
"Tapi kan Raa, dia nggak sopan sama lu!. Lu kan bisa dibilang senior di kelas kita", ucap Rifky mengelak untuk berdamai dengan Melitha. "Ya tapi kan awalnya gue yang salah duluan, kenapa gue nggak jalan hati-hati. Dan kan akhirnya nabrak dia kan", tegur Arra mengalah.
Meski berat hati, akhirnya Rifky mau mengalah dan mengaku kalau ia dan Arra yang salah dan Melitha yang benar. "Yaa di mulut gua, gua minta maaf. Tapi jaga lu setiap saat, gua nggak akan pernah maafin lu!", benak Rifky.
.
.
.
Di Kantin...
Dennis melihat ke kiri, ke kanan, ke belakang, berharap Arra mengikutinya sampai ke kantin untuk bertanya apa yang terjadi kepadanya, namun tak ada. "Udah laahh Denn, dia mungkin males kali nanyain sikap lu tiap hari", tegur Jino yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak-gerik Dennis. "Nggak, siapa juga yang nyariin Arra", elak Dennis.
"Heh lu nggak usah ngelak!, gua tau kalo lu itu pengen ditanya sama Arra kan. Den lu kenapa siih?, kok lu diemin gua siih. Gitu kann, alaahhh basi tau nggak siih, sekarang maahh bukan jamannya kek begituan. Sekarang itu jaman now, jaman modern", ujar Vanno ikut menegur Dennis.
"Ada bener nya juga yaah", batin Dennis. "Emang sekarang itu jamannya kek gimana?", tanya Dennis yang sudah mulai penasaran dengan pendapat sahabatnya itu. "Penasaran nihh dia", batin Jino. Namun, karena kemampuannya, Dennis dapat mendengar apa yang teman-temannya ucapkan. "Ya penasaran lahh, kan bisa buat motifasi gua ntarnya", ucap Dennis seperti menjawabi kata-kata di pikiran Jino.
"Ehh busett, gua lupa. Kan dia bisa baca pikiran orang lain, gua malahan main ceplas-ceplos ajah", pikir Jino. Lagi-lagi Dennis bisa mendengar suara hati orang yang ada di dekatnya. "Jino... Ati-ati yaah", bisik Dennis ke telinga Jino.
Dennis berpikir sejenak dan mengingat-ingat kembali apa yang ia katakan sebelumnya. "Ohhh, ituu. Nggak gua cuman nebak-nebak ajah, kalo kalian udah pasti mau bilang penasaran nihh dia, gituu", jawab Dennis menutupi keahliannya. Vanno menganggukan kepala tanda mempercayai jawaban Dennis.
.
.
.
Pindah ke Arra.
"Udah yaah Raa, lo jangan marah-marah lagi", ujar Kinnara menenangkan hati Arra. "Woyy, bukan gue kalii yang marah-marah. Kan Rifky yang marah-marah bukannya guee!", ucap Arra. Vionna menahan tawanya yang hampir tak bisa dibendung lagi. "Gobl*k Anj*ng!!, dia yang marah-marah, Kinnaraaaaa... Anaknya Pak Anton...", ujar Vionna.
"Ya nggak usah bawa-bawa tuhh sii Anton napaa. Ehh maksudnya Pak Anton. Kasian tau diaa, apa-apa dibawa. Ehh tunggu duluu, lo ikut kita Ky?", ucap Kinnara setengah emosi kepada Vionna. Rifky langsung terlihat gelagapan. "Emm guaa, gua mau ikut gabung tuh sama Dennis", jawab Rifky sambil menunjuk ke arah meja Dennis Dkk.
"Ekhemmm, sama Dennis, tuhh Raa ikut sama diaa", ledek Vionna. Pipi Arra langsung terlihat memerah. "Cieee pipinya merah", ucap Kinnara ikut meledek Arra. "Apaan siih kaliann!!. Udah dibilangin gue nggak suka sama Dennis, gue sama Dennis itu deket karna kita sodara, udah gitu ajahh", bantah Arra setelah beberapa saat Rifky pergi meninggalkan mereka bertiga.
BERSAMBUNG...