Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 79



Arra keluar dari ruangan Dennis dengan air mata yang tak bisa berhenti mengalir. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Dennis. Arra tak tau mengenai hal yang akan terjadi.


Dokter Melanie yang melihat hal itu langsung ikut keluar dan berlari mengejar Arra. "Arra... Tunggu sebentar", panggil Dokter Melanie sambil berlari menghampiri Arra.


"Ada apa Dok??", tanya Arra mengusap air matanya. "Ada yang mau Dokter sampein sama kamu Ra", jawab Dokter Melanie. Mereka berdua pergi ke taman Rumah Sakit dan mengobrol.


Dokter Melanie menceritakan semua yang terjadi kepada Dennis. "Meskipun, Bu Meina minta Saya buat jaga rahasia ini, tapi saya nggak tega sama kamu tadi", ucap Dokter Melanie.


"Kenapa dokter nggak cerita juga sama Arra siih??. Kenapa???, apa Dokter takut sama Tante Meina??", tanya Arra kembali menangis setelah mendengar semuanya.


"Saya cuma takut kalo nanti kamu bakalan nyalahin Dennis yang sebenarnya dia nggak tau apa-apa", jawab Dokter Melanie menahan tangisan Arra.


"Nahh sekarang gimana caranya supaya Dennis balik lagi kayak dulu Dok???".


"Kamu harus membuat kepalanya terbentur. Jika kepala Dennis terbentur, ia akan kembali seperti sebelumnya. Tapi yaa kembali lagii, Dennis jangan sampe kebentur lagi, apalagi sampe koma. Dia jangan sampe yahh".


Arra mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Dokter Melanie. Beberapa saat kemudian, ada panggilan yang ditujukan kepada dokter Melanie untuk kembali bekerja. Kini Arra sendiri dan memutuskan untuk benar-benar pergi dari rumah sakit.


Tak terasa, Arra sampai di gerbang rumah sakit. Karena mobil yang semalam ia bawa dibawa pulang oleh papahnya, akhirnya Arra menelfon Aris untuk menjemput nya.


"Halo Raa... Ada apa??".


"Lo udah pulang dari sekolah?", tanya Arra dengan suara seperti orang sedang mabuk.


"Udahlahh mendingan lo cepet ke rumah sakit. Lo jemput gue sekarang di gerbang rumah sakit".


Aris bingung dengan nada suara Arra yang kedengarannya ia sedang tak baik-baik saja. Aris melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


Dengan kecepatan tinggi Aris sampai di rumah sakit dengan sangat cepat. Aris turun dari mobilnya dan menghampiri Arra yang sudah berdiri menunggunya sejak tadi.


"Gimana Ra??. Gua bawa mobilnya cepet kann, kek Valentino rossi bawa motor GP nya", ucap Aris mengharapkan pujian dari saudari kembarnya.


"Lama banget!. Bahkan sama siput ajah lo kalah", jawab Arra datar sambil berjalan menuju ke mobil. "Hihh, malahan ngelantur jawabnya. Ehh Heyyy. Arraaa!!, tungguinnn. Belom juga disuruh buat masuk mobil udah naik ajah sihh!", ucap Aris.


Selama perjalanan Aris dan Arra saling diam. Arra memasang wajah lelah. Aris penasaran dengan Arra. "Arra kenapa siih??, kok dia diem ajah siih. Biasanya dia itu berisik kalo lagi berduaan sama Gua", batin Aris sambil terus memandangi wajah Arra, hingga tak sadar dengan jalan raya.


"Fokus ke jalan Ris. Jangan sampe gue mati gara-gara lo nggak fokus pas nyetir!", ucap Arra membuyarkan lamunan Aris. "Ohh iyah iyah makasiih", jawab Aris.


"Raa...", tanya Aris. Arra hanya menolehkan wajahnya tanpa jawaban kata-kata. "Lu kenapa, kok lu kek-", belum selesai Aris bertanya tiba-tiba Arra minta untuk menurunkannya di pinggirian jalan.


"Ada apa Raa??", tanya Aris panik. "Turunin gue cepetan!", jawab Arra memaksa. Aris menepi dan Arra langsung turun ke pinggir jalan. Tiba-tiba, huek... Arra mengeluarkan semua makanan yang ada di perutnya.


"Ya ampun Astagfirullah, lu kenapa Raa??. Muka lu pucet banget, yaudah kita cari makan yukk, kek nya lu belom makan dehh seharian!", Aris membopong Arra sampai ke mobil.


BERSAMBUNG....