
"Raffa??". Raffa langsung melepaskan Lolita dan menghampiri Amel. "Ini nggak seperti yang lu pikirin kok Mel", ucap Raffa sambil memegangi tangan Amel.
Lolita menghampiri mereka berdua. "Sama kayak pikiran Amel juga nggak papa kok Faa", ujar Lolita. "Hah?, maksudnya?", tanya Amel penasaran. "Iyah, maksudnya itu ntar-ntarnya juga masa depan Raffa itu ditentuin sama mamahnya, dan udah jelas. Kalo masa depan Raffa itu adalah gue", jawab Lolita.
"Wahh Wahh Wahhh. Lo nggak sadar ngomong kek gitu yaa Ta?. Heh Lolita!, jangan sampe bikin hubungan mereka hancur gara-gara lo lho Taa!!", ujar Cindy. Amel masih terdiam, ia mencoba menahan emosinya. "Apa siih maksud Lolita?", tanya Amel dalam benaknya.
"Semua itu udah dikontrak sam-".
"Udah cukup Lolita!. Nggak usah bahas itu lagi!. Sejujurnya gua males liat lu!, lu tuh nggak sopan sama gua!", bentak Raffa yang akhirnya ia meluapkan emosinya. "Ihh Raffa!. Kok lo bil-".
"Kenapa?, gua nggak boleh bilang kek begitu?. Hah?, nggak boleh!?. Gua pihak cowok!, gua punya hak buat nentang hubungan perjodohan ini!", ujar Raffa lagi.
Arra masih ditempat ia terjatuh dan hanya melongo melihat perdebatan itu. "Hah?, perjodohan?. Perjodohan apaan??, emangnya jaman Majapahit apa?, main jodoh-jodoan", ucap Arra penuh tanda tanya. "Diem lu Ra!, nggak usah ikut ngomong!", ujar Raffa. "Iddih gue baru ajah mau bil-".
"Udah diem!!!. Nggak usah ikut ngomong!!", bentak Raffa kepada Arra. "Iyah iyahh. Galak bener dahh, yuk ahh Ndy, kita keluar. Kalo di luar mahh suasananya adem!, nggak kek disini, kek dengerin ocehannya mertua!, panas!", ujar Arra sambil menggandeng Cindy keluar. "Emang lo udah pernah dimarahin sama mertua?", tanya Cindy, ikut mencairkan suasana.
"Hah?, ya..ya.. nggak siih. Lahh entahlahh", jawab Arra sambil pergi keluar kelas.
.
.
.
"Udah siih Faa, gue juga nggak lagi nanya-nanya lo lagi ngapain kok. Dan lo juga Ta, lo ngapain siih bawa-bawa perjodohan. Nggak usah main canda-candaan laah sama gue", ucap Amel menganggap sepele permasalahan perjodohan itu.
"Lahh, kok Amel nggak respon apa-apa siih sama yang gue omongin?. Bakalan gampang nihh gue jalanin misi gue", batin Lolita.
Amel terlihat biasa saja dengan masalah itu. "Gue emang keliatan nggak peduli sama keanehan lo berdua. Tapi kalian berdua liat ajah, sekalinya gue bertindak, nggak akan ada yang selamat", batin Amel sambil berjalan menuju ke bangkunya untuk menaruh tasnya.
.
.
.
"Ini kertasnya", ucap seorang siswa sembari menyerahkan beberapa lembar kertas formulir kepada Melitha. "Bayaran lo ada sama Tiara", jawab Melitha, siswa itu mengangguk dan langsung pergi.
"Inilah saatnya gue beraksi", ucap Melitha dengan lirikan mata jahatnya. Kertas formulir siapa kah yang diambil oleh Melitha?. Melitha menyimpan kertas formulir itu di saku bajunya. Ia pun kembali ke kelasnya.
.
.
.
Di Kelas...
Amel menaruh tasnya dan pergi keluar kelas. Namun, semua itu hanya pura-pura. Amel sebenarnya penasaran dengan yang dikatakan oleh Lolita. "Sumpah ini gue harus bener-bener cari tau tentang mereka berdua!. Gue jangan sampe kalah sama Lolita!. Raffa itu punya gue!. Dan nggak akan ada yang bisa ngalangin gue buat dapetin Raffa", batin Amel.
BERSAMBUNG...