berdiri. "Ra.. Gua mau ngomong sesuatu sama lu". Arra hanya menatap mata Dennis tanpa menjawab kata-kata Dennis.


"Omo omo, lo mau ngajak Arra buat balikan lagi sama lo ya Den?. Hahahaha", ujar Dona.


"Kalian ngga usah ikut campur bisa ngga siih?!", ucap Dennis sok cool.


"Cepet!, lo mau ngomong apa?. Gue tungguin dari tadi lo mau ngebacot apaan!", ujar Arra dengan nada sedikit emosi.


"Kita ngomongnya disana ajah ya", ajak Dennis menggandeng tangan Arra.


Seketika Arra langsung melepaskan genggamannya. "Ga usah digandeng juga gapapa kan?, gue juga bisa jalan sendiri kali!".


.


.


.


"Cepet lo mau ngomong apa?", ucap Arra yang kini sudah terlihat muak dengan wajah Dennis Dulu maahh iya dipuja-puja terus.


"Tadi malem gua liat ada Lusi di depan rumah lu, Raa".


"Terus?, emangnya kenapa?", tanya Arra biasa saja.


"Ya gua ngga mau kalo sampe ada yang ngira atau tau kalo lu itu penyebab kematiannya Lusi".


"Hah?!, lo nuduh gue sebagai penyebab kematian Lusi?".


"Bukan gitu, Raa. Biar gua jelasin dulu".


"Jelasin apa siih?. Gue kira cuma sifat lo ajah yang buruk, tapi ternyata otak lo juga buruk!", ujar Arra.


"Raa, gua bisa jelasin maksud kata-kata gua, Raa".


"Apa siih?, mau lo apaan siih Den?. Apa siih maksud lo?".


"Itu semua karena gua sayang sama lu, Ra!. Gua ngga mau ada yang nyeret lu ke kasus ini, gua ngga mau nama baik lu hancur cuma gara-gara ini, Raa", jawab Dennis.


"Ngga usah bawa kata-kata sayang juga bisa, kan?. Lagian kan mau gue ikut keseret kasus pembunuhan Lusi kek, mau nama baik gue hancur gara-gara kasus ini kek, itu bukan urusan lo kan, Den?".


"Oke…Oke…, gua ngga bakalan ikut campur urusan ini. Tapi asal lu tau Raa, gua juga pernah jadi cowo lu, jadi wajar dong kalo gua peduli sama lu".


"Cuma pernah ajah, kan?. Bahkan kalo pun kita udah resmi nikah terus kita cerai, urusan gue udah bukan urusan lo lagi!".


"Ya tapi kan gua pernah jadi cowo lu. Masa lu lupa dulu kita pernah-".


"Stop!…Stop, Den!. Gue inget semuanya kok. Gue bahkan inget waktu lo merendahkan gue di depan semua siswa SMA IJAS!. Gue inget, kalo hubungan kita hancur cuma gara-gara lo percaya sama video palsu antara gue dan Rifky!. Lo tau ga siih Den, kalo fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?. Dan bahkan orang yang percaya sebuah fitnahan itu orang yang bodoh!", terang Arra sambil meneteskan air matanya


"Ohh jadi lu ngatain gua bodoh, Ra?", tanya Dennis pelan.


"Iyah!, gue ngatain lo bodoh, dan sebodoh-bodohnya orang paling bodoh!. Lo itu kenapa siih Den?, kenapa lo jadi gini?. Gue kangen Dennis yang dulu, yang selalu ada disaat gue terpuruk, bukan yang nambah gue jadi terpuruk disaat gue lagi terpuruk-terpuruknya", jawab Arra terus menangis.


Sudah tak tahan, Dennis pun memeluk Arra dengan erat. Tak terasa Dennis pun ikut menangis karena kata-kata yang keluar dari mulut Arra.


.


.


.


.



BERSAMBUNG...