
Arra duduk di depan cermin. Ia menatap wajahnya sendiri. "Apakah ada sesuatu?. Gue takut ada sesuatu yang bikin hubungan gue sama Dennis makin merenggang", katanya dalam batin.
Ia memakai beberapa riasan di wajahnya. Ia juga mencatok rambutnya, dan memakai parfum dengan wangi yang standar.
.
.
Arra berjalan menuruni tangga. "Mahh, Arra pergi dulu yaah", Arra mencium tangan Bu Erica. "Iyah, hati-hati yah sayang. Pulangnya jangan terlalu malem ya sayang".
"Iyah Mah. Tenang ajah sama Dennis ini", jawab Arra. Ia pun pergi keluar dari rumahnya.
.
.
.
Arra dan Dennis turun dari mobil tepat di depan restoran. Mereka masuk ke restoran itu dan duduk di tempat yang sudah Dennis pesan sebelumnya. "Lu mau makan apa?", tanya Dennis. "Terserah lo ajah Den, gue ikut lo ajah", jawab Arra tersenyum. Dennis memesan beberapa makanan dan minuman.
"Lu mau soda juga nggak?", tanya Dennis lagi. "Boleh juga hehehe", jawab Arra. Beberapa menit kemudian, pesanan mereka berdua pun datang. "Makasih.. Yok dimakan sayang". Arra hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Lu ada apa siih?. Apa lu nggak suka makan disini?. Kalo gitu yaudah yuk kita pindah-".
"Den", Arra memotong perkataan Dennis. "Iyah?, kenapa?".
"Kok perasaan gue nggak enak yaah. Terus kek ada hubungannya sama hubungan kita", ucap Arra mulai membicarakannya. "Apa dia tau soal nenek-nenek yang bilang tentang hubungan gua kemaren?", pikir Dennis.
Dennis kembali duduk di kursinya. "Lo janji nggak akan ninggalin gue kan Den?", tanya Arra seperti meragukan cinta Dennis. Dennis menghela nafasnya. "Kenapa siih lu mikir kek gitu?. Lu ragu sama cinta yang gua kasih ke lu?", tanya Dennis tersinggung. "Ya nggak kayak gitu Den. Ya gue cuma-".
"Udahlah!. Gua males ngomong sama lu!", potong Dennis. Dennis pun pergi dengan perasaan kesal dan meninggalkan Arra sendirian.
.
.
Dennis mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Matanya merah, seperti sedang menahan tangis. "Maafin gua Ra. Gua nggak seharusnya ninggalin lu sendirian". katanya dalam hati. Ia memberhentikan mobilnya di taman. "Kenapa gua bodoh!. Kenapa gua nggak jawab secara biasa ajah siih?", ujar Dennis memukul-mukul kepalanya cukup keras.
Dennis memiliki pikiran untuk menjemput Arra di restoran. Ia memutarkan mobilnya.
.
.
.
"Kenapa jadi kek gini siih permasalahannya. Semua ini gara-gara mulut gue yang suka aneh ngomongnya. Dennis.., tolong lo percaya sama gue, gue bukan ragu sama cinta lo. Tapi gue cuma ngungkapin kalo perasaan gue nggak enak", pikir Arra.
.
.
Tiba-tiba, datang seseorang yang memayungi Arra menggunakan jas. Dia adalah Rifky. "Rifky?",.
"Udah ayo pulang ujan nihh", ajak Rifky sambil terus melindungi Arra dari hujan deras itu. Kebetulan, Dennis lewat tepat di samping mereka berdua jalan.
Dennis dibakar oleh api cemburu. "Ternyata dia begitu di belakang gua!", Dennis meneteskan air matanya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
.
.
.
Ganti...
Yudhis masih sibuk dengan laptopnya di ruang kerja. Tampak banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini. Namun, lampu tiba-tiba mati sendiri. "Laah, kok mati lampu siih??. Mana kerja belom kelar lagi. Ehh tunggu bentar, lantai bawah nyala, hp gua juga masih dalam mode pengecasan nih. Berarti lampu ini doang nih yang mati", ucap Yudhis. Ia berjalan menuju ke saklar lampu. Ia menekan saklar itu, dan lampu menyala. "Bwaa!!!".
"Allahuakbar!. Ya Allah, Gitaaa!!. Kaget gua lahh", ujar Yudhis memegangi dadanya. "Ehehehe, kaget ya lu?, maapin ye", jawab Gita tanpa merasa bersalah. "Eh ngomong-ngomong lu ngapain pake baju kek gitu plus makeup tebel?", tanya Yudhis.
"Ehee, gue cantik kan sayang??", jawab Gita sambil memperlihatkan perhiasannya yang sangat mencolok. "Ehee sumpah yaa, lu itu mirip ini nihh", Yudhis memperlihatkan foto seseorang.
Yudhis tertawa terbahak-bahak. "His!. Maksud lo gue mirip Cheon Seo-jin gitu?. Hoh!!. Arghhhh!!!. Gue bukan mirip Seo-jin!, tapi gue itu mirip Ha Eun-byeol tau hihihi", ujar Gita tak mau kalah dari Yudhis. "Ooh Eun-byeol??. Maksudnya Eun-byeol yang ini yah?". Yudhis kembali menunjukkan satu foto dari seseorang.
"Ihh bukan yang ini!!. Yaudah, gue mirip Seok-kyung dehh", Gita masih saja tak mau kalah. "Ooh Seok-kyung?, yang ini ya?".
"Iiihhhhhh!!!!. Yudhisss!!. Tau lah, gue marah!".
"Iya iyah, nggak kok. Lu itu cantik, dan mirip sama Oh Yoon-hee", ucap Yudhis. "Nah gitu dong", Gita terlihat senang. "Tapi pas adegan yang udah mati heheheh. Pucat sekali anda, hahahah", ujar Yudhis meledek Gita. "Iihh, yaudah ah gue tetep marah!", Gita membalikkan badannya. "Ihh, sayang jangan marah dong!. Yaudah Gita mau apa sekarang terserah?", Yudhis mencoba menenangkan istrinya. "Emm, kayaknya lagi ujan deres nihh. Katanya siih yah, kalo seorang istri yang minta duluan, katanya pahalanya gede tau, hehehe", Gita merayu Yudhis. "Arghh, kerjaan numpuk sayang. Dan harus dikerjain malam ini. Besok ajah lah ya".
"Emm, yaudah dehh kalo gitu. Ehh tapi kayaknya Althaf pengen punya adek deh kayaknya Mas", Gita masih mencoba merayu suaminya. "Yaudah iya iya iya ahh. Males banget malo kamu udah kek gitu deh. Yaudah ayo".
.
.
.
BERSAMBUNG....