
"Emang iya yahh, kok gua bisa nggak peka siih sama dia?", pikir Aris.
Lanjutt...
"Nggak mungkin lahh, masa Vionna suka sama gua yang fakboy gini. Nggak mungkin pastinya lahh, lagian kan Vionna itu seleranya sama Nico yang ganteng, tinggi, dan...", jawab Aris namun terpotong oleh Dennis.
"Lu itu bener-bener nggak peka yah jadi cowok!. Emangnya lu itu nggak pernah liat dari mata-mata cewek kalo dia itu suka yaa", kata Dennis
"Ya tapi kan...",
"Udah lah Ris, Den, kalian nggak usah berantem soal yang kayak begituan. Sekarang gue nanya sama lo ya Den, emangnya lo sendiri paham sama perasaan cewek?", kata Arra bertanya balik.
"Ya... Tapi kan Ra...",
"Nahh itu kan... Lo juga nggak tau kan?. Lo juga deket-deket sama cewek lain, tanpa tau perasaan cewek yang lainnya yang suka sama lo", ucap Arra sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
"Lahh... Arraa... Weyyy...", Arra tak menghiraukan panggilan dari Dennis. Ia terus berjalan pulang. "Lahh itu kan lu denger sendiri. Lu juga nggak tau kan, Tanda-tandanya cewek suka sama lu. Hahahahaha", ledek Aris juga berjalan meninggalkan Dennis sendirian.
"Hihh... Tuh kan lagi-lagi Dennis nggak peka sama omongan dan sikap gue. Mau gimana lagi siih gue kasih kode ke dia?. Apa ajah udah gue kodein, tapi nggak paham-paham juga tuh anak", gumam Arra sendirian.
Tiba-tiba ada yang menghampiri Arra dari arah belakang. Tinn..tinn.. (suara klakson motor). "Siapa siih??", gumam Arra sambil menoleh ke arah suara itu.
"Hai cantikk...", panggil seseorang yang ada di motor itu. "Mau pulang bareng nggak?", tanyanya. 2 orang yang menghampiri Arra adalah preman suruhan Dona dan Meyka untuk melecehkannya.
Tiba-tiba tangan Arra ditarik dengan paksa oleh salah satu preman tersebut. "Ihh... Apaan siih kalian. Tolongg... Tolongg...", teriak Arra. Tiba-tiba preman itu jatuh kesakitan. Rifky datang menolong Arra.
"Anak kurang ajar nihh, hajar diaa..", ujar ketua preman itu. Dan.. Brukk... Rifky terjatuh. "Ya ampun, Astagfirullah, Rifky...", Arra berusaha membantu Rifky berdiri. Akhirnya datanglah Dennis, Aris, Nico, dan Raffa datang menolong Rifky yang sudah tergeletak di aspal jalanan.
"Lu nggak apa-apa kan Ra?", tanya Aris. "Gue siih nggak apa-apa Ris, tapi Rifky Ris..", karena merasa kasihan akhirnya Dennis menggendong Rifky sampai ke depan rumah Rifky.
"Emangnya lu kuat Den?", tanya Raffa sedikit tak percaya dengan kekuatan Dennis. "Bismillah..Ku...att..", jawab Dennis sambil menahan berat dari badan Rifky.
"Duhh... Kalo bukan karena nyari perhatiannya si Arra, gua nggak bakalan mau lahh. Mana berat banget lagi. Lu berapa kilo siih Ky?!", gumam Dennis dalam hatinya.
"Akhirnya sampe jugaa. Alhamdulillah", ucap Dennis. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Rifky sadar dari pingsannya. "Mamahnya Rifky nggak ada di rumah yaa?", tanya Nico. "Kan Keluarganya Rifky pergi semua ke Vietnam", jawab Raffa menanggapi Nico.
"Ky, akhirnya lo sadar juga", kata Arra. "Aduh..aduh..aduh", Rifky baru merasakan lukanya yang sangat banyak itu. "Aduh, sakit yaa Ky. Gue obatin yaah", kata Arra kasihan.
Arra mulai mengobati luka Rifky. "Aduhh, pelan-pelan Raaa. Sakit tauu", ucap Rifky mengaduh kesakitan. "Iyah ini pelan-pelan kok", jawab Arra.
Melihat Arra mengobati luka Rifky, Dennis serasa ingin marah dengan suasana itu. "Ngapain siih Arra, pake ngobatin luka Rifky segala!. Emang bener-bener yahh, lu nggak pernah ngertiin perasaan gua", batin Dennis.
"Ehhh, Ra!!", ucap Dennis sambil menarik tangan Arra untuk berhenti membersihkan luka Rifky. "Apaan siih Den?, main tarik-tarik ajah", jawab Arra kesal + bingung.
"Mendingan gini ajah, Aris, lu kan tadi siang bikin masalah yaah. Nahh jadi sebagai hukumannya, lu yang bersihin lukanya Rifky ajah. Kan Arra cewek, jadi nggak boleh deket-deket sama yang bukan muhrim", kata Dennis.
Arra terlihat bingung. Aris menganggukan kepalanya paham akan kata-kata suruhan dari Dennis itu. "Ya ampun Dennis... Bahkan saat gua terluka gini pun, Arra masih nggak boleh deket-deket sama gua?. Tenang ajah Ky, suatu saat Arra bakalan sama lu kok", batin Rifky.
"Dennis kenapa siih? Kok dia gitu banget. Apa jangan-jangan dia cemburu sama gue??", pikir Arra. "Udah yuk Ra, kita pulang", ajak Dennis.
Bersambung....