
"Lu mau masuk?, gua bantu yaah", tawar Rizal. Wajah Arra menunjukan kalau ia terlihat bingung dan tidak paham dengan penawaran dari Rizal. Rizal membungkukkan badannya agar Arra dapat menjangkaunya. "Emang lo nggak keberatan gue injek pundaknya?", tanya Arra tak enak hati. "Udah nggak apa-apa, tenang ajah. Yokk", jawab Rizal dengan senyuman di wajahnya.
.
.
.
"Huhh, akhirnya bisa masuk jugaa. Nahh lo gimana Zal?", tanya Arra. "Gua?, udah lu tenang ajah, gua bisa kok naik sendiri", jawab Rizal dengan santainya. Ia pun memanjat pagar tembok sekolahnya dengan tenang. "Nahh kan bisa", ucap Rizal kembali tersenyum. "Bisa ae lo", ujar Arra sambil tersenyum kagum kepada Rizal. "Udah yukk, kita masuk, sebelum ada guru dateng", ajak Rizal. Arra mengangguk tanda iya.
.
.
.
Di Kelas...
Semua siswa-siswi terlihat sudah rapi di tempat duduknya masing-masing. Hanya terlihat kursi di samping Lolita dan Vian saja yang masih kosong melompong.
"Arra kok masih belom dateng-dateng siih?. Dia kemana yaa?, apa jangan-jangan dia nggak berangkat?. Kalo dia nggak berangkat pasti dia udah WA ke gua dong tadi malem!", pikir Dennis. Ia semakin gelisah.
Tiba-tiba Arra masuk sambil berlarian. "Nahh itu dia, akhirnya dia nongol juga. Ehh tapi kok?", Dennis terkejut saat melihat Rizal berjalan mengekor Arra. "Poll banget-banget nyeseknya anj*ng!!", kesalnya dalam hati. "Dia ngapain siih pake jalan barengan sama Rizal!!. Udah tau pula Rizal itu musuh gua!, malah pake berangkat barengan!", gerutu Dennis dalam hati.
Tak lama Mrs. Dian datang ke kelas untuk mengajar mapelnya di kelas 8A. "Hallo anak-anak Bunda yang paling Bunda sayangi", sapa Mis Dian kepada seluruh siswa dan siswi di kelas. "Halo juga Misss", jawab siswa-siswi. "Ohh iya sebelumnya Mis mau ngasih ucapan selamat datang buat Melitha dan Tiara yaa. Hari ini kalian sudah bisa memulai pelajaran kalian disini, bareng sama anak-anak yang lain. Mohon kerjasama nya yaa. Kasih tepuk tangannya dong buat mereka berdua (tepuk tangan sekelas). Ohh iya, kalo kamu kesulitan waktu ngerjain soal, kamu bisa tanya sama Arra, Dennis, Aris, Viola, Rifky, sama Raffa juga okee", ucap Mis Dian. "Yes Mis", jawab Tiara. "Satu senjata terbaik buat deketin dia", senyum jahat terpampang di wajah Melitha.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi, beberapa jam pelajaran selesai. Tak seperti biasanya Dennis pergi ke kantin tanpa berbicara, tanpa senyuman, apalagi ajakan kepada Arra. Dennis langsung pergi dengan mengajak Jino dan Evan.
Arra berlari untuk mengejar Dennis dan teman-temannya, tapi sayangnya ia tak sengaja menabrak Melitha yang tengah berjalan, hingga Melitha terjatuh. "Aduhhh!!!", teriak Melitha cukup keras. "Aduhh maafin gue yaah, gue nggak sengaja Mel", ucap Arra sambil membantu Melitha berdiri. Namun, bantuan dari Arra itu justru tidak diterima dengan baik oleh Melitha. Melitha justru membalas mendorong Arra hingga ia terjatuh, untungnya Rifky langsung dengan sigap menolong Arra.
"Lu apa-apaan siih?, Arra udah minta maaf lho sama lu!. Kok lu malahan dorong dia sampe dia jatuh gini siih!!", bentak Rifky kepada Melitha. Bukannya meminta maaf, Melitha justru malahan balas membentak Rifky. "Minta maaf?, itu minta maaf?. Hah!, itu tadi lo bilang dia minta maaf?. Sumpah yaa, katanya dia itu cewek yang paling pinter, paling hebat, she the best in the class, tapi beda sama kenyataannya. Dia itu menurut gue, nggak ada bedanya sama pembunuh", ucap Melitha sembari melipat tangannya di depan dadanya.
"Jaga yaa omongan lu!", hampir Rifky akan menonjok Melitha, namun pas sekali Arra langsung menahannya. "Udah Ky!, gue emang salah. Gue yang salah, harusnya tadi itu gue nggak lari-larian", ucap Arra. Raffa yang melihat Arra mengalah, merasa terenyuh. Ia kagum melihat adiknya yang baik hati. "Itulah alasan kenapa gua lebih sayang Arra ketimbang Reva", pikir Raffa sambil tersenyum.
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE
I LOVE U ALL❤🍎❤🍎