Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 143



Malam Hari...


Melitha berada di sebuah cafe yang sangat terbuka. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang di tempat itu. Benar, beberapa menit kemudian seorang ibu-ibu datang. "Maaf yaah terlambat datengnya", ucapnya yang tak lain adalah Bu Angel.


"Udah aku duga!. Nggak apa-apa, karena hari ini anda melakukan hal yang paling sempurna!. Selamat buat Tante, terimakasih banyak", ucap Melitha dengan senyum tajamnya. "Ahh, itu bukan apa-apa. Saya emang udah punya niat lama sekali buat ngancurin tuh sii Amel!. Tapi untung ajah ada kamu, jadi gampang deh saya ngancurinnya", jawab Bu Angel.


"Tapi jangan seneng dulu. Ingat!, kasih ide ke aku, dan aku bakalan bikin dia jadi tambah lama di penjara", ucap Melitha sambil menyeruput secangkir kopi hangat. "Oke dehh, ehh iyaa, ini ada sedikit buat kamu", Bu Angel menyerahkan sebuah amplop berisi sejumlah uang. Melitha hanya melirik amplop tersebut. "Tante. Aku itu nggak butuh uang. Aku cuma perlu ngerjain rencana yang aku pikirkan. Asal Tante tau ajah, sebenernya aku lah yang udah bunuh Lusi di depan asrama utama IJAS 1", ucap Melitha sembari mengembalikan amplop uang itu.


Bu Angel sedikit terkejut dengan pernyataan Melitha barusan. "Hah?, Melitha yang udah bunuh si Lusi?", tanyanya dalam benaknya.


"Berarti...".


"Iyah, Amel ku jadikan alibi ku. Buat bukti yang kuat, sampe hakim menyebutkan bahwa Amel lah pelaku pembunuhan yang sebenarnya", potong Melitha.


"Selamat Tante Angel.. Anda masuk ke dalam perangkapku!. Siapa siih yang bisa ngalahin Melitha?", pikir Melitha.


.


.


.


Arra pulang ke rumahnya. Malam itu, ia benar-benar pulang sendirian tanpa seorang pun yang mengantarnya pulang. Ia membuka pintu gerbang dengan sangat pelan. Ia berjalan dengan pikiran yang tak menentu. Banyak sekali yang ia pikirkan.


Arra memencet bel pintu rumahnya. Beberapa menit pun pintu tersebut terbuka. "Silahkan masuk mba Arra", ART itu membungkukkan badannya menghormati kedatangan Arra. "Iyah makasii", Arra masuk ke rumahnya.


"Arra??. Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga naak. Mamah kangen banget sama kamu sayang", Bu Erica langsung memeluk anak gadisnya itu dengan sangat erat. "Mamah.. Arra juga kangen banget sama Mamah", jawab Arra juga membalas pelukan erat Bu Erica.


"Niih, ada makanan kesukaan kamu".


"Makanan kesukaan aku?. Apa tuh Mah?", tanya Arra terlihat antusias. Bu Erica meletakan piring berisi ayam panggang yang super enak.


Arra mengambil sepotong. Tiba-tiba Aris merebut potongan itu di tangan Arra, dan langsung memakannya. Gita begitu geram dengan sikap Aris.


Gita beranjak dari tempat duduknya. Plakk... Gita menampar Aris cukup keras. "Aduhh. Kakak apa-apaan siih?".


"Lu itu disayang-sayang lama-lama kok malahan ngelunjak yaa!. Lu pikir lu siapa?, seenaknya ajah lu!. Balikkin lagi nggak makanannya!. Sebelum gue kasih tau sama Papah nihh!!", ujar Gita sambil mengeluarkan handphone nya dan hendak menelfon Pak Adjie. "Apaan siih!, aku juga mau makan ayamnya doang kok!", jawab Aris terlihat ketakutan.


Aris tak meletakan makanan itu dan langsung pergi ke kamarnya.


.


.


"Itu kan!, Mamah siih, kalo ngajarin anak nggak pake etika!. Mentang-mentang anak cowo satu-satunya, karna yang lain cewe, dimanjain mulu!", ujar Gita. Bu Erica hanya diam saja. "Udahlah Kak, nggak apa-apa. Yaudah, Arra mau mandi dulu yaah, abis itu mau pergi sebentar", ucap Arra. "Pergi kemana sayang?", tanya Bu Erica dengan sangat lembut. "Ada urusan bentar sama Dennis", jawab Arra dan kemudian pergi ke kamarnya.


.


.


"Mahh, lain kali kalo sama Aris, misalnya Aris salah, Mamah jangan diem ajah yah!. Kalo salah ya salah ajah, jangan terlalu manjain Aris, jadi keterlaluan tuh", ujar Gita.


BERSAMBUNG...