
Halo guys
Ha??, kangen?, uwu lopyu🫶🏻
Arra menyendiri di meja makan. Semua sudah tak di asrama, bolak-balik mulu ya kan kawan.
Ia merenungi semua yang terjadi. "Apakah ini semua kesalahan gue?. Gue bener-bener ngga bisa nyangka kalo Dennis sampe ninggalin gue cuma gara-gara itu!. Apa gue harus ngasih tau ke Dennis kalo itu ngga bener?, ngga!. Dia ngga mungkin percaya sama gue!, secara pikiran anehnya bakalan terus menyelimuti kebenaran!. Aaaaaarhgghhh pusing gue anjir", Arra mengacak-acak rambutnya.
"Hei sayang..", Bu Erica ikut duduk di meja makan menemani Arra yang sedari tadi menyendiri.
"Hai Mom", jawab Arra yang masih tetap melanjutkan lamunannya.
"Kok jam segini masih disini?, biasanya lagi telfonan atau VCan sama Ayang", ujar Bu Erica. "Ayang?", Arra terlihat bingung.
"Iyaahh... Ayang Dennis, hehehe".
"Oohh, emm bukan ayang Mom. Dia lagi sibuk".
"Sibuk?, sibuk ngapain?".
"Sibuk kerja kelompok sama kelompok belajarnya".
"Eyy, bukannya dia satu kelompok belajar ya sama kamu?".
"Mampus gue!, bingung kan lo!. Duhhh, ngapain siih gue pake lupa kalo dia itu satu kelompok belajar!!, tuh kan gue jadi skak mat, anjir", Arra semakin bingung.
"Sayangg.. udahlah, kamu pasti lagi ada masalah kan?. Ayo jawab sayang..", Bu Erica terus mendesak Arra agar mau menceritakan semua masalahnya.
"Ini cuma masalah biasa ajah kok Mom, udahlah biar Arra yang selesain sendiri. Lagian kan Arra udah gede, ya kaan Mom", jawab Arra. Bu Erica mengusap rambut Arra.
.
.
.
Melitha sudah sangat muak dengan kelakuan tak wajar yang dilakukan oleh Viola. Hingga suatu kelalaian terjadi. Saat Melitha tak ada di sana, salah satu penjaga membuka pintu penjara dan lupa untuk menutupnya.
Viola yang melihat pintu yang sudah terbuka, sontak langsung berlari. Namun, para penjaga itu mengejarnya. Ia berlari hingga sampai ke pintu keluar.
Ia tak sadar tiba-tiba masuk ke sebuah mobil yang entah siapa yang mengendarai. Mobil itu pun berjalan kencang.
"Huh!, akhirnya gue bisa selamat!. Tapi tunggu, kok?, gue?. Kok gue bisa ada di mobil siih??, ini mobil siapa???. Ya Allah, gue gimana siih??!", Viola melirik samping, siapa yang menyetir mobilnya.
Ternyata dia adalah Vian, yang juga seorang ajudan Melitha. Viola berteriak sekencang-kencangnya. "Woyy!!!, berisik anj*ng!", ujar Vian.
Viola mencoba membuka pintu mobil, namun ternyata sudah dikunci oleh Vian. "Viann!!, plis Yannn. Gue mohon, gue pengen pulang Yan. Buka pintunya Yan!!", Viola terus merengek.
"Heh Viola!, tenang dulu napa!. Gua ini lagi nolongin lu tol*l!. Malah lu berisik banget!", ucap Vian.
"Lu yakin mau nolongin gue?. Ohh gue nggak bakalan percaya sama lo gitu ajah, tidak semudah itu ferguso!", ujar Viola menyangkal.
"Tapi ini dimana Viann???".
"Rengasdengklok!".
"Hah??, eh tunggu dulu, keknya nama itu ngga asing deh di telinga gue".
"Jelas ngga asing lah!, orang itu tempat diculiknya bapak proklamator kita, Bapak Ir. Soekarno".
"Ohh iya yah, kok gue bisa lupa ya?. Itu di pelajaran apa ya?".
"Pelajaran IPS!, mangkanya kalo pelajaran IPS tuh jangan tidur!. Giliran pelajaran IPA bab Reproduksi ajah melek tuh mata!".
"Heyy!!, lo juga suka liatin gambar-gambar alat reproduksi yang ada di buku LKS kan Yan!, halah ngga usah nyalahin orang lain lu!", Viola menuding Vian.
"Ya gua mahh cowok, wajar kalo liatin tentang gituan. Kan cowok mahh punya napsu, emangnya cewek?, ngga punya napsu!".
"Hah?, what did you say?, cewek ngga punya napsu?!. Cewek juga punya kali!, bahkan gue juga punya napsu anjr".
Seketika Vian langsung mengerem mobilnya. "Mampus gue, ngapain gue ngomong kek gitu!", Viola langsung menutup mulutnya dengan satu jarinya.
"Vi.. Kita..".
"Kita pulang, ayok Vian".
Vian tak jadi melakukan aksinya. Ia kembali mengemudikan mobilnya.
"Vi..., gua kan udah mau nolongin lu, masa lu ngga ngasih gua imbalan siih Vi?", tanya Vian mancing-mancing.
"Ya deh, ya maksud gue tadi tuh, ini kan masa genting, gue harus buru-buru kabur. Ntar ajah kita ke hotel gue", jawab Viola.
"Hotel yang dibikin cuma buat pelakor sama om-om?. Hidihhh enak ajah, gua ngga selevel sama perselingkuhan!. Gua sama lu kan sama-sama single ya kaan, berarti ngga ada yang saling terikat. Cari yang lain ajah", ujar Vian.
"Yaudah lo ajah sana yang nyari, gue siih cuma ngasih enaknya ajah buat lo!".
"Yaudah oke, gua cariin. Oh iya gimana kalo di hotel milik gua ajah, tempatnya bagus. Bisa juga buat lu sembunyi dari Melitha dan ajudan-ajudannya. Gimana Vi?", tanya Vian menawarkan.
"Emm, boleh. Sekarang kita langsung ke sana ajah", ajak Viola. "Widih, lu udah ngga sabar ya pengen ngeW?", ledek Vian.
"Bukan ngga sabar itunya anjr. Maksudnya gue kan jadi bisa cepet sembunyi dari Melitha, tapi lo yakin tempat itu aman dari Melitha?", tanya Viola.
"Gua jamin 100% aman Vi. Yaa, asalkan lu mau itu..", jawab Vian menjorok ke arah sana.
"Iya iya lah!!, bawel banget lo!, tapi cuman sekali ajah ya, maksudnya semalem ini ajah ya!", ucap Viola. "Oke sayang, awogawog".
"Iddihh najisss!!", ujar Viola.
BERSAMBUNG...