Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 71



Pak Hardi dan Pak Adjie sudah bersiap membawa kopernya. "Ohh iya aku lupa Mas, aku belum ngomong sama sekretaris aku kalo aku pulang ke Jakarta", ucap Pak Hardi menghentikan langkahnya saat sudah di dekat pintu keluar kantor Adsingh itu.


"Udah udah kamu nggak usah mikirin itu Di. Yang sekarang kamu pikirin adalah Dennis, anak kamu yang lagi koma Di", jawab Pak Adjie. Namun Pak Hardi masih tetap saja khawatir tentang pekerjaannya. "Di, kamu itu mau mikirin pekerjaan kamu atau anak kamu siih??. Udah nggak apa-apa, soal kerjaan biar Mas Adam (Ayahnya Raffa dan Reva, kakak kandungnya Pak Adjie, dan kakak sepupunya Pak Hardi) ajah", kata Pak Adjie lagi.


"Ayok sekarang kita ke bandara. Urusan tiket biar Mas ajah yang bayarin", tambah Pak Adjie. Pak Hardi akhirnya mau menuruti kata-kata Pak Adjie, walaupun masih tetap kepikiran tentang kerjaannya yang ia tinggalkan begitu saja.


Saat baru masuk ke mobil milik Pak Adjie, tiba-tiba ada yang menyapa mereka dari arah belakang mobil. "Ehh Hardi, Adjie, kalian mau kemana. Kok bawa koper segala", tanya Pak Adam.


"Ehh Mas Adam. Ini Mas, aku sama Hardi mau pulang ke Jakarta", jawab Pak Adjie. Pak Hardi terlihat sangat cemas. "Lho ke Jakarta?, kok mendadak siih Djie?", tanyanya lagi (Pak Adam).


"Iyah Mas, kita mau ke rumah sakit. Kata Dina, Dennis itu masuk rumah sakit, dan sekarang kondisinya koma Mas", