Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 25



Lanjuttt


"Ooh, syukur deh kalo udah agak baikan. Ya udah kalo gitu kamu masuk ajah, Bunda udah nungguin kamu tuhh", kata Pak Hardi.


"Iya Yah, duluan ya Yah", jawab Dennis. Dennis masuk ke rumahnya yang cukup besar. "Assalamu'alaikum", tidak ada jawaban.


"Katanya Bunda udah nungguin, tapi kok nggak ada disini yah. Lahh palingan di kamar atas kali", gerutu Dennis sambil menaiki tangga menuju ke lantai 2.


Dennis mencari Bu Meina sampai ke teras depan di lantai 2 itu. Terlihat adik Dennis atau Dina, sedang melukis pemandangan. Dina adalah seorang pelukis cilik. Karyanya sudah terkenal dimana-mana, bahkan sampai mendunia.


"Din, liat Bunda nggak?", tanya Dennis. Dina masih terus fokus melukis. "Dinaaaa", Dina baru menoleh ke arah pintu.


"Nggak tau tuh Kak, kayaknya siih lagi masak di dapur sama pembantu deh. Coba Kakak cari ajah okee", jawab Dina, dan dia melanjutkan melukis pemandangan lagi.


"Ooh yaudah deh, kalo gitu makasiih yaa", Dennis langsung pergi ke dapur yang berada di lantai dasar. "Huh, akhirnya ketemu juga sama Bunda", ucap Dennis sambil berjalan menghampiri Bu Meina yang sedang membuat kue.


"Eehh, Dennis udah pulang", ucap Bu Meina sambil menghampiri Dennis yang sedang berdiri di pintu dapur. "Udah Mah, yaudah kalo gitu Dennis ke kamar dulu yaa", jawab Dennis mencium tangan ibunya lalu pergi meninggalkan nya.


Di rumah Viola dan Vionna


Viola baru saja menelfon Aris. Sebenarnya Viola mendekati Aris hanya untuk mengetahui sisi dari seorang Rifki. Viola juga mengerti akan perasaan saudara kembarnya (Vionna).


Vionna sudah menyimpan rasa nya kepada Aris, sejak dia pertama kali bertemu dengannya. Sampai-sampai dia menulis sebuah buku tentang seorang Aris.


Namun, Aris tidak mengetahui akan hal itu. Aris taunya kalau Viola lah yang menyukainya, bukannya Vionna.


Viola sedang berdiri di teras depan (lantai 2). Ia menatap langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang yang tampak kerlap-kerlip.


"Iddih, bukannya minta maaf ama kakaknya, malah ketawa dasar luu!!!", Viola tampak kesal terhadap Vionna. "Ya abisnya lu. Eteketek, apaan tuhh", ujar Vionna meledek Viola yang wajahnya terlihat sangat marah.


"Ehh iyah, lu tadi telfon siapa?", tanya Vionna mengalihkan pembicaraannya. Viola diam sejenak. "Jangan-jangan dia denger lagi, gue tadi telfon sama siapa. Kalo dia denger, haduhhh bisa gawat dehh", batin Viola.


"Emm, nggak sama siapa-siapa kok, cuma tadi sama...emm...Arra", jawab Viola terlihat tegang. "Ooh sama Arraa... Yaudah dong, nggak usah tegang gituu, emangnya gue mau nerkam lo apa?. Santai ajah lah Viola", ucap Vionna meledek Viola lagi.


"Hah..siapa yang tegang, gue cuma bingung ajah mau jawab apa. Ya kaya biasanya gue kan sering kek gitu. Ya nggak..ya nggak?", jawab Viola lagi.


Vionna pergi dari tempat itu, dan menuju ke kamarnya lagi. "Huh, untung ajah Vionna nggak curiga. Kalo curiga, kan bisa gawatttt!!", kata Viola menghembuskan nafasnya keras-keras.


Kembali ke rumah sakit tempat Arra dirawat.


Keluarga Dennis sudah sampai di rumah sakit itu. "Bu Meina", teriak Bu Erika memanggil Bu Meina, bundanya Dennis.


"Iyah Bu ada apa?", Bu Meina menghampiri Bu Erika. "Saya minta maaf yah atas kejadian yang lalu", Bu Erika menjabat tangan Bu Meina dengan sangat Kencang.


"Iyah Bu, nggak apa-apa kok, udah saya maafin dari kemaren. Ooh iya, gimana keadaan nya Arra?", tanya Bu Meina.


"Alhamdulillah, malam ini juga dia akan pulang ke rumah", ucap Bu Erika. Sementara itu, Dennis masuk ke ruangan Arra.


"Assalamu'alaikum", Dennis membuka pintu pelan-pelan. Kak Gita langsung menoleh ke arah pintu tersebut. "Waalaikumsalam, Ehh Dennis. Si unyu unyu unyu, sini masuk", Tiba-tiba Kak Gita memcubit kedua pipi Dennis.


Dennis merasa geli. Arra tertawa terbahak-bahak. "Aduhh, kak Gita...Kak Gita, kakak ngapain siih pake jembel-jembel pipi Dennis. Hahahah", ledek Arra.


Next ya gann😉