Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 86



Luna mengambilkan tiga botol minuman untuk Vionna, Nico dan Vanno. "Udah kalian berdua mau pesen makanan apa??", tawar Nico setelah Luna pergi meninggalkan tempat duduk mereka bertiga.


"Gua mau pesen makanan yang paling enak di cafe ini", ucap Vanno berlagak mengkhayal. "Bolehh silahkann. Asal jangan yang mahal-mahal yahh", jawab Nico, diikuti oleh tawa mereka bertiga.


Pindah ke Aris dan Arra...


Aris dan Arra sudah bersiap untuk pergi ke bar milik Luna. "Mahh aku sama Aris mau pergi dulu yahh", pamit Arra kepada Bu Erika. "Mau kemana Ra?, Ris?", tanya Bu Erika menyodorkan tangannya.


"Mau nyari yang seger-seger Mah. Ohh iyah Mamah mau kita bawain apa?", jawab Arra. "Mau nyari yang seger-seger?. Lahh itu di freezer banyak, ada es kemaren kamu beli tuh Ris. Ada donat yang nggak jadi kamu makan Ra, kayaknya udah dingin dehh", jawab Bu Erika tak paham dengan maksud perkataan Arra.


"Maksudnya itu kita mau nyari cewek yang-", dengan sigap Arra langsung membungkam mulut Aris dengan telapak tangannya dan langsung menyeret nya ke mobil.


"Yaudah yahh Mahh, dadahhh", Arra langsung menutup pintu mobil. "Mereka berdua kadang suka aneh dehh. Kok bisa yaa aku dulu ngelahirin anak kembar, dua-duanya aneh lagi. Hahyyy", Bu Erika menepuk jidatnya.


.


.


.


"Lo mahh ngomong begitu di depan Mamah, gila lo yahh. Untung ajah Mamah tadi nggak curiga", ucap Arra geram. "Yaudah siih Ra, kan emang bener kita itu keluar mau nyari yang seger-seger ya kann", jawab Aris dengan wajah sok nya.


"Ya nggak gitu juga kali Riss!!!. Lo ajah sana nyari janda yang gatel biar sekujur badan lo itu merah-merah gara-gara di nempel-nempel sama janda gatel!", Aris hanya tersenyum mendengar ocehan saudari perempuannya yang memang terkenal dengan kecerewetannya.


Arra mengemudikan mobilnya dengan wajah yang geram. Meskipun Arra memang sudah biasa melihat kelakuan adik laki-laki nya yang tidak bisa di rem.


Selama di perjalanan Arra hanya terdiam dan lebih fokus ke jalanan. Hanya sesekali ia melirik tajam ke arah Aris. "Apaan siih Ra??", ngeliatnya biasa ajah kalii!", ucap Aris meledek Arra.


Beberapa menit kemudian, mereka berdua telah sampai di Cafe milik Luna yang sangat terkenal itu. Mereka berdua turun dari mobilnya dengan penuh bergaya.


"Kita duduk dulu atau nyari Luna dulu Ra?", tanya Aris sambil memasangkan kacamatanya. "Kita ketemu Luna dulu ajah, abis itu kita langsung pulang, okee", jawab Arra yang juga memakai kacamata hitam bak artis model papan atas.


.


.


.


"Nahh kebetulan nihh kita berdua langsung ketemu sama Lu Lun", ucap Aris sambil berjabat tangan dengan Luna, sang pemilik Cafe/Bar.


"Kalian kesini cuma mau ketemu sama gue?, yaudah oke ayo kita ngobrolnya yang enak dimana?", ajak Luna. Mereka bertiga mencari tempat duduk yang paling nyaman.


Cafe nya Luna (kurang lebih seperti ini yaa)



"Lo kenapa Ris?", tanya Luna penasaran dengan kelakuan anehnya Aris. Aris terus mendengu-dengus bau tersebut. "Biasalah Luna, dia ini kan perlu dibawa ke RSJ (Rumah Sakit Jiwa)😁, jangan kaget yahh kalo dia begini", jawab Arra menutupinya.


