
Arra dan Dennis sampai di kamar Dennis yang cukup luas itu. Ini adalah pertama kali Arra masuk ke kamar Dennis. Arra melihat-lihat seisi kamar yang bernuansa warna gelap.
Terlihat ada beberapa foto-foto kebersamaan dipajang di dinding kamar itu. Arra memfokuskan salah satu foto yang dipajang di meja samping ranjang nya itu.
Foto itu adalah foto Arra dan Dennis sewaktu masih kecil, dan foto Arra seorang saja yang sedang memakai gaun yang indah.
"Den?".
"Hemm, kenapa Ra?".
"Lo majang foto gue?", tanya Arra sambil tersenyum senang.
"Iyah, emangnya kenapa?. Nggak boleh yahh, kalo nggak boleh gue simpen di lemari ajah".
"Ehh jangan!!. Nggak apa-apa kok, cieee.. Yang nyimpen foto gebetannya".
"Iddihh ngarep banget lu. Emangnya lu yang jadi gebetan gua?", ledek Dennis namun tetap berwajah serius.
"Ihhh, nahh terus siapa?, kalo bukan gue gebetan lo?. Lolita gitu??", Arra memasang wajah cemberut. Ia memang benar-benar cemburu kalau Dennis membicarakan soal Lolita.
"Iyah, kenapa emangnya?", Arra pun bertambah kesal. "Ihh yaudah dehh, gue mau pulang ajah", Arra melangkah ke arah pintu. Namun, langkahnya terhenti. Tangannya dicegat oleh Dennis.
Arra berbalik arah menghadap Dennis. Kini wajah mereka berdua sudah sangat dekat. Hanya tersisa beberapa centi untuk bernafas. Arra semakin gugup dengan jarak mereka yang semakin dekat.
Namun berbeda dengan Dennis, ia justru sangat menyukai momen yang indah seperti ini. "Lu cantik banget kalo diliat dari deket Raa...", batin Dennis sambil terus memandang wajah Arra yang cantik itu.
"Gue deg-degan banget dehh sumpahh.. Dennis ganteng banget siih. Bikin meleleh tauu", batin Arra yang juga terus gugup di depan Dennis.
Dennis semakin mendekat di wajah Arra. Arra semakin takut kalau terjadi apa-apa. Dan tiba-tiba Dennis mendekatkan bibirnya. "Dia mau ngapain lagi??. Gue tambah deg-degan sumpah dehh", batin Arra yang semakin gugup.
Mereka berdua menghentikan ciuman panas itu. Arra memandang wajah Dennis dengan takut. "Emm, maaf yah Ra. gua nggak sengaja buat nglakuin ini ke lu. Gua cum-".
Arra mendekatkan jari telunjuk nya ke bibir Dennis. "Sssttt, nggak apa-apa. Kan kita juga perlu kenalan hahaha", potong Arra.
"Hehehe maapin yahh, soalnya gua udah nggak tahan ngeliat bibir lu yang seksi itu lhoo", ucap Dennis sambil tertawa. "Emang bibir aku seksi yahh hahaha", jawab Arra sambil memegangi bibirnya.
"Iya tau, jadi pengin lagi hehe".
"Ehh, enak ajah lo. Nggak boleh, nunggu jadian".
"Yaudah kita jadian sekarang ajah".
"Oke ayokk. Buruan tembak gue".
"Emmm, jangan dulu dehh. Besok-besok ajah dulu, soalnya gua belom siap".
"Ihh dasarr PHP!!!". Mereka berdua berlari-larian seperti anak kecil. Dennis lupa kalau dagu nya perlu di kompres dengan air dingin. Dan Arra juga lupa dengan pekerjaan nya.
Hari sudah larut malam. Arra menuruni tangga ke bawah. "Ehh, udah Ra??", tanya Bu Meina yang sudah siap makan di ruang makan yang mewah itu.
"Ahh, nggak lah Tante. Udah malem soalnya, takut dicariin sama Mamah", jawab Arra. "Ohh yaudah kalo gitu. Den, anterin Arra yah sampe ke rumah", suruh Bu Meina ke Dennis.
"Oke Bun", Dennis pun mengantar Arra pulang sampai depan gerbang rumah Arra yang sangat besar itu.
Bersambung....
Udah Malem tidur lahhh😁
I LOVE U ALL😘😘