Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 137



Pagi Hari...


Arra membuka matanya. Terlihat ruangan yang berbeda dengan biasanya. "Gue dimana siih?", tanyanya. Arra melihat sekelilingnya.


Ia sangat terkejut saat melihat ada seorang laki-laki yang sedang tidur di sampingnya. "Sapa nih?. Ehh iyaa, gue lupaa!. Ini kan kamar Dennis", ucapnya sambil menepuk dahinya.


"Astaghfirullah, ini kan di rumah Mertua!. Gue harus bangun lebih dulu sebelum Tante Meina bangun", Arra bergegas keluar dari kamar dan langsung menuju lantai bawah.


"Permisi, Nona mau kemana?", tanya salah satu ART. "Mau bantu bibi masak di dapur", jawab Arra. ART itu tersenyum. "Udah, Nona di kamar ajah, biar bibi yang masak. Di rumah ini tuh, semuanya di kerjakan sama ART, jadi Nona nggak perlu repot-repot", kata ART itu.


"Ooh gitu yaa. Tapi kan, aku itu-".


"Meskipun Nona itu calon mantu di rumah ini, tapi tetep ajah, Nona itu majikan. Jadi jangan terlalu repot bantuin kami yaa Nona", potong ART itu. "Ohh yaudah kalo gitu mahh. Yaudah aku balik ke atas dulu ya Bii", kata Arra sambil berlalu meninggalkan ART itu.


"Nona muda memang lucu"...


.


.


.


Arra membuka pintu kamar Dennis. Ia begitu terkejut, karena ternyata Dennis sudah berada di balik pintu kamarnya itu. "Allahuakbar!.. Kaget gue Den ahh!!", ujar Arra. "Lu ngapain buru-buru ke bawah?. Mau ngapain?, mau masak??", tanya Dennis dengan nada meledek Arra. "Hah??, nggak kok. Gue itu tadi mau-".


"Lu tuh kek bukan orang kaya ajah dehh!. Emang di rumah lu yang masak lu apa gimana?, ART juga kan?", tanya Dennis kembali meledek Arra. "Ya nggak siih. Tapi kan, gue kira karena gue kan katanya Calon menantu nya Bu Meina ya jadi gue mau bantuin masak dong", jawab Arra.


"Yang lu maksud, lu takut dikira mantu tapi nggak bisa ngapa-ngapain gitu??. Nggak usah mikir kek gitu napa Ra?. Tenang ajah lu kalo nikah ama gua!. Mertua lu tuh baik, kagak bawel, nggak kayak Tante lu tuh", ujar Dennis menasehati Arra.


"Udah lu sekarang mandi dulu sana. Ehh gua dulu ajah yaa".


"Huhh, dasar calon istri gua", gumam Dennis. "Ha??, gue bakalan jadi istrinya Dennis Azmian Maulana??. Awwww, bikin baper dehh", batin Arra.


.


.


.


Di Rumah Aris...


Bu Erica sudah berada di meja makan. Hanya Bu Erica saja yang berada di meja makan, tak ada seorang pun yang duduk di sampingnya. "Viola?. Siapa dia?. Pokoknya aku harus cari tau siapa anak yang namanya Viola!. Kurang ajar dia, sampai bikin anak-anak aku bertengkar dan nggak bisa akur lagi!", pikir Bu Erica.


Ia kemudian membuka handphone nya dan mengirimkan sebuah pesan ke sekretaris pribadinya.


"Hari ini tugasmu, selidiki anak yang namanya Viola. Dia sekolah di SMA ILMU DAN SENI IJAS kelas 12 BI 3...",


"Ooh urusan. Ehh Arra belom pulang Mahh?, semalem dia tidur dimana?", tanya Gita mengalihkan pembicaraan. "Buat sementara dia tinggal di rumahnya Tante Meina dulu. Lagi pula kan ada Dennis juga, dia bisa nenangin pikirannya kalo ada Dennis", jawab Bu Erica.


"Kasian yah Arra Mahh-".


"Ngapain kalian kasian sama anak nggak bener kek dia?", potong Aris yang tiba-tiba datang ke ruang makan. "Lo nggak ada ngerasa salah-salahnya yah sama kakak lo!. Lo nggak ada niatan buat jemput dia gitu, buat balik lagi ke rumah ini?", tanya Gita.


"Ngapain gua jemput anak l*nte kek dia!". "Ariss!!". Plakk!!!... Satu tamparan keras mendarat di pipi Aris. Bu Erica sudah benar-benar marah kepada anak laki-lakinya itu. "Kamu lama-lama kurang ajar yaah!!. Siapa yang ngajarin kayak gitu?!!. Pokoknya mau sampai kapanpun, Mamah nggak bakalan mau setujuin dan restuin hubungan kamu sama Viola viola itu!!!", teriak Bu Erica.


"Tapi Mahh..".


"Kalo sampe Mamah liat kamu punya hubungan sama anak itu!, Mamah nggak akan segan-segan buat bayar semua guru, dan suruh buat nggak ngelulusin Viola!", ucap Bu Erica dan langsung pergi sambil membawa tasnya.


"Mahh!!, Mamahh!!!", teriak Aris memanggil Bu Erica. Namun, Bu Erica tak menoleh sedikitpun. "Argggghh sial!!!, semua ini gara-gara Arra!!!!", gerutu Aris dalam hatinya. Ia mengacak-acak rambutnya.


.


.


.


Pindah ke yang lainnya...


Lusi, adik Luna yang sekarang duduk di bangku kelas 10 IPA 2 SMA Seni dan Ilmu IJAS. Ia baru saja pulang dari America dan menjual rumah di sana. Ia kembali ke Indonesia dan pindah sekolah ke Indonesia karena memang di Amerika Lusi sudah tak punya apa-apa.


.


.


Raffa sedang menikmati minuman di cafe milik Luna. "Hey Faa", sapa Luna dan duduk menemani Raffa. "Heyy, lu apa kabar?. Dah lama yaa kita nggak ketemu", kata Raffa memulai pembicaraan. "Iyahh, sejak lo masuk SMA, kita semua kek udah nggak deket lagi deh", jawab Luna.


"Iyahh. Ehh itu siapa Lun?", tanya Raffa. "Ohh itu.. Lusii.., sini Si, ada yang mau kenalan sama lo nih", panggil Luna kepada adiknya yang tengah sibuk melayani para pelanggannya. "Iya kenapa Kak?", Lusi pun menghampiri kakaknya.


"Kenalin nihh, dia temen Kakak", ucap Luna. Raffa dan Lusi pun saling berjabat tangan dan mengenalkan namanya masing-masing. "Masih sekolah?", tanya Raffa. "Masih, dia ni kelas 10 IPA 2, sekolahnya sama kek sekolah lo Fa", jawab Luna. "Ohh?, sama dong kalo gitu. Gua juga IPA, tapi kelas 3, senior hahaha", ujar Raffa bercanda. "Ohh berarti kakak kelas dong", ucap Lusi ikut mengobrol bersama.


.


.


.


BERSAMBUNG...