
Malam Hari (setelah sholat Isya)...
Lolita merebahkan tubuhnya ke kasur. Malam kedua ia tidur di Asrama, jauh dari ayahnya yang paling ia sayangi. Namun sebaliknya, Lolita justru bahagia bisa jauh dari ibunya. Biasanya seorang ibu adalah orang yang paling bahagia jika melihat anaknya bahagia. Namun, berbeda dengan sifat dan watak ibunya Lolita, ia bahagia jika ia berhasil menghasut Lolita untuk menuju ke jalan yang salah.
Entah mungkin kebetulan, suatu malapetaka datang, ibu Lolita menelfonnya agar ia datang ke restoran untuk bertemu dengan tamu pilihannya. "Apaan lagi siih nii orang satuu!!. Baru juga gue ngerasa nyaman nggak ada dia, jadi nggak terlalu diatur. Ehh malahan dia nelfon suruh buat dateng ke restoran. Pasti dia mau jual gua lagi nihh!!", gerutu Lolita.
Lolita pun langsung menyiapkan baju untuk dipakainya nanti. Beberapa menit, ia pun siap untuk pergi menemui ibunya. Tak lupa ia juga membawa tas jalan-jalan kesukaannya.
.
.
.
Di parkiran, Lolita berpapasan dengan Jino. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. "Tenang Taa... Lo nggak boleh grogi!. Lo harus semangat, ntar jadi nggak dikira salting", batin Lolita sambil merapikan rambutnya.
"Kemana Ta?", tanya Jino menghampiri Lolita. "Yah?, emm mau ketemuan sama Mamah di restoran. Lo mau kemana?", jawab Lolita terlihat grogi. "Hahah, dia grogi nihh papasan gua. Aduhhh gimana ntar kalo jadi pacar gua?, keknya dia nggak mau ngomong sama gua dehh", batin Jino, ia menahan tawanya.
"Mau ketemuan sama Mamah?. Baru juga sehari, udah kangen ajah sama Mamah, hihihi. Gua abis beli sesuatu, dan sekarang mau balik ke kamar", jawab Jino meledek Lolita. Pipi Lolita memerah seperti tomat.
Tak terasa Lolita berjalan semakin mendekat ke depan Jino. "Dia mau ngapain nihh??. Aduhh gila!!", batin Jino, ia menelan ludahnya kasar. "Ekhemm!!!. Ciee...Lolita sama Jino lagi berduaan di parkiran", ledek Arra yang tiba-tiba datang mengejutkan mereka berdua.
Karena kaget, Lolita langsung masuk ke mobilnya, dan pergi ke tempat yang akan ia tuju sebelumnya. "Ciee!!, lagi ngapain siih Jin?. Berduaan mulu, mana tempat sepi lagi nihh", ledek Arra. Jino merasa terpojok, ia tak bisa berkata-kata lagi.
"Anjirr!!. Awas yaah lu Ta!, gua main ditinggal gitu ajah lagi!!. Kan gua jadi bingung apa yang harus gua jelasin ke Arra!!", batin Jino sambil melirik tajam ke arah pintu keluar parkiran bawah tanah itu.
"Udah lahh, tenang!!. Nggak usah takut gitu, gue nggak bakalan gigit lo kok!. Tapi yaa mungkin gue bakalan beberin ke semua orang, kalo kalian berdua itu berduaan di parkiran bawah tanah A-IJAS!", ujar Arra melipat lengannya.
Deg!!!. "Jangan Raa!!!. Pliss!!, jangan Raa!!", ucap Jino memohon, sambil bertekuk lutut. "Jangan gini ahh Jin!. Gue ngerasa jadi kek disembah tauu!!. Yaudah gini ajah!!, masalah lo sama Lolita, gue nggak bakalan bocorin. Tapi asalkan lo mau jadi temen curhat gue alias sahabat gue!", ucap Arra.
Jino langsung kaget mendengar penyataan Arra. "Hah??. Sa-Sa-sahabat??", tanya Jino bingung. Arra menganggukan kepalanya. Jino menghela napasnya dalam-dalam. "Gimana mau nggak?", tanya Arra lagi.
"Ra... Dengerin gua yaah, sekarang gua itu lagi dimata-matai sama Dennis, jadi gua nggak mungkin mau bareng-bareng sama lo setiap saat!. Ya gua siih mau jadi sahabat lu, tapi ya gitu balik lagi, lo inget kan betapa marahnya Dennis waktu gua cuma ngomong kek gitu demi ngelindungin lu!", ucap Jino sambil memegang kedua bahu Arra.
"Hemm☹, tapi keknya Dennis udah percaya kalo lo itu beneran ngelindungin gue dehh Jin. Pliss yaah", kata Arra memasang wajah sedih. "Emm, yaudah iya iya. Tapi lo harus bener-bener jelasin ke Dennis yaah, kalo gua itu nggak bakalan nyakitin lu yaah", jawab Jino. Arra menganggukan kepalanya senang. Mereka berdua tos.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE YAAH
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1442 H.
I LOVE U ALL🍎❤🍎❤