
Hay Guys, Maafin yah karena hari ini aku baru lanjutin episode ke 23🙁soalnya aku abis ngerjain soal PTS (Penilaian Tengah Semester) Online🙂.
Yaudah aku mulai lagi yaa😉
Di perjalanan menuju Rumah Sakit tempat Arra dirawat.
Aris fokus menyetir, namun sekali-sekali dia sambil membuka hp nya. Sedangkan Kak Gita masih sibuk memainkan hpnya sedari tadi.
"Ris, di Rumah Sakit ada siapa yang nemenin Arra?", tanya Kak Gita. " Ada Dennis Kak", jawab Aris.
"Ooh kakak kira nggak ada siapa-siapa hehehe", Aris tersenyum kepada Kak Gita.
Tak lama kemudian, tiba-tiba Dennis menelfon Aris. Tuutt...tuttt.tutt... Dering hp Aris.
"Hallo Assalamu'alaikum Den"
"Waalaikumsalam Ris, em Ris lu cepetan kesini yaa, soalnya gua udah di suruh sama bunda buat cepetan pulang"
"Iyah iyah, gua juga udah ada di perjalanan kok, nggak lama lagi nyampe nih, lu tunggu ajah okee"
"Yaudah kalo gitu gua tunggu yah, daah Assalamu'alaikum"
"Waala...ikumsalam Baru juga mau jawab udah ditutup ajah nii telfon ahh", ucap Aris sambil terus menyetir.
"Siapa Ris?", tanya Kak Gita. "Ooh Dennis kak", Kak Gita mengangguk pelan.
Tak lama mobil mereka pun sampai di parkiran Rumah Sakit tempat Arra dirawat. "Alhamdulillah sampee akhirnya", ucap Aris sambil melepas sabuk pengaman dan turun dari mobilnya.
"Huh, kangen dehh sama Kota ini", kata Kak Gita melepas lelah dan rindu akan Kota yang sangat ramai itu.
"Ris, kamarnya Arra dimana?", tanya Kak Gita. "Di Ruang Kepudang Atas nomor 2", jawab Aris sambil berjalan ke lift.
Mereka berdua sampai di Ruangan Arra, Kak Gita yang pertama membuka pintu itu. "Arraaaa", teriak Kak Gita dengan penuh semangat.
"Kak Gita", Dennis dan Arra langsung menoleh ke arah pintu ruangan itu. "Arra, kamu gimana keadaannya?, kok kamu bisa ketabrak mobil siih?", tanya Kak Gita khawatir sambil memegangi badan Arra.
Kak Gita terus mengecek luka Arra dengan serius. "Ihh Kak Gita ini deeh, Arra nggak papa kok. Arra cuma nggak hati-hati waktu penyeberangan, tapi untungnya ada Dennis yang udah nolongin Arra", jawab Arra sambil menoleh ke arah Dennis.
Dennis tersenyum malu, pipinya memerah. "Ciee pipinya merah hahahah", ledek Aris.
Semuanya tertawa melihat Dennis. "Iih apaan siih kalian deh", Dennis merasa malu namun dihatinya merasa seperti pahlawan terhadap sahabat yang dicintainya itu.
"Emm, kan udah ada Kak Gita sama Aris niih yah, aku pamit ya Kak, nanti aku balik lagi kok sama keluarga aku", pamit Dennis sambil mencium tangan kak Gita.
"Yahh buru-buru banget siih Den?, emangnya mau ngapain?", tanya Kak Gita. "Ada dehh hehehe, yaudah Assalamu'alaikum semuanyaa daah", Dennis meninggalkan semuanya.
"Waalaikumsalam", jawab mereka kompak. Mereka bertiga mulai mengobrol, dan melepas rindu kakak beradik. Memang baru beberapa bulan mereka tidak bertemu, namun mereka sudah saling rindu.
Di Rumah Dona
Di rumah Dona sudah ada Meyka. Mereka berdua sedang membuat rencana lagi. "Mey, kok Chika udah nggak barengan sama kita lagi yaah?", kata Dona sambil mengernyitkan dahinya.
"Iya yah, kok dia udah lama banget siih nggak bareng sama kita, ooh apa jangan-jangan dia itu dinasehati sama Bagus buat nggak bareng sama kita lagi kayaknya dehh Don", jawab Meyka.
"Ya bisa jadi siih, tapi kita nggak boleh suudzon gitu sama temen", kata Dona. Tak lama kemudian tiba-tiba Chika menelfon Dona.
"Naah, baru juga diceritain, akhirnya dia telfon kita juga hahaha", ucap Dona.
"Halo, ini Dona kaan?"
"Iya lah, masa qodir aneh banget siih lu Chik", jawab Dona agak kesal.
"Ya takutnya bukan Dona, ya misalnya Bu Suratmi gitu hehehe", ledek Chika.
"Heh, itu Emak gue, enak aja lu. Udah ada apaan?"
"Emm jadi gini Don, lo jangan marah dulu yaa, soalnya gue mau ngomong serius niih",
"Iya udah deh apaan, nggak usah pake gitu-gituan laah, bikin keki ajah lu", Dona makin kesal.
"Gue mau berhenti jadi temen lo, gue udah capek hidup membully orang mulu. Gue ngerasa, dosa gue udah terlalu banyak, gue nggak mau bikin temen lain itu sakit hati terus. Apalagi setelah kejadian yang menimpa Arra, gue tau kok siapa yang sebenernya udah tabrak Arra. Itu suruhan kalian berdua kaan",
Dona dan Meyka diam tak bersuara. Meyka merasa kata-kata Chika ada benarnya. "Bener juga yaah kata Chika, gue juga harusnya gitu, tapi Dona bakalan ngancem gue ntar", pikir Meyka.
"Heh, kok lu bisa punya pikiran gitu siih. Ooh gue tau, pikiran lo udah diracuni kaan sama Bagus. Ya secara Bagus itu kan temennya Or sahabatnya Dennis. Sedangkan Dennis adalah orang yang paling membenci gue, ya kan", jawab Dona.
"Ini nggak karena siapa-siapa. Bukan Dennis, bukan Arra bahkan Bagus. Semuanya dari pikiran gue sendiri. Gue pengin mencoba jadi cewek baik. Gue pengen sebenernya dari dulu itu punya temen banyak, nggak cuma kalian berdua doang", jawab Chika.
"Oohh jadi lo udah bosen temenan sama gue iyah heh", ucap Dona dengan nada marahnya. Meyka hanya terdiam sendiri. "Semua yang dikatakan Chika itu ada benernya, tapi gimana gue bisa berubah. Kalo misalnya gue berubah pun, Nico udah nggak bakalan mau sama gue hemm", gumam Meyka dalam hatinya sambil memasang wajah sedih.
"Woyy Meyka, diem ajah lo dari tadi ngomong napa", Meyka langsung kaget dengan bentakan Dona yang menggelegar. "Emm iyah iyah. Yaudah Chik, kalo lo mau berhenti temenan sama kita yaudah lu boleh kok memperbaiki diri, Allah suka hambanya yang bertaubat", ucap Meyka.
"Hemm, makasi yah Meyka. Yaudah kalo gitu Dona and Meyka makasih yah Assalamu'alaikum", Chika langsung mematikan telfonnya.
"Waalaikumsalam", jawab Meyka. "Heh Meyka, kok lu jadi baik gitu siihh. Jangan bilang kalo lo jangan-jangan juga mau kabur lagi dari gue dari persahabatan kita", tanya Dona.
"Enggak kok tenang ajah, gue insyaallah masih setia sama lo", jawab Meyka. "Awas ajah lo, kalo sampe mau kabur dari gue", ucap Dona.
Di depan gerbang rumah sakit
"Ooh iya gua lupa haduhh, gua kan kesini nggak bawa mobil. Lahh mendingan gua telfon Ayah ajah dah, daripada gua disini kayak orang ilang lahh ahh", gumam Dennis yang sedari tadi mondar-mandir kebingungan.
"Halo Assalamu'alaikum Dennis",
"Waalaikumsalam Yah, Dennis lupa Yah kalo Dennis itu nggak bawa mobil, jadi asisten Ayah suruh jemput Dennis yah di Rumah Sakit",
"Lahh ni anak kenapa nggak bilang dari tadi siih kalo nggak bawa mobil",
"Ya mana Dennis inget Yah, kan anuu...",
"Anu apa lahh, kamu inget nya cuma Arra ajah gitu",
"Hemm Ayah udah mulai nihh. Udah deh cepetan Dennis jemput oke GPL oke. Assalamu'alaikum",
Dennis langsung mematikan telfonnya. "Ayah hah, kayaknya Ayah tau deh kalo gua suka sama Arra hah", kata Dennis sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan Arra.
Dennis tidak tau kalau dari tadi ada Aris dibelakangnya. "Ekhemm...", terdengar suara dari Aris. Dengan pelan-pelan Dennis membalikkan badannya. "Astagfirullah haladzim. Ya Allah.. bikin kaget ajah siih lu Ris ah", kali ini Dennis benar-benar kaget.
Udah dulu ya guys, maapin yee baru up hari ini.
Bersambung.....