
Arra masih belum puas untuk bertanya kepada Melitha, anak baru itu. Arra kembali berpikir untuk mengikutinya. "Tunggu", ucap Arra menghentikan langkah Melitha. Melitha membalikkan badannya, sekarang mereka berdua berhadapan. "Lo dari SMP mana yaa?", tanya Arra masih penasaran. "Penting kah?", jawab Melitha yang justru balik bertanya dengan nada acuh tak acuh.
Tanpa menjawab pertanyaan Arra, Melitha langsung pergi begitu saja meninggalkan Arra. "Dia siapa siih sebenernya?. Kok dia penuh dengan teka-teki yaah?", tanyanya dalam hati. "Arra, ayo", ucap Jino memecahkan lamunan Arra. "Ehh Jino, ayo", jawab Arra. Pikiran Arra masih tertuju pada Melitha.
"Raa??", tanya Jino kembali memecahkan pikiran Arra. "Iyah?", jawab Arra. "Lu lagi mikirin apa?. Kok kek serius banget gitu siih?", tanya Jino. "Emm... Gue lagi mikirin-". "Arra!!", teriak Vian memotong pembicaraan Arra dengan Jino. Arra dan Jino mengalihkan pandangannya ke arah Vian. Wajah benci kembali terpampang di wajah Jino. "Kenapa Yan?", tanya Arra biasa saja seolah-olah tak ada masalah apapun di antara mereka. "Kenapa?, huh!!. Lu udah lupa yaa sama hubungan kita?. Jangan lupa Ra, kita itu masih punya status pacaran!. Lu masih jadi pacar gua!", bentak Vian dengan nada yang begitu tinggi.
"Heh!!, kita itu udah putus!!. Gue nggak pernah nganggep kita itu pernah punya hubungan!. Jadi, tolong jangan pernah sebut gue pacar lo lagi!", jawab Arra dengan kekesalan. Vian berjalan mendekati Arra. Ia hendak menampar Arra, namun, tangannya langsung ditahan oleh Jino. "Lepasin!", bentak Vian melototi Jino. "Jangan pernah main kasar sama cewek!, apalagi sama Arra!!", ucap Jino masih dengan nada santai. "Heh!!, lu nggak usah ikut campur yaah!!. Emang lu siapa siihh??, berani-beraninya lu ikut-ikutan urusan gua sama Arra!!", tanya Vian penuh kemarahan.
"Lu mau tau gua siapa?!!. Gua sahabat dekatnya Arra!!. Dan sekaligus bakalan jadi pacar dia!". Deg...Deg...Deg... Dennis terkejut bukan main. Begitu juga dengan Arra, ia lebih terkejut saat mendengar seorang Jino membuat pernyataan sekonyol itu. Dennis menjatuhkan buku yang hendak ia berikan kepada guru IPA, hingga Arra mengalihkan pandangannya ke Dennis. Arra bertambah kaget lagi. Dennis langsung pergi dengan raut wajah yang emosi. Dengan perasaan campur aduk, Arra pun mengejar Dennis yang tengah emosi level tinggi.
"Pacar?, nggak usah mimpi lu!. Yang ada lu malahan dicampakkan hahahaha!!, udah yuk kita cabut!!", ucap Vian dan kemudian pergi meninggalkan Jino sendiri. Jino belum sadar dengan apa yang dikatakannya barusan. Bahkan, Jino juga belum tau kalau ternyata ada Dennis di tempat ia mengatakan hal konyol.
Arra terus berlari mengejar Dennis. "Denn!!!. Tunggu Den!!, gue bisa jelasin semuanyaa!!", panggil Arra. Akhirnya Dennis berhenti di taman samping Aula A-IJAS. "Gue bisa jelasin semuanya Den, ini nggak seperti apa yang lo liat!", ucap Arra terlihat takut kehilangan kepercayaan Dennis. "Ngapain lu jelasin?. Toh juga udah jelas kan, sekarang gua liat kayaknya lu lebih sering sama Jino", jawab Dennis dengan senyuman tipis di ujung bibirnya. "Kapan Den?, kapan?. Gue nggak pernah berduaan sama cowok lain selain lo!. Gue rela-".
"Lu nggak perlu bilang lu rela - lu rela segala. Udahlah lupain ajah masalah ini. Gua juga masih belom inget gimana hubungan kita sebelumnya!. Dahlah!!, lu silahkan pergi dari sini!, gua butuh waktu sendiri!", potong Dennis. "Lu nggak mau pergi?. Yaudah, gua pergi", tambah Dennis dan kemudian pergi. Arra hanya bisa meneteskan air matanya. "Ya Allah, kenapa semuanya jadi gini siih??", gumam Arra setelah Dennis berlalu.
BERSAMBUNG...