Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 141



"Mereka punya hubungan spesial. Kami berempat dulu sebelum pindah kesini, sekolah di gedung yang sama, di Amerika. Tapi karena suatu masalah akhirnya gua sama Vian pulang ke Indonesia. Dan akhirnya hubungan mereka berdua terpaksa LDR. Huh, padahal niatnya besok pagi, mereka berdua mau ketemuan di Sekolah. Tapi yaa, gini jadinya", ucap Rizal menanggapi pertanyaan Raffa.


"Berempat?, lah satu siapa lagi?", Raffa kembali bertanya. "Ya siapa lagi kalo bukan Melitha. Kan kalo Tiara itu dia asli sekolah di SMP 2 IJAS kan", jawab Rizal. Raffa mengangguk paham. "Melitha?, berarti Melitha bukan pindahan dari SMP 2 IJAS dong?. Gua paham, ini bisa gua simpen di otak gua nihh, bisa ajah sewaktu-waktu ada sesuatu yang ada kaitannya sama persoalan ini", pikir Raffa.


.


.


.


.


~


Arra turun dari mobil Dennis. "Makasii yaa, udah mau anterin gue", ucap Arra dengan senyuman. "Iyahh, kan lu pacar gua. Masa gua tinggalin di tempat jauh kek begitu siih", jawab Dennis.


Tingg... Handphone mereka berdua berbunyi. Terdapat pesan yang amat serius. Mereka mendapatkan sebuah berita yang amat sangat serius, yaitu teman mereka mengalami musibah.


"Lusi meninggal?. Tunggu dulu, Lusi siapa Den?", tanya Arra. "Adiknya Luna.. Masa lu nggak ngerti, yaudah yuk kita rumah sakit", ajak Dennis.


Arra pun tak jadi masuk ke rumahnya, dan kembali pergi. "Apa meninggalnya Lusi ada hubungannya sama kesialan di hubungan gua sama Arra?", pikir Dennis.


.


.


.


Pagi Hari..


Hari ini adalah hari Senin. Hari yang seharusnya diadakan Ujian kelulusan. Namun, mereka terpaksa diliburkan, karena hari ini akan dilakukan prosesi pemakaman Lusi.


Semuanya sudah berkumpul di rumah Luna. Raffa berdiri di depan rumah Luna. Ia tak berani melihat orang yang sudah meninggal. Bisa-bisa ia takut untuk masuk ke rumahnya sendiri, karena terus mengingat wajah jenazahnya.


Amel datang bersama dengan teman yang lainnya. Tak ada sapaan di antara Raffa dan Amel. Mereka memang sudah benar-benar putus hubungan, setelah Amel tau bahwa Raffa tengah dijodohkan dengan Lolita.


Amel masuk ke rumah Luna. Ia memasukkan amplop berisi uang ke dalam kotak yang telah disediakan. Ia menyalami semua orang yang ada di dalam rumah Luna.


Bu Angel menahan tangan Amel. "Untung ajah anak saya nggak sama kamu yaah. Kalo iyah, uhh males banget!. Udah nggak sopan, genit lagi!", ujar Bu Angel. "Saya genit dari mana nya siih Tante?. Perasaan saya nggak pernah jadi pelakor di rumah tangga Tante deh!", jawab Amel. "Udah nggak usah diladenin Mel. Yuk kita masuk ke kamarnya Lusi", ajak Dona dengan suara kecil.


.


.


.


Waktu terus berjalan. Lusi, yang baru kemarin masih berada di cafe kakaknya, kini sudah berada di bawah tanah.


Luna terus memeluk batu nisan Lusi. "Udah Lun, lo jangan nangis disini, kasian Lusi lho, ntar dia nggak tenang", ucap Arra menenangkan hati Luna. "Yuk kita pulang yaah", ajak Arra membantu Luna untuk berdiri.


.


.


Di depan pintu masuk TPU, terdapat Aris, Rifky, Dennis, Jino, Vanno, Adit, dan juga Evan. Mereka tak berani masuk dan menyaksikan langsung pemakaman Lusi.


Mereka memakai jas hitam dengan sangat rapi sekali. Bahkan, Vanno memakai kacamata hitam.


Vanno melihat sekelilingnya, ia melirik ke kanan dan ke kiri. Seperti ada sesuatu yang tak dijumpainya. Vanno membuka kacamatanya. "Ehh, ngomong-ngomong kalian ada yang ngeliat Viola nggak?", tanya Vanno kepada semuanya. "Mana gua tau!. Tanya Aris noh!, dia kan pacarnya", jawab Jino. Semuanya melirik kepada Aris. "Lah?, ngapain lu pada ngeliatin gua?. Gua mana tau, emang gua bodyguard nya apa?", jawab Aris. "Ya tapikan lu pacarnya Ris", ucap yang lainnya. Mereka semua memaksa Aris untuk memberi tau keberadaan Viola.


"Udah gua bilang!. Gua nggak tau!. Gua bukan lagi pacarnya!", jawab Aris membentak. Sontak semuanya terkejut dengan bentakan Aris. "Yaudah siih Ris, kalem ajah nggak usah pake emosi juga kali", ujar Vanno.


.


.


.


.


BERSAMBUNG...