
Lanjutt....
"Kira-kira jawaban Nico bener nggak yah", pikir Dennis. Mereka bertiga masih satu meja, namun tak ada yang berbicara. Semuanya diam dan memikirkan masalahnya masing-masing.
"Dennis diem mulu dari tadi. Jangan-jangan dia masih curiga lagi sama gua, atau jangan-jangan dia masih nggak percaya sama Nico. Lah udah lah, biarin ajah, ntar juga dia lupa sendiri sama masalah ini", batin Aris.
"Arra kapan masuk sekolahnya Ris?", tanya Nico ditengah-tengah kesunyian yang ada di meja itu. "Baru juga pulang tadi malem, masa langsung berangkat sekolah. kayaknya siih besok", jawab Aris setengah bergurau.
"Beneran Ris??", Dennis tak percaya dengan kata-kata Aris barusan. "Lu nggak denger kata-kata Aris barusan Den?", jawab Nico dengan serius.
"Ya gua kira itu cuma boongan. Kan biasanya Aris itu suka bo'ong", jawab Dennis. Aris merasa tersindir dengan jawaban dari Dennis tadi.
Tak lama bel masuk berbunyi. Mereka bertiga mengakhiri pembicaraan tadi dan langsung masuk ke kelas mereka.
Saat Pulang Sekolah....
Dona dan Meyka sudah berdiri di gerbang sekolah untuk menghadang Chika. Chika yang baru keluar dari kelasnya, langsung mengecek keadaan di sekitar.
"Haahh, mereka ngapain lagi pake hadang gue di gerbang sekolah segala. Duhh, gue harus cari alasan, kalo nggak abis ntar gue", Chika mencari Bagus untuk menemaninya melewati gerbang sekolah.
"Baguss...Guss...", panggil Chika dengan berteriak. Bagus langsung menghampiri Chika. "Ada apa Chik?, kok lu teriak-teriak gitu siih", jawab Bagus bingung.
"Emm, lo mau nggak nemenin gue ngelewatin gerbang. Yah mau yahh, plisss", Bagus bingung dengan pinta Chika. Bagus melirik ke arah Gerbang sekolah. "Ooh.. hemm.. Bener duagaan gua, dia mau nghadang lu", Bagus memasang muka sombong.
"Udah lu temenin gue ajah, yahh. Kalo nggak mau yaudah nggak apa-apa, berarti lu udah nggak sayang sama gue lagi", Chika memasang wajah sedih, agar Bagus mau menerima permintaan pacarnya itu.
"Hemm, ye lah ye lah", jawab Bagus sedikit tak semangat. Akhirnya, Bagus dan Chika berhasil melewati gerbang. Dengan lenggangnya yang santai, Chika membisiki sesuatu di telinga Dona.
"Makasih ya buat semuanya, gue sekarang udah nggak bisa jadi orang jahat kayak lo. Karena apa, gue takut matinya itu susah", bisik Chika hingga membuat Dona merasa tersinggung.
"Kurang ajar lo Chika!!", teriak Dona. Namun, Bagus dan Chika sudah sangat jauh. "Emang dia bilang apaan siih Don?", tanya Meyka ingin tau apa yang Chika ucapkan di telinga Dona tadi.
"Awas ajah lo Chika, gue nggak bakalan segan-segan buat celakain lo. Apa siih yang nggak bisa dilakuin sama Fryzka Emilia Dona", ucap Dona dengan tatapan tajam.
"Chika ngomong apa yah kira-kira??", pikir Meyka. Sementara itu, Chika menghela nafas lega karena ia sudah berhasil lolos dari hadangan Dona dan Meyka.
"Huh...huh.. Akhirnya gue bisa lolos juga dari mereka", kali ini Chika memang benar-benar lega karena berhasil pergi melewati mereka berdua dengan santai.
"Emang lu ada masalah apaan siih Chik??. Kok sampai lari-lari kenceng banget gitu??", Bagus masih belum paham dengan keadaan yang dialami pacarnya itu.
"Duh..kalo gue kasih tau, ntar bakalan ribet dahh", batin Chika. "Ada deh masalahnya Gus", jawab Chika menutupi kejadian yang sebenarnya.
Next...
Jangan lupa like nya😊