
Tanpa di sangka tiba-tiba Dennis merangkul Arra. Pagi ini, mood Dennis terlihat sedang bagus. Mereka berdua saling pandang. Arra melepas rangkulan itu dengan kasar. "Ehh bentar bentar. Ini lo kenapa siih Den?, kemaren lo bilang Jangan pernah baper ke gua!, nahh sekarang lo malahan rangkul-rangkul gue segala, sebenernya lo itu suka sama gue atau cuma nganggep gue temen siih?", tanya Arra dengan nada yang cukup keras.
Dennis diam sejenak, ia hanya memperhatikan Arra yang sedang berbicara. "Saranghae", ucap Dennis. "Hohh!. Heh Dennis, gue itu lagi ngomong serius sama lo!, kenapa lo jadi bercanda siih!. Ini kehidupan nyata bukan drakor!", ujar Arra dan pergi meninggalkan Dennis.
"Iyah, gua emang akhir-akhir ini aneh. Mungkin itu efek karna deket-deket sama lu keknya Raa", ucap Dennis setelah Arra pergi.
.
.
.
"Hihh!!, ditanya ke timur malah jawabnya barat daya, nggak masuk akal banget dehhh!!. Gue nanya nya kenapa malahan jawabannya Saranghae. Ehh tapi tunggu dulu, kok dia jadi kek Cha Eun-Woo yaah. Ishhh, apaan siih, kok gue jadi pujiin dia siih!. Arghh gue juga aneh keknya", gerutu Arra sambil berjalan menuju ke kelas.
.
.
.
"Fa, ketua kelasnya siapa siih sebenernya?", tanya Vanno sambil berjalan mengambil kursi dan meletakannya di samping Raffa. "Entahlah", jawab Raffa yang masih serius dengan buku novelnya. "Ky, lu disuruh sama Miss Dian buat nyerahin formulir pendaftaran SST tuh", ucap Vanno.
"Lah kok gua siih?, emang Aris mana?", tanya Rifky sambil meletakan tas ke bangkunya. "Ya kan lu wakil-... Lahh nggak tau lahh!. Gua pusing kalo mikirin soal kelas, dulu ketua kelasnya siapa dan sekarang ketua kelasnya juga mana", gerutu Vanno.
"Okee, emang formulirnya dimana?", tanya Rifky. Evan menunjuk ke arah meja guru. Di meja itu memang sudah terdapat tumpukan kertas yang cukup tebal. "Bantuin yuk Gus", ajak Rifky sambil menarik lengan baju Bagus. "Iyah bentar dulu!, gua naro tas dulu ke korsi!", ujar Bagus.
"Itung dulu formulirnya, siapa tau ada yang kurang", ucap Raffa yang masih tetap saja fokus kepada buku yang ada di depannya. "Udah pas lahh", jawab Bagus remeh. "Itung dulu!", kata Raffa lagi.
Bagus melirik ke Rifky. Nggak usah... (Kata Rifky cuman geleng-geleng). "Nggak usah?", tanya Bagus berbisik ke telinga Rifky. Rifky mengangguk untuk mengiyakannya. Tak lama Arra dan Lolita masuk ke kelas bersamaan. Seperti biasanya, setiap kali bertemu dengan orang, Arra selalu menyapa.
"Hai Aguss", sapa Arra sambil menyentil rambut belakang Bagus. "Bagus Raa. Nama gua Bagus", ujar Bagus membenarkan ucapannya. "Tapi muka lo lebih pantes dipanggil Agus hahahaha", ledek Arra.
"Halo abangkuu. Lagi baca apaan siih?", tanya Arra, ia mengambil buku yang sedang dipegang Raffa sedari tadi. "Sini ihh Raa!!. Sinii", Raffa terlihat kesal. Arra berlari dengan membawa buku itu. Sangking cepatnya berlari, Arra tak bisa lagi mengerem kakinya. Arra pun menabrak Lolita yang sedang berjalan di belakangnya. Reflek, Raffa langsung berlari menolong Lolita yang hampir terjatuh.
"Makasii ya Arra, berkat lo gue jadi bisa deket-deket sama Raffa" batin Lolita. Mereka berdua saling pandang. Lolita tidak berkedip sama sekali. Ia terus memandang wajah Raffa. Begitu juga dengan Raffa. Cukup lama mereka berdua saling pandang. Hingga mereka berdua tak sadar kalo ternyata ada Amel yang sejak tadi melihat mereka berdua sedang bermesraan. "Raffa?"....
BERSAMBUNG....