
"Ini ada apaan siih??, kok rame-rame gini??", tanya Aris tiba-tiba datang dan tak tau apa yang terjadi. Semua menatap Aris dengan penuh tanda tanya. Tak terkecuali Vionna dan Viola.
Lanjut...
"Heyy.. Ini ada apaan??. Kalian ditanya kok cuma pada bengong ajah siih?", tanya Aris lagi. "Ris, ini pasti gara-gara lu kan?", tuduh Jino.
"Gua??. Kok gara-gara gua siih?, kan gua baru dateng, kok langsung dituduh siih?", jawab Aris mengelak. Aris sangat bingung dengan suasana panas itu.
"Alah, lu nggak usah ngelak deh. Jelas-jelas yang ribut itu Vionna sama Viola, ya udah pasti ngrebutin lu lah. Masa ngrebutin Evan kan nggak mungkin", ucap Vanno ikut menuduh Aris yang tak bersalah.
"Ehh.. Udah-udah, kok malah pada nuduh Aris siih??. Belum tentu lho Aris yang salah. Siapa tau ini gara-gara Meyka sama Dona", Dennis justru malahan berpindah menuduh.
"Enak ajah, kok jadi gue siih!. Kali ini gue nggak tau apa-apa sumpah", jawab Dona. Arra hanya mendengarkan ocehan-ocehan teman-temannya. Ia tidak tau apa yang harus diperbuat.
"Udah-udah dehh.. Kok kalian malahan pada nyalahin orang siih", ucap Arra melerai beberapa pihak. "Nahh iya itu yah Ra... Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan", tambah Vanno.
"Heh Vanno, lo itu bela siapa siih?. Sana-sini lo belain, dasar munafik", ucap Lolita kepada Vanno. Vanno tertawa kecil. "Ya kan gua itu orang paling baik", jawab Vanno.
"Ya udah gini ajah, kita tanya langsung ajah sama mereka berdua. Jangan main salah-salahan", ucap Rifky memberi ide. "Iyah juga yahh", tambah Vanno.
"Sebenernya, ini masalah tentang apa siih?. Kok sampe kalian berdua berantem, padahal kalian itu tiap hari bareng lhoo... Biasanya yang berantem itu justru Arra sama Dona lho... Kok gantian jadi kalian berdua siih?", tanya Raffa.
"Nahh ini baru juga ditanya. Dasar Vionna dehh", ucap Vanno. Arra berlari mengejar Vionna yang pergi dengan kemarahannya. Tak lama, Dennis juga ikut mengejar Arra dan Vionna.
"Yaelahh tu bocah, nempel mulu sama Arra", ucap Evan. "Iya yahh, kayaknya nggak lama lagi mereka berdua bakalan pacaran dehh", tambah Kinnara.
"Awas lho Kinnara, ntar ada yang cemburu lho", ucap Reva sambil tertawa kecil. "Emang siapa?", tanya Lolita pura-pura tak tau.
"Lo!!", jawab Kinnara, Reva, dan Amel. Lolita langsung menunduk malu. "Ehhh Dona, kita ngapain siih ikut-ikutan disini. Mereka kan nggak satu level sama kita", ajak Meyka.
"Nggak selevel katanya, hahahahaha. Emangnya Game kali!! pake level-levelan segala", ledek Vanno. "Kan dia itu gamers yang gagal", Nico tambah meledek Meyka hingga membuat Meyka marah besar.
"Apaan siih lo Nico, dasar cungkring", ucap Meyka kesal. "Enak ajah panggil gua cungkring, cungkring gini juga lu pernah suka kan sama gua. Untung ajah gua nggak kegoda sama rayuan murahan lu", Nico membalas.
"Udah lahh, capek gue ngomong sama lo. Yaudah ayok Donaaa!!. Kita pergi dari sini", ucap Meyka sambil menarik tangan Dona ke luar kelas. "Jauh-jauh sana... Kalo bisa pindah kelas ajah", usir Vanno.
"Jangan cuma pindah kelas Van. Tapi pindah sekolah sekalian", Nico dan Vanno tertawa sambil berjalan pergi ke arah lapangan.
Bersambung....