Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 136



Arra berjalan menuju ke rumah Dennis. Ia ingin bertanya apakah benar yang dikatakan oleh Aris?.


.


.


.


Arra membunyikan bel rumah Dennis. Dan pas sekali, yang membukakan pintunya adalah sang tuan rumah, yaitu Dennis. "Arra??. Kok lu nangis siih??", tanya Dennis.


Arra tiba-tiba langsung memeluk Dennis dengan sangat erat. Dennis mengajak Arra untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu rumahnya. "Cerita sini, lu ada masalah apa?", tanya Dennis mencoba menenangkan Arra. "Aris Den. Dia bilang gue bukan anak dari bagian keluarga Adrica!. Apa bener ya?", ucap Arra masih terus menangis. "Nggak, orang nama lu ajah ada marga Adrica nya kok!, masa lu bukan anaknya Pak Adjie siih. Emang Aris kalo lagi marah suka ngaco", jawab Dennis membenarkannya.


"Siapa tamunya Den?. Ehh Arra, ehh kok kamu nangis siih??", tanya Bu Meina langsung memeluk Arra. "Arra bilang, katanya Aris ngatain kalo dia bukan anaknya Om Adjie, alias bukan bagian dari keluarga Adrica", kata Dennis kepada Bu Meina dengan tak bersuara.


"Nggak mungkin sayang, kamu tenang ajah yahh. Ada Tante disini, itu semuanya bohong kok. Bahkan kan sebelum ada Aris, kamu duluan yang lahir kan?", ucap Bu Meina sambil mengusap-usap rambut Arra.


"Mohon maaf Nyonya, ada tamu untuk anda", ucap salah satu ART. "Tamu?, siapa?", tanya Bu Meina langsung beranjak pergi keluar menuju pintu depan.


"Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam, ehhh Mba Erica?".


"Sebenernya ada apa siih Mba?", tanya Bu Meina memelankan suaranya. "Biasalah, Aris kalo lagi marah, dia suka ngomong-ngomong yang nggak jelas. Sampai-sampai dia bilang kalo Arra bukan kakaknya. Lah orang dia sama Arra juga Arra duluan yang lahir. Gita juga saksiin keluarnya Arra kok dari perut saya. Aneh banget deh", jawab Bu Erica.


"Ooh jadi gitu yaa Mbaa".


"Iyaah. Ohh iya, Arra disini nggak Mey?", tanya Bu Erica. "Itu lagi duduk di ruang tamu sama Dennis", jawab Bu Meina. Bu Erica masuk ke ruang tamu.


"Buat sementara, Arra tinggal sama aku dulu yaah Tante. Supaya dia bisa nenangin pikirannya. Dennis yakin, Arra pasti nggak sepenuhnya percaya kalo dia bukan anaknya. Dia kan punya penyakit yang ada hubungannya sama psikologis. Yaah Tante", ujar Dennis.


"Iyah Mbaa. Nggak papa kan?".


"Yaudah, tolong jaga yaah, Den, Mey", jawab Bu Erica. Dennis dan Bu Meina menganggukkan kepalanya. Bu Erica pun pergi meninggalkan rumah Dennis yang mewah itu.


"Kamu ajak Arra ke ke kamar yaah, Denn. Bunda mau ke Asrama nya adik kamu dulu", ucap Bu Meina. "Iyah Bun", jawab Dennis.


.


.


.


Di Kamar Dennis....


Arra masuk ke kamar Dennis yang super darkness. "Gue tidur di kamar lo?, se-ranjang gitu?", tanya Arra tak percaya. "Iyah, nggak ada kamar lagi soalnya", jawab Dennis santai. "Hohh!!. Bukannya di rumah lo banyak kamar kosong yaah", tanyanya lagi. "Iyahh, tapi kan gua males buat bersihinnya. Lagipula ini udah malem, kelamaan juga kan. Besok ajah kalo mau beres-beres", jawab Dennis lagi.


"Tapi kan-". Tiba-tiba Dennis menggendong Arra dan menurunkannya di kasur. "Tenang ajah, gua nggak akan macem-macem kok sama lu. Lu itu bagaikan batu permata yang harus gua jaga, dan nggak boleh kegores sedikit pun", ujar Dennis mengecilkan suaranya di telinga Arra.


"Udah tidur, besok libur ini. Nggak apa-apa kalo lu mau bangun siang. Tapi siih, ya kembali lagi, ini kan di rumah calon mertua lu!. Masa lu mau bangun siang, nggak etis dong", kata Dennis. "Iyaah, in syaa Allah gue besok bakalan bangun pagi kok tenang ajah", jawab Arra.


"Good night My Girlfriend", kata Dennis. Dann, satu kecupan mendarat di kening Arra. "Bener-bener yaah Dennis nih. Nggak bisa apa?, sehari ajah, jangan bikin gue degdegan. Gue serasa terbang tauu. Awwww, sebenarnya siih, lo mau ngapa-ngapain juga nggak apa-apa kok hihihi", batin Arra.


BERSAMBUNG...