
Mereka mengendap-endap. Terdengar seperti ada yang berjalan menuju ke arah mereka. Memang benar, itu adalah orang-orang bawahan Vian, yang memiliki otot besar.
"Sembunyi!!", bisik Arra. Kali ini Arra yang memimpin mereka ber4. Setelah merasa situasi aman, mereka berjalan mengendap-endap lagi.
Ada salah satu preman yang melihat Meyka. "Tangkap dia!!", Meyka berhasil tertangkap oleh preman-preman itu, dan entah kemana mereka membawa Meyka pergi.
Tersisa 3 orang. Hanya tinggal Arra, Jino, dan Nico. Mereka berjalan mengendap-endap lagi. Kini giliran Jino yang tertangkap oleh preman-preman suruhan Vian.
"Jinoo!!", teriak Arra. Mereka hanya tinggal berdua. Preman-preman penjaga itu datang lagi dan menangkap Nico.
"Nicoo!!!", teriak Arra lagi. "Ra... Lu harus berjuang sendiri Ra... Semangat!!", Nico pun dibawa oleh para preman-preman jahat itu.
"Gue harus bisa nemuin mereka semua!!", gumam Arra. Kini Arra tak berjalan mengendap-endap, namun ia berjalan seperti biasa saja.
"Berhenti disitu!!", teriak penjaga itu menghentikan langkah Arra. Arra membalikan badannya seolah tak takut sama sekali.
"Tangkap dia!!", seru salah satu penjaga itu. Namun, Arra berhasil melepeskan diri. Arra melijat sekeliling, dan berharap menemukan kayu atau sejenisnya.
Harapannya terkabul, ia menemukan sebatang kayu. Arra memukulkan kayu tersebut kepada para penjaga preman itu.
Terlihat semua kesakitan dan tergeletak di lantai rumah kosong itu. Arra langsung pergi dan kembali mengendap-endap menuju ke ruangan penyiksaan.
"Arra.. Tolong lepasin gua Ra!!", panggil Jino yang sama-sama sudah terikat di dinding rumah kosong itu.
Arra segera melepaskan ikatan di tubuh Jino, Nico, dan Meyka. Saat akan melepaskan ikatan di tubuh Dennis, tiba-tiba Vian dan para preman-preman itu datang.
"Bagus!!!. Hebat banget yahh, lu hampir membunuh semua suruhan-suruhan gua Ra!", ucap Vian sambil menarik tangan Arra dengan keras.
"Lepasin gue!!. Lepasinn!!", bentak Arra dengan nada yang sangat tinggi. Vian melepaskan pegangannya. Nico dan Jino mulai bertarung dengan para suruhan-suruhan Vian.
Hanya menangis yang bisa ia lakukan. "Ra, lu nggak apa-apa?", tanua Jino sambil membantu Arra untuk berdiri.
"Vian, tolong lepasin mereka. Mereka nggak bersalah!", pinta Arra yang masih terus menangis. Arra berlutut kepada Vian sambil terus menangis sesenggukan.
"Oke gua akan lepasin mereka semua, tapi ada syaratnya!", jawab Vian licik.
"Apa syaratnya?", masih dengan nada yang lemah. "Apa syaratnya!!!", Arra membentak. "Weyy sabar dulu cantik", ucap Vian sambil memegangi dagu Arra yang cantik itu.
"Nggak usah Pegang-pegang kita bukan muhrim!", bentak Arra. "Alahh apaan!. Dennis juga bukan muhrim lu, tapi udah berani cium-ciuman", celetuk Rizal (teman Vian).
"Heh diem yah lo, nggak usah ikut campur urusan gue. Nggak usah sok kek netizan. Jadi cowok nyinyir amat siih!!", bentak Arra yang benar-benar sudah sangat emosi.
"Buruan cepet apa syaratnya!!!", bentak Arra ke arah Vian.
"Oke syaratnya adalah, lu harus nerima cinta gua!", sontak membuat Arra terkejut dengan persyaratan yang diberikan oleh Vian. Arra mengingat ucapan Dennis di hari sebelumnya. "Lu janji yahh Ra. Jangan nerima cowok lain selain gua yahh", kata-kata itu terus terngiang-ngiang di pikiran Arra.
Namun, jika Arra melihat kondisi Dennis yang sudah tak memungkinkan, ia merasa sedih. Dennis mengangguk tanda agar Arra menyetujui syarat Vian. "Oke, gue mau. Asalkan mereka semua selamat!", jawab Arra. Tak terasa air mata jatuh di pipi Arra.
BERSAMBUNG.....
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE YAA
MAAF KALO CERITANYA KURANG GREGET
I LOVE U ALL❤🍎😊