"Ohh gitu", jawab Luna masih dengan tatapan sinisnya. "Yaudah apa yang mau kalian tanyain sama gue?", tanya Luna memulai kata. "Jadi gini Lun, gue mau tanya siapa tau lo tau gitu. Lo kenal nggak sama yang namanya Melitha?", tanya Arra to the point.


"Melitha?", ucap Luna sambil mengingat-ingat nama yang seperti tidak asing di telinganya. Tiba-tiba Luna mengingat suatu kejadian yang melibatkan nama Melitha.


"Ohh gue tau Melitha siapa!. Melitha itu ketua Mafia perampokan yang ada di perempatan jalan dekat mall IJAS 3. Dia itu dulu orang yang paling ceria, tapi semenjak orangtuanya dibunuh tanpa sengaja sama seseorang, dia berubah jadi berandalan. Mungkin bahkan dia udah pernah ngebunuh orang kayaknya", jawab Luna menjelaskan semua tentang Melitha.


"Orangtuanya meninggal karena dibunuh?", Arra semakin penasaran dengan identitas asli Melitha. "Iyah Ra, Melitha jadi ketua geng perampokan itu karena dia punya dendam sama seseorang yang udah ngebunuh ayah ibunya. Gue siih nggak tau banyak, tapi yaa intinya siih gitu", jawab Luna.


"Emang lu sekarang nggak sahabatan lagi?", tanya Aris ikut penasaran. "Nggak taulah, gue difitnah udah ngambil duit hasil rampokan dia. Tapi kan nyatanya gue itu kan anak orang kaya yaa kann, bokap gue ajah punya apartemen di Medan. Yaa sekarang gue udah nggak dianggep temen lagi apalagi sahabat", terang Luna menjelaskan semuanya.


"Oohh jadi gitu yaa Lun", Luna mengangguk tanda iya dengan pertanyaan dari Arra. Arra kembali berpikir dengan semua penjelasan dari Luna barusan.


Aris kembali mencium bau parfum yang tak asing lagi. "Tunggu-tunggu semuanya, kok gua keknya nggak asing gitu sama bau parfum yang satu ini", ucap Aris sambil berjalan ke arah pemilik parfum tersebut.


Luna dan Arra mengikuti Aris dari belakang. Tiba-tiba... Aris terkejut saat melihat Vionna yang sudah tak sadar akibat pengaruh alkohol yang terlalu banyak. Yang tak lain adalah pemilik parfum tersebut.


"Vi-vi-Vionna??", Aris tak percaya dengan kejadian yang ia lihat di depan mata. Nico hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Aris yang terkejut melihat Vionna.


"Lu kenapa Ris?", tanya Nico tersenyum. "Kok lu bisa nggak mabuk siih Co?", tanya Aris kembali terkejut. "Ya nggak lahh, gue kan udah biasa minum begituan. Mungkin Vanno sama Vionna nggak biasa kali hahaha", jawab Nico diikuti oleh tawa Luna dan Arra.


"Yaudah yukk pulang, semuanya gua ajah yang bayarin. Gua ke kasir dulu okee", ucap Nico menepuk bahu Aris yang masih terdiam dan melongo.


"Heh Riss, jangan melongo terus, ntar ada nyamuk sama lalat masuk lho", tegur Arra sambil tertawa. Aris langsung menutup mulutnya.


.


.


.


.


Di Jalan...


Vionna menggandeng Aris meskipun Aris tak mau digandengnya. Sedangkan Vanno sudah lebih baik dan tak terlalu gentayangan. Mereka berempat pulang bersama dengan berjalan kaki, Nico terus-menerus tertawa melihat kelakuan Aris dan Vionna.


Tiiinnn... Arra membunyikan klakson mobilnya. "Mau pulang bareng atau jalan kaki sama ayang beb Riss??", tanya Arra meledek Aris.


"Nggak usah lahh, gua jalan kaki ajah, udah lu pulang ajah sanaa. Syuhhh!!", usir Aris kepada Arra. "Yaudah kalo gitu babayyyyy", Arra melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan mereka berempat. Karena merasa kasihan melihat Vionna berjalan dengan sempoyongan, akhirnya Aris dengan sangat terpaksa menggendong Vionna.


BERSAMBUNG....