
Keesokkan harinya...
Hari ini adalah hari diadakannya ujian kejuruan. Para siswa dan siswi kelas 12 sedang antre berbaris untuk mendapatkan kartu ujiannya masing-masing.
"Aldzaky Fekhan Jino Aryansyah". absen yang pertama dipanggil adalah Jino. Setelah ia mendapatkan kartu ujian, ia pun masuk ke kelasnya dan duduk di bangku sesuai absennya.
Tas sekolah mereka semuanya terkumpul di halaman sekolah, demi menjaga agar para siswa tak ada yang curang selama ujian.
"Untung gue bukan absen pertama", ujar Arra terlihat kegirangan. "Tapi kan ini kelas ganjil Raa..", ujar Dona. "Arra Ellief Adrica..". Petugas memanggil Arra.
"Bbbbb... Hahaha, mampos!. Mangkanya jangan sok dulu yah neng", ujar Lolita meledek Arra. "Dahlah", Arra pun langsung maju ke depan.
.
.
Tak lama kemudian, absen ketiga dipanggil, yang tak lain adalah Dennis. Sebelum masuk ke ruang ujian, Dennis memberikan sebuah surat kepada Evan. "Tolong kasih ke Arra ntar yaah Van", pinta Dennis kepada Evan. "Kenapa nggak lu ajah yang ngasih ke Arra, Den?", tanya Evan. "Udah kasih ajah lahh", ujar Dennis menepuk bahu Evan.
"Oke deh", jawab Evan. Tanpa membukanya, ia pun langsung memasukkan surat titipan itu ke dalam sakunya.
.
.
.
Ujian kejuruan tengah berlangsung. Ada tiga hari diadakannya ujian kejuruan itu.
Vian duduk tepat di pojok belakang barisan. Ia terlihat sangat kesusahan mengerjakan soal ujian matematika tersebut.
Vian menendang bangku depannya. Pemilik bangku depannya pun menoleh kepada Vian. "Kenapa Yan?", tanya siswi berambut panjang itu. "Tolong panggilin depan lu tuh yaa, Zal dipanggil Vian gitu", jawab Vian. "Oke", siswi bernama Belinda itu pun memanggil Rizal dengan suara yang sangat pelan. "Zal, dipanggil Vian", bisik Belinda. Rizal mengangguk, seperti paham akan sesuatu yang diisyaratkan oleh sahabatnya.
Rizal mengangkat tangannya. "Pak..". Guru pengawas menoleh ke arah Rizal. "Ada apa?", tanya guru pengawas sedikit tegas. "Boleh izin ke toilet sebentar?", tanya Rizal. "Ya boleh silahkan", jawab guru itu. "Tapi berdua, boleh nggak Pak?", tanya Rizal lagi. Guru pengawas itu sedikit terkejut. "Berdua?!, mau ngapain berdua di toilet?. Sama siapa?", tanya pengawas itu terkejut. "Sama Vian Pak. Dia itu suka takut kalo ke toilet sendirian, apalagi di tempat umum kayak sekolah. Boleh yaah Pak", Rizal terus membujuk pengawas. "Yaudah, tapi jangan lama-lama yaa", guru pengawas itu pun akhirnya memperbolehkan mereka berdua.
.
.
Ternyata, mereka berdua di toilet itu untuk berbagi jawaban. "Nih", Rizal memberikan sobekan kertas berisi jawaban kepada Vian. "Nah gitu dong, sumpah soalnya susah banget tau".
"Bodoh banget siih, ngapain lu dulu ngambil jurusan matematika coba!", ujar Rizal. "Ehh, jangan salah, gua itu ngambil jurusan matematika itu karna sii Arra hehehe", jawab Vian. "Karena Arra?", tanya Rizal. "Iyah, emang kenapa?", Vian balik bertanya. "Nggak apa-apa siih. Tapi keknya lu cowok diurutan nomer...378 keknya. Paling jauh, dan nggak akan tersampaikan cintanya ke Arra", jawab Rizal meledek Vian.
.
.
.
Jino duduk di bangku pojok kanan depan. Di belakangnya diikuti oleh Arra, Dennis dan 2 siswa-siswi lainnya. "Ekhemm", Jino memberi tanda kepada Arra. Arra langsung memajukan mejanya. "Kenapa?", bisik Arra. "Nomer 28 jawabannya apa?", tanya Jino berbisik.
Arra menuliskan sesuatu di sobekan kertas yang sangat kecil. Ia berpura-pura menjatuhkan bolpoin ke bawah meja Jino. Dengan cepat, Jino mengambil bolpoin itu. "thanks", ujar Jino berbisik.
Kini gantian Arra bertanya kepada bangku belakangnya, Dennis. "Nomer 10 apa?", bisik Arra kepada Dennis. "Jawabannya?, 18, 18", jawab Dennis meledek Arra. "Ishh!, itu mahh tanggal jadian kita kali!", ujar Arra. "Hehehe. Nih", Dennis memberikan sesuatu kepada Arra. Mereka berbaikan hanya sekedar karna sedang berbagi jawaban.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...