
Malam Hari...
Malam hari ini terasa dingin. Angin berhembus cukup kencang, dan hanya terasa bising oleh suara siswa-siswi lain yang sedang berada di cafe A-IJAS.
Raffa dan Lolita tengah berada di cafe itu untuk membahas masalah yang menimpa mereka berdua. Sebenarnya, Raffa malas untuk bertemu dengan Lolita, apalagi membahas soal masalah perjodohan itu. Namun, ia terpaksa makan malam bersama Lolita karena suruhan dari Ibunya.
"Ta, gua jelasin yah sama lu!. Mau hari ini, mau besok, mau sampai kapan pun, gua nggak akan pernah setuju sama perjanjian yang mereka buat ini!. Dan, gua bakalan nentang masalah ini, karena gua tau, lu punya kehidupan tersendiri. Dan gua juga punya kehidupan sendiri, jadi lu nggak usah sok nasehatin gua supaya gua nentang permasalahan ini yah!, gua udah tau dan gua udah paham caranya oke!. Dah gua pamit!", jelas Raffa. Ia langsung pergi meninggalkan Lolita di meja makan.
"Raffa...Raffa... Ihh tuh bocah yahh, gue harus telfon Mamah nihh", ucap Lolita sambil mencari nomor ibunya di handphone nya. "Ayo angkat dong Mahh.... Nahh Halo Mahh Assalamu'alaikum".
"Iyah Waalaikumsalam, gimana Ta, berhasil nggak?".
"Nah justru itu Mah, aku mau ngomong sama Mamah".
"Emangnya ada apa?".
Lolita pun menjelaskan kepada ibunya tentang apa yang dikatakan oleh Raffa kepadanya. Tetapi, Lolita tak sadar, kalau ternyata ada seseorang yang sedang mendengarkan pembicaraan Lolita dengan ibunya. Orang itu memang sengaja memata-matai Lolita dan Raffa sedari tadi.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 8.30. Semua siswa sedang melangsungkan pembelajaran mereka di hari ini. "Ya anak-anak, ini ada formulir pendaftaran ekskul di Sekolah Seni Teater. Silahkan kalian buat isi formulir nya, dan terserah kalian mau pilih ekstrakurikuler yang mana. Okee", ucap Miss Dian kepada seluruh siswa kelas 8A.
"Yes Miss", jawab seluruh siswa. "Ini, satu anak mendapatkan 4 formulir, jadi jangan sampe ilang salah satu kertasnya oke. Ohh ya, apa ada yang mau tanya?", tanya Miss Dian. Evan mengangkat tangannya, "Emm Miss, saya mau tanya, apa benar yaah Sekolah Seni Teater itu cuma sekolah di hari sabtu dan cuman kesenian ajah?", tanya Evan memberanikan diri.
"Pertanyaan yang bagus banget Van. Oke jadi gini, SST ini sekolahnya nanti dijadwal, ada yang hari senin sore, selasa malam, hari minggu, hari sabtu, dan lainnya. Jurusannya juga ada bidang OR, Seni, Mapel, dan lainnya", jawab Miss Dian. "Ehh tapi bentar duluu, kayaknya kalian perlu tuker tempat duduk dehh", ucap Miss Dian.
"Hah??, tuker tempat duduk?, dituker gimana siih Miss?", gerutu Kinnara. "Iyah Miss, kita itu udah betah sama temen sebangku kita Miss", tambah Chika ikut memprotes. "Kalian ikutin ajah kata-kata dari Miss Dian. Nggak usah protes!", ujar Evan, salah satu siswa yang paling menurut kepada guru, dan paling dingin satu kelas.
"Iddihh, diem napa lo!. Ya Allah semoga gue nggak baremh Evan Aamiin", ujar Kinnara sambil melirik tajam ke arah Evan. "Oke, jadi Miss yang milih yaa. Chika sama Bagus, Kinnara sama Vanno".
"Awww gue sama Bebeb VanVan", ucap Kinnara sambil berpelukan dengan Vanno. "Selanjutnya, Aris sama Vionna terus-".
"Lahh kok aku pasangannya sama Vionna siih Miss??, ahh nggak bener ini mahh!", protes Aris. "Lah emangnya kenapa?, kan kamu emang pasangannya sama Vionna ntar ujung-ujungnya. Plis jangan ada yang protes oke!", ucap Miss Dian, Aris langsung berhenti memprotes keputusan Miss Dian, meskipun dalam hatinya tak menyetujui hal itu.
BERSAMBUNG....