Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 65



Selama di perjalanan, Arra dan Meyka tak saling berbicara.


"Jino, Nico, kita harus nyari Dennis kemana??", tanya Arra semakin khawatir. "Sabar yah Ra, gua sama Jino lagi nyari ide nihh", jawab Nico menenangkan hati Arra.


Tiba-tiba HP Arra berdering. Terlihat Bu Meina yang menelfon Arra.


"Halo Arra. Gimana, kamu udah ketemu belum sama Dennis", tanya Bu Meina dengan nada khawatir.


"Halo Tante. Maaf Tante, kita belum ketemu sama Dennis", jawab Arra seperti merasa bersalah.


"Ya Allah. Dimana Dennis Ya Allah. Yaudah kalo gitu, nanti kalo ada informasi apa lagi, kamu cepet telfon Tante yahh".


"Iyah Tante, oke", kemudian Bu Meina mematikan telfonnya dengan Arra. Nico terus memikirkan cara agar cepat menemukan Dennis.


"Kalo Dona juga diculik, berarti Dennis nggak mungkin diculik sama Dona, apalagi sama Meyka. Apa jangan-jangan ini adalah ulah...?", batin Jino.


"Tunggu!!", ucap Jino mengejutkan semuanya. Nico menghentikan mobilnya. "Kenapa Jin?", mereka bertiga bertanya secara bersamaan.


"Gua tau siapa pelakunya!", jawab Jino sambil menengok Nico yang ada disebelahnya.


"Siapa?", Arra penasaran. Nico paham dengan orang yang dimaksud oleh Jino. "Vian!", ucap Nico dan Jino bersamaan.


Nico melajukan mobilnya ke tempat yang biasa menjadi markas Vian dan kawan-kawannya. "Kita ke markas yang kedua ajah Co!", perintah Jino.


Nico menganggukan kepalanya. "Anehh, kok Jino sama Nico tau siih sama markas Vian. Padahal kan Vian baru pindah ke sekolah kita hari ini. Lho kok mereka udah tau. Kayaknya ada yang nggak beres nihh", pikir Arra.


.


.


.


Beberapa saat kemudian, mereka ber4 sampai di markas Vian yang letaknya sangat jauh dari perumahan.


Tempat itu seperti rumah kosong yang sudah berpuluh-puluh tahun tak ditempati. Tempat yang dipenuhi dengan debu dan sangat menjijikkan.


"Sumpah ini gelap banget dehh, mana kotor lagi", gumam Meyka yang benar-benar jijik dengan tempat itu.


"Udah lu diem ajah, yang penting sahabat kita itu ketemu!", tegur Nico.


Jino melihat sekeliling, dan menemukan beberapa potongan bambu yang kering. "Ikut gua!", mereka pun mengikuti Jino.


Jino melihat ada beberapa potongan kain juga dan ia pun mengambilnya. "Ada yang bawa minyak tanah nggak?", semua menggeleng. "Kalo korek ada yang bawa nggak?", tanya Jino lagi.


"Gua bawa nih Jin", jawab Nico sambil menyerahkan sebuah korek api. Jino menyalakan api ke 4 bambu tersebut.


"Nih bawa masing-masing satu yahh. Biar nggak terlalu gelap", kemudian mereka mulai memasuki tempat kosong itu.


Tubuh Meyka mulai merinding. Meyka merasa seperti ada banyak sekali sosok-sosok penunggu di rumah kosong itu yang melihat nya. "Raa. Serem banget yahh", ucap Meyka mulai mendekat ke Arra.


"Udah lo tenang ajah, disini emang banyak banget sosok nya. Udah lo diem ajah, biar mereka nggak ganggu kita okee", jawab Arra yang memang termasuk anak indigo.


Menurut Arra hantu-hantu di rumah kosong itu tak terlalu menakutkan. Karena tujuan mereka ke tempat itu adalah untuk membebaskan orang yang sedang disiksa.


"Gimana kalo kita mencar ajah. Siapa tau ntar kalo mencar jadi lebih cepet nemuin Dennis sama Dona nya", ucap Jino, namun tidak disetujui oleh Arra.


"Mendingan jangan dehh. Justru kalo kita mencar, kita bakalan gampang ketauannya", ujar Arra memberi saran.


"Oke yaudah dehh", jawab Mereka bertiga bersamaan.


BERSAMBUNG....