
Hari itu Nico pulang bersama Vanno. Sungguh tak biasanya mereka berdua akur. "Ciee kalian berdua pulang bareng hahaha", ucap Vionna meledek Vanno dan Nico.
"Ehh iya yahh, kok kita berdua pulang bareng siih!!", kata Vanno baru menyadarinya. "Udahlahh nggak apa-apa Van. Ohh iyah gua ada undangan penting nihh buat kalian", ucap Nico.
"Hahh undangan??, gue diajak nggak??", tanya Vionna penasaran. "Emmm boleh siih, tapi ntar lu di cariin sama Viola nggak??", Nico bertanya balik ke Vionna. "Nggak lahh kan gue sama Viola itu beda urusan", jawab Vionna.
"Gimana kalo ntar malem kita ke Bar milik Luna", ajak Nico. "Hah???, Barnya Luna yang ada di deket Mall 2 itu?", tanya Vanno.
"Iyah, kan Luna emang cuma bar satu doang, dan tempat nya disitu Van", jawab Nico sambil memukul bahu Vanno karena geram. "Lahh terus siapa ajah yang diajak Van?", tanya Vionna.
"Cuma kita bertiga doang. Gimana??, mau nggak lu Van? Na?", Wajah Vanno terlihat tak memungkinkan untuk diajak. "Kalo gue siih mau-mau ajah, yaa asalkan ditraktir hihihi", jawab Vionna cengengesan.
"Siaplahh, pasti itu mahh. Kan gua yang ngajak lu berdua, udah pasti gua yang bayarin dongg", kata Nico. "Gimana Van??", Vanno masih bingung dengan ajakan Nico.
"Emm, ya dehh gua ikut. Ntar malem kita ketemuan di depan pintu masuk yahh", ucap Vanno. "Nahh gitu dongg. Yaudah oke dehh kalo gitu", kata Nico.
Pindah ke Evan dan Dona...
Meyka dan Dona selalu pulang bersama. Begitu juga hari itu. Mungkin mereka berdua sudah benar-benar menjadi baik setelah ia ditolong oleh Arra.
"Tunggu dulu Mey, kok tali sepatu gue kek lepas-lepas mulu yahh dari tadi. Bentar yahh gue mau iket tali nya dulu okee", ucap Dona menghentikan langkahnya.
"Yaudah kalo gitu, tapi gue boleh pulang duluan nggak??. Soalnya gue udah dijemput tuhh sama Om gue yang dari Palangkaraya", Meyka langsung berlari pergi, bahkan Dona belum menjawab ya atau tidak.
"Yahh yahh. Nckk... Yaudah dehh gue pulang sendirian. Duhh talinya susah banget siihh. Giman-", tiba-tiba Evan datang dan mengikatkan tali sepatu Dona yang terus-menerus lepas.
"E..E..Evan??", Dona begitu terkejut. Evan terus fokus mengikat tali sepatu Dona tanpa menjawab sapaan dari Dona. "Udah", ucap Evan. Dona bertambah kaget saat tiba-tiba Evan mengusap pipi Dona dengan penuh kasih sayang.
"Yaudah ayo", Evan sudah beberapa langkah berjalan, namun ia berhenti, Evan memutar badannya. "Mau pulang atau disini ajah?", tanya Evan saat melihat Dona masih berdiri mematung.
"Hah??, ahh iyah ayo gue juga mau pulang..", jawab Dona masih terbata-bata. Evan hanya tersenyum melihat Dona yang terkejut karena dirinya yang peduli kepadanya.
.
.
.
.
"Van.., Emm, gue minta maaf yaah, atas semua kesalahan yang gue lakuin sama kalian semuanya. Sekarang gue sadar, kalo ternyata orang yang selalu gue jahatin, itu aslinya orang baik", ucap Dona.
"Dan yang sebenernya orang jahat di depan umum, itu aslinya punya hati yang baik. Karena itu gua suka sama lu", ucap Evan memotong kalimat Dona.
"Maksud nya Van?", tanya Dona tak mengerti dengan ucapan Evan. Evan menghentikan langkahnya. Evan menatap Dona dengan penuh cinta.
"Maksudnya adalah, gua tau semuanya tentang lu. Gua tau, lu sebenernya orang yang memiliki hati yang paling baik. Gua tau, lu kalo di sekolah suka bergaya orang kaya, orang jahat, anak mamih dan semacamnya. Tapi aslinya lu kalo dirumah itu diasingkan, iya kan?. Orang tua lu selalu ngasih lu pilih kasih sama sodara dan sodari lu. Yaahh meskipun lu suka hahahihi di sekolah tapi asli kalo lu dirumah hati lu kosong. Nggak ada yang bisa ngehibur lu. Gua pengin bisa lebih deket sama lu. Lu pasti ngerasa, "kenapa nggak ada yang sayang sama gua?, kenapa nggak ada yang peduli sama gua?", tapi aslinya lu ada yang peduli ada yang sayang, yaitu gua. Meskipun semua temen-temen gua ya Aris, Rifkyx Nico, Dennis, Raffa dan semuanya nggak pernah ngijinin gua buat deketin lu dan belain lu kalo lu lagi kena masalah, tapi gua tetep pada keyakinan gua. Bahwa gua sayang sama lu. Andai lu tau Dona, waktu semuanya marahin lu gara-gara Arra masuk rumah sakit karena lu, sebenernya gua nggak tega lu dicekek, lu disiksa, gua nggak tega Dona. Gua nyesel, nggak bisa jagain cewek yang gua suka. Tapi gua harus sadar diri, lu nggak bakalan bisa suka juga sama gua. Gua jauh dari kriteria lu", jawab Evan menerangkan nya. Evan kembali berjalan, namun Dona masih berdiri dengan air mata yang menetes.
"Gue juga suka sama lo Van!", Deg... Evan langsung menghentikan langkahnya. Dona berjalan beberapa langkah menghampiri Evan. "Gue juga suka sama lo Van, dari awal lo belain gue. Saat semua orang ngejauhin gue, lo malahan ngedeketin gue. Saat lo ada di deket gue, hati gue rasanya nggak sepi lagi. Disaat gue liat lo lagi dimana pun, hati gue ngerasa bahagia. Meskipun gue juga nggak tau lo juga suka sama gue atau nggak", ucap Dona menimpali jawaban Evan.
Evan kembali menatap Dona, kini wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa centi saja. Tiba-tiba, Evan memajukan bibirnya dan mulai melakukan aksi ciumannya dengan Dona. Mereka berdua terlihat sangat menikmati, hingga tak terasa kalau ternyata mereka mengobrol sudah sangat lama, dan tak terasa kalau ternyata matahari sudah hampir terbenam.
BERSAMBUNG...