Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 119



Pagi Hari....


Di pagi hari itu, langit terlihat begitu indah. Tampak seperti tak ada awan yang terlihat. Matahari bersinar cerah. Terlihat sekolah SMPN1IJAS sudah ramai oleh bisingnya suara dari para siswa-siswi di sekolah itu. Seperti hari-hari biasanya, Rifky selalu berangkat sendirian. Entah mengapa ia selalu menyendiri.


"Heii bree.. Berangkat sendirian ajah nihh?, nggak ada bebnya?", Tanya Vanno yang tiba-tiba datang bersama dengan Aris, Dennis, Jino, dan Evan. "Beb siapa?, kan gua nggak punya pacar", jawab Rifky dengan nada suara yang lembut seperti orang sakit. "Ohh iya yaah gua lupa hahaha", ledek Aris diikuti tawa lepas dari mereka.


"Ris, lo masih pacaran sama Viola?", tanya Evan kepada Aris. Aris terdiam, ia menelan ludahnya. "Nggak tau laahh, gua siih ngerasa kita pacaran, tapi yaa gitu. Dia itu kek nggak PeDe gitu pacaran sama gua", jawab Aris menunduk. Dennis mengusap-usap bahu Aris. "Udah nggak apa-apa, kan Viola emang cocok nya itu sama Rifky, ya kan Ky??", ujar Vanno. Seketika Vanno langsung dipukul oleh Dennis, "Lu nggak usah bilang begitu luu!. Lu nggak kasihan sama sahabat lu sendiri?", ucap Dennis terlihat kesal. Wajah Aris langsung berubah menjadi wajah kecewa.


Tak terasa mereka ngobrol, mereka sudah sampai di kelas 8A. Di dalam kelas sudah ada Kinnara, Vionna, Viola, Dona, Lolita, dan anak-anak lainnya. Para ciwi-ciwi menyambut mereka dengan gembira. "Halloo Cowok-cowok gantengg", sapa Kinnara dengan senyuman memancar di wajahnya.


"Halo jugaa ciwi-ciwi cantikku", jawab Aris mengeluarkan jurusnya di depan semua perempuan. "Hah?, apa lu bilang?, Ciwi cantikku?. Enak ajahh, ada cewek gua tuhh!!. Lu main bilang gitu ajahh!!, lu mahh sama Vionna ajah tuhh!!", bentak Vanno terlihat kesal. Aris hanya tersenyum mendengar kekesalan Vanno. Namun, ada satu yang terasa aneh. "Arra kok nggak ada di kelas siih?. Dia kemana?, apa dia belom berangkat?. Lahh mungkin dia lagi di ruang OSIS kalii", batin Dennis khawatir akan keberadaan Arra.


.


.


.


Saking cepatnya Arra berlari, sampai-sampai ia tak dapat berwaspada kalau di depan ada sebuah batu besar yang menghalangi jalan. Ia pun terjatuh hingga tak kuat untuk berdiri. Para preman-preman itu semakin dekat ke arah Arra. Akhirnya Arra menyerah, ia menutup matanya. Namun, tiba-tiba suatu keajaiban datang. Ada seorang laki-laki yang menolongnya. Laki-laki itu melawan preman-preman itu hingga mereka ta mampu untuk berdiri dan mengejar Arra lagi.


"Lu nggak apa-apa?", tanya laki-laki itu yang ternyata adalah Rizal, seorang siswa yang selama ini dikenal misterius dan jarang berbicara. "Ri..Ri...Rizal?", tanya Arra terbata-bata. Rizal tersenyum saat Arra menatap wajahnya. "Ayo kita pergi dari sini. Disini nggak aman buat lu, yukk", Arra langsung meraih tangan Rizal dan berlari pergi meninggalkan tempat itu.


Namun, sayang sekali, gerbang sekolah mereka sudah ditutup. Memang bel juga sudah berbunyi 5 menit yang lalu. "Yaah, gue telat lagii. Arrgghhhhhh, gimana gue masuk. Semua ini gara-gara preman itu!!. Hiks...hiksss", Arra merengek. Rizal merasa kasihan melihat Arra menangis. "Lu mau masuk?, gua bantu yaah", tawar Rizal. Di atas kepala Arra seperti ada bentuk tanda tanya.


BERSAMBUNG...