
"Berarti harus manggil kakak dong?, hehehe", tanya Lusi ikut bercanda dengan kakaknya dan seniornya. "Nggak perlu lahh, Raffa ajah. Kita juga temen kan?, Chingu yahahaha", jawab Raffa.
Tiing.. Nada dering pesan masuk muncul di handphone Lusi. "Kak, aku mau izin pergi dulu yaa. Aku udah ada janji sama Kak Amel", ucap Lusi meminta izin kepada kakaknya, Luna. "Ooh, yaudah nggak papa. Hati-hati yaa", jawab Luna sembari tersenyum.
Lusi mengambil tasnya dan kemudian pergi. Raffa terus memperhatikan Lusi berjalan. "Dia mau kemana Lun?", tanya Raffa penasaran. "Biasa, mau ketemuan sama Amel. Mantan lo itu lho, hahah", jawab Luna kembali bercanda. "Amel?, ngapain dia ketemuan sama Amel?", tanyanya lagi. "Entahlahh. Ya kaan karna dia tuh sahabat. Ooh iya, lo kan udah lama nggak punya hubungan sama Amel siih yaa. Jadi nggak tau deh soal perkembangannya", jawab Luna.
Raffa mengangguk paham. "Sejak kapan Amel sahabatan sama Lusi?. Entahlah", pikir Raffa dan kembali berbincang dengan Luna.
.
.
.
Arra berjalan menuruni tangga. Menghampiri Bu Meina yang sedang duduk sambil membaca artikel di laptop nya. "Ehhh... Arra udah bangun?", sapa Bu Meina dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. "Lu nggak ganti baju?", tanya Dennis berteriak dari depan kamarnya. Arra menoleh ke atas. Arra pun kembali menaiki tangga dan kembali ke kamar Dennis. "Kan kemaren gue nggak bawa baju Den", jawab Arra.
Dennis berjalan menuju ke lemari bajunya. Terlihat ia mengeluarkan beberapa baju perempuan. "Ini bajunya...??, ooh jangan-jangan lo bawa cewek ke kamar ini yaa?", tuduh Arra. "Hoho!. Nggak usah nuduh yang nggak-nggak dulu!. Ini semua tuh baju lu yang ketinggalan di rumah gua!. Untung ajah nggak gua buang ke tempat sampah, bahkan tadinya gua mau bakar semua ni baju!", jawab Dennis menyerahkan baju-baju itu kepada Arra. "Udah sana ganti baju dulu. Ntar abis itu kita pergi", kata Dennis sambil berjalan keluar kamar. "Hah??? , pergi??, pergi kemana?", tanya Arra terlihat begitu gembira. "Udah pake baju dulu ajah. Nggak usah banyak nanya", jawab Dennis setengah berteriak.
"Gue mau diajak kencan?. Huhuu, dunia ini emang kek drakor yaah", pikir Arra sambil memeluk bajunya dengan senang.
.
.
.
Tak sengaja, Aris melihat sepasang remaja yang sedang berjalan bersama. Aris begitu penasaran dan langsung mengikutinya. Aris memakai topi hitamnya, kemudian ia turun dari mobilnya untuk terus mengikuti mereka berdua.
Begitu terkejut saat melihat bahwa pasangan itu adalah pacarnya. Yang tidak lain adalah, Viola!. Viola dan Rifky sedang berjalan bersama. "Ternyata selama ini emang gua yang salah!. Gua harus ngikutin mereka berdua", pikir Aris.
Rifky dan Viola sampai di Asrama Utama IJAS, asrama yang dulu mereka tinggali sewaktu kelas 2 SMP. Entah apa yang akan mereka berdua lakukan. Rifky dan Viola berjalan berjalan menuju lantai atas dengan menggunakan Lift.
"Gua pake tangga ajah, daripada gua ketauan!", pikir Aris dan mulai berjalan menaiki tangga.
.
.
Mereka sampai di lantai paling atas. Lebih membuat emosi, Viola dan Rifky berpelukan. Karena memang sudah begitu geram, akhirnya Aris langsung saja meluapkan emosinya. "Tega yah lu Vi!", ucap Aris dan membuka topinya. "Aris?", Viola dan Rifky begitu terkejut.
.
.
.
BERSAMBUNG...