Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 147



Malam Hari...


Jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit. Arra sudah bersiap untuk pergi bertemu dengan Dennis. Ia turun dari kamarnya. Ia keluar dari rumah, ia membuka kunci mobilnya. Tiba-tiba ada yang memanggilnya dari dalam rumah. "Raa..", panggil Aris.


"Dia ngapain siih manggil-manggil gue?", pikir Arra. "Lu bisa nggak benerin kancing baju gua?", tanya Aris sambil memberikan kemeja dan peralatan menjahit. "Emm, besok ajah yaah", Jawab Arra. "Nggak bisa Raa. Soalnya mau gua pake buat ketemu sama Pak Camat hari ini Raa..", Aris terus memaksa Arra agar ia membantunya.


Akhirnya dengan terpaksa, ia pun mengerjakan tugas yang diberikan oleh Aris. Tapi.., apa Aris udah baikkan sama Arra?, atau Aris malahan tambah jahat?...


.


.


.


Setengah jam sudah berlalu. Akhirnya Tugas menjahit itu pun selesai. "Oke Thanks yaah Ra", ucap Aris. "Yaudah, gue udah telat nihh!", Arra langsung masuk ke mobilnya dan pergi.


"Liat ajah apa yang bakalan terjadi!", dalam batin Aris. Sebenarnya, itu hanya akal-akalan Aris saja. Ia ingin acara Dennis dan Arra menjadi hancur.


.


.


.


Sementara itu, Dennis tengah mondar-mandir di taman. Ia bolak-balik melihat ke arah jam tangannya. "Ya Allah... Astaghfirullah..", Dennis mengacak-acak rambutnya.


"Maafin yah gue telat Den..".


"Jam berapa sekarang?", tanya Dennis sudah mulai marah. "Iyah gue tau, tapi tolong maafin gue yaah. Plis Denn. Gue nggak akan-".


"Maaf mulu!, nggak akan ngulangin terus!. Tapi lu nggak pernah berubah. Lu jangan seenaknya gitu dong jadi cewek!", potong Dennis dengan nada suara yang cukup tinggi.


"Ya bukan gitu maksudnya Den, gue kan cuma-".


"Asal lu tau ajah yaah!. Lu janjiin jam delapan, iyah, gua dateng jam delapan, tapi lu dateng jam sembilan. Masih gua maklumin Ra!. Lu nanya yang nggak-nggak ke gua, gua jawab santai!. Tapi gua nggak bisa nerima kalo lu jalan sama cowok lain Raa!. Emang lu nggak bisa liat apa?. Gua cemburu Raa!!. Lu lebih mentingin bantuin sahabat lu piket daripada ketemu gua, gua masih sabar. Karna kita lagi berantem jadi lu pulangnya nggak sama gua dan lu pulang sama Rifky, gua terima Raa!!. Sebenernya apa siih kurangnya gua?. Nggak semua orang bisa dapetin cinta gua Raa!. Lu tau kan?, banyak banget yang ngantri buat jadi pacar gua Raa!. Coba dehh lu ngertiin gua sekali ajah!", ujar Dennis menjelaskan semua kekesalan dalam hatinya.


"Kok lo jadi ngungkit-ngungkit semua kesalahan gue siih Den?. Ohh jadi lo pengen selingkuh gitu?", tanya Arra salah paham. "Kok jadi selingkuh siih?".


"Iya kan?, udahlah ngaku ajah!. Kemaren lo ngapain sama Lolita di depan perpustakaan?. Lo selingkuh kan?".


"Harusnya gua yang tanya sama lu Ra!!. Kemaren malem lu ngapain sama Rifky di mobil?. Bukannya waktu itu kita lagi berantem. Apa jangan-jangan lu ngambil kesempatan buat jalan bareng sama Rifky? iyah??".


Tiba-tiba hujan turun sangat deras. Memang karena sekarang sudah memasuki musim hujan. "Udahlah... Kita putus!", Dennis langsung pergi.


Dennis menghela nafas, dan ia melepaskan pelukan Arra. Dennis pergi meninggalkan Arra. "Denniiiisss.... Gue nggak mau putus dari lo!!. Haaaaaaa... Denniiiisss.. Jangan tinggalin gue, gue minta maaf, Denniiiiiss", Hujan terus mengguyur tubuhnya dengan sangat deras.


.


.


Dennis mengemudikan mobilnya Dengan sangat cepat. "Maafin gua Raa.. Mungkin inilah keputusan yang tepat buat kita berdua. Tolong maafin gua. Gua masih sayang sama lu", air mata Dennis menetes deras. Ia menepikan mobilnya.


"Kenapa gua bisa tega ngomong kek gini?!. Kenapa gua bisa bodoh!. Kenapa gua harus tinggalin wanita yang gua sayangi!. Kenapaaa!!!", Dennis terus berteriak. Ia sengaja membenturkan kepalanya ke setir mobilnya. "Gua bodoh!. Kenapa gua bisa kek gini!".


.


.


"Apa salah gue Den... Kenapa lo tega ninggalin gue kek gini... Kenapa lo sia-siain 3 tahun kita Denn.. Apa lo nggak mikir sebelum bikin keputusan?. Gue benci sama lo Denn!!!!!", Arra seperti tak bisa menangis. Sekujur tubuhnya sudah sangat basah.


"Arra??, lu ngapain disini??. Ayo pulang, ntar lu masuk angin lhoo. Ayo pulang", ajak Rifky yang tiba-tiba datang menjemput Arra menggunakan payung.


Semua itu seperti sudah diatur oleh Rifky. Padahal taman itu sangat dekat dengan rumah Bagus. Tapi kenapa tiba-tiba Rifky yang datang menjemput?. Apakah itu memang sudah menjadi bagian dari rencana Rifky.


.


.


.


Keesokkan harinya...


Arra berangkat ke sekolah diantar oleh supir pribadi di rumahnya. Ia berjalan pelan menuju ke kelas. Hari itu masih termasuk hari ujian. Ia masuk ke kelasnya, ia meletakkan tasnya dan ia pun duduk di bangkunya.


"Ooh, itu dia Arra. Ehh Arra, gue mau nanya nihh. Ini lo?", tanya Tiara menunjukkan sebuah video di handphonenya. Arra melihat video itu dengan jelas. Ia sangat terkejut melihatnya. Di video itu terlihat Arra sedang mencium Rifky dengan penuh *****. Meskipun hanya 6 detik saja, namun mungkin saja video itu sudah menyebar ke seluruh handphone. "Ini bukan gue!. Gue nggak mungkin kek gini sama Rifky. Gue berani sumpah!", Arra mencoba membela dirinya. "Alah lo nggak usah sok-sokan main sumpah deh!. Lo kira dengan lo bilang 'gue sumpah' itu lo bisa terbebas dari kasus ini?!!. Liat ajah, pasti bakalan banyak yang belain Viola!", ujar Tiara dan pergi bersama bala-bala nya.


.


.


.


BERSAMBUNG...