
Tiba-tiba polisi datang ke tempat pemakaman itu. "Waduhh kok ada polisi nih?", tanya Vanno langsung memakai kacamata hitamnya lagi. "Ya wajar lah, kan ini kasus pembunuhan Van!", kata Jino menanggapi kalimat Vanno.
Polisi-polisi itu berjumlah 6 orang. "Maaf, apa kalian mengenal yang namanya Amelia Fischa Hartanto?", tanya salah satu polisi itu kepada mereka. "Amelia Fischa?. Itu siapa siih?", ujar Vanno. "Itu mahh Amel. Hah!, Amel??", Aris langsung terkejut.
.
.
3 Polisi masuk ke TPU, dan langsung menangkap Amel. Amel begitu ketakutan. "Ada apa ya Pak?, kok Bapak menahan teman saya?", tanya Arra mencegah Polisi-polisi itu menangkap Amel. "Kami menangkap saudari Amel karena dia diduga melakukan pembunuhan terhadap saudari Lusi", jawabnya. Luna terkejut dan langsung menghampiri Amel. "Nggak, saya nggak bunuh Lusi Pak!. Sumpah saya nggak pernah bunuh sesorang Pak!. Tolong percaya sama saya Pak!", teriak Amel dan meneteskan air mata. Dengan rasa penuh emosi, Luna pun menarik rambut Amel dengan sangat keras. "Lo itu sahabatnya Lusi Mel!. Kenapa lo bunuh sahabat lo sendiri!!. Apa lo nggak punya otak!", ujar Luna masih terus menarik rambut Amel.
"Tapi gue nggak pernah berpikir buat ngebunuh Lusi Lun.. Tolong percaya sama gue Luna, gue nggak pernah ngelakuin hal yang nggak masuk akal", Amel terus memohon-mohon agar ia tak jadi ditahan oleh kepolisian.
Para cowok-cowok hanya bisa diam dan bisa melakukan hal-hal apa pun untuk mencegah agar Amel tak di tahan oleh polisi.
Amel ditarik oleh dua polisi. Saat hendak masuk ke mobil polisi, Amel berpapasan dengan Melitha. Raut wajah Melitha seperti sedang menunjukkan bahwa dia menang dalam hal ini. Melitha tersenyum dengan raut jahatnya kepada Amel.
.
.
.
Di Kantor Polisi...
7 orang polisi itu mengerumuni Amel untuk menanyainya. "Lahh terus kenapa di sepatu kamu ada darahnya Lusi?. Udah jelas pasti kamu yang bunuh kan!", kata salah satu polisi.
"Laahh, ya jelas di sepatu saya ada darahnya laah. Kan saya menuju ke jendela nya jalan kaki, mangkanya darahnya ikutan nempel di sepatu saya. Kalo saya terbang, berarti saya logo channel dong", jawab Amel. Para polisi itu bingung dengan jawaban Amel yang melenceng entah kemana karena saking santuy nya. "Lahh kok logo channel?", tanyanya. "Lah iyo. Kan logo channel TV ikan terbang. Entah logonya entah apa nya lahh", jawab Amel lagi.
"Lahh kenapa kamu nggak langsung liat ke jendela ajah pas kamu masih di lantai bawah. Kan di lantai bawah juga jelas kan?", tanya polisi lagi. "Ya mana saya tau, saya kan ikan", jawab Amel.
Polisi itu tersenyum kecut mendengar candaan Amel. "Ooh gitu, yaudah".
"Udah nih??, berarti saya udah bisa bebas dong?", tanya Amel beranjak dari tempat duduknya dan hendak untuk pergi, namun dicegah. "Ehh jangan dulu, kamu sekarang sedang ditahan!. Tunggu sampai sidang selesai dan hakim menyatakan bahwa kamu nggak bersalah, atau hakim ngasih kamu keringanan", ujar polisi sambil menahan tangan Amel.
"Ooh gituu... Jadi sekarang saya jadi Napi dong??. Aaaarrrggghhh!!!!. Ehh tapi ngomong-ngomong, kok Oppa polisi pegang-pegang tangan saya siih?. Jangan-jangan oppa polisi suka yaa sama saya?", ujar Amel kepada polisi yang umurnya memang terlihat masih sangat muda, dan terlebih lagi wajahnya cukup tampan.
"Oppa polisi??. Hahahahaha", ledek teman-temannya menertawakan polisi muda yang bernama Febrian itu. Oppa polisi itu pun langsung melepaskan tangan Amel dari genggamannya.
.
.
.
BERSAMBUNG...