
Pikiran aneh terus menghantui di benak Amel. "Apa gue samperin ke lantai atas yaa??", gumam Amel sambil terus mondar-mandir. "Iya deh", Amel pun berjalan menuju lift. Ia menekan-nekan tombol pintunya. "Iihhh ayo dongg, buruann", gerutunya. Setelah pintu terbuka Amel pun langsung menempatkan diri di lift.
.
.
Pintu lift terbuka. Ia mencari ke seluruh kamar yang ada di lantai paling atas tersebut. Amel teringat dengan kata-kata Lusi "Lusi penasaran sama pemandangan dari lantai atas. Soalnya patung Queen of Chastity's Light katanya bagus banget kalo lagi waktu malem".
"Ooh iyaa, Lusi mau liat patung QCOL. Berarti ke jendela yang suka terbuka sendiri", gumam Amel dan langsung menuju ke tempat yang ia pikirkan.
Ia melihat dari kejauhan seperti ada banyak sekali darah yang berlumuran. Tak sengaja, sepatu Amel menyentuh darah yang berlumuran itu. "Banyak banget darahnya", gumamnya. Saat ia melihat keluar jendela, ia sangat-sangat terkejut. Amel tak bisa berkata-kata apapun lagi. Ia hanya bisa meneteskan air mata.
.
.
.
Di sisi lain, Luna terus mencoba menghubungi Lusi, namun tak ada satu panggilan pun yang Lusi jawab. "Lusi lo dimana siih Si??", gumam Luna sangat khawatir. "Apa gue samperin dia ajah kali yaa", Luna pun bergegas untuk pergi. "Ren, lo tolong jagain cafe nya dulu yaa, bilangin sama temen-temen lo juga. Gue mau pergi bentar", kata Luna berpamitan dengan para pekerjanya.
.
.
Luna terus menyusuri jalan. "Lusi, ayo dongg, lo dimana siih??", Luna terus menengok ke kanan dan ke kiri, berharap ia melihat Lusi. Luna berhenti sejenak di depan asrama. Ia masih terus melihat ke kanan dan ke kiri. Saat ia melihat ke arah patung QCOL, ia baru terkejut. "Hah!!!", Luna begitu terkejut. "Lusii!!!!", teriak Luna, membuat orang-orang sekitar langsung menghampirinya. "Ada apa mba??", tanya salah satu ibu-ibu. "Itu... Adik saya Lusi", Luna mengarahkan jarinya ke arah patung QCOL itu. Orang-orang itu juga terkejut.
"Masya Allah, ngeri banget yaah. Padahal kan katanya nggak boleh ada pertumpahan darah di patung jni, iya kan", ujar salah satu bapak-bapak yang ikut mengerumuni Luna.
.
.
.
.
.
Mayat Lusi sudah berada di ruang jenazah. Hanya ada Luna dan beberapa penjaga ruangan itu. Tak lama, Raffa pun masuk ke ruangan Lusi. "Lusi??", Raffa begitu tak mempercayai dengan adanya fakta bahwa Lusi sudah meninggal dunia. "Lusii.... Bangun sayangg... Lo adek kakak satu-satunya... Jangan pergi dekkk", Luna terus menangis sambil memeluk mayat Lusi yang sudah tak bergerak.
Luna hampir kehilangan kesadarannya. Untung saja Raffa langsung memeluknya untuk memberi ketenangan pada jiwa Luna.
"Gua paham sakitnya Lun, lu yang sabar yaah", ucap Raffa menenangkan hati Luna. "Dia keluarga gue satu-satunya Faaa... Kenapa satu persatu orang yang gue cintai pergi siihh.. ", Luna terus saja menangis.
Seseorang masuk ke ruangan itu dan langsung memeluk mayat Lusi dengan penuh tangisan. "Lusiii......", teriak pria itu, yang tidak lain adalah Vian.
"Lu bilang lu mau ketemu gua karna lu kangen sama gua!. Tapi apa buktinya Si!. Lu ninggalin gua...!!", ujar Vian sambil mencoba membangunkan Lusi. "Vian?", Raffa terkejut saat melihat Vian datang. Vian hanya menolehnya.
.
.
Raffa keluar dari ruangan itu. Melihat ada Rizal, ia pun langsung menghampirinya. "Ehh Faa. Kok lu ada disini juga?", tanya Rizal. "Iyah, gua kaget pas denger ada berita itu. Perasaan tadi siang gua ketemu sama Lusi di cafe nya Luna", jawab Raffa. "Emm iyah. Kaget gua juga".
"Ehh Zal, gua mau nanya nihh. Sebenernya Lusi sama Vian punya hubungan apa siih??", tanya Raffa penasaran.
.
.
.
BERSAMBUNG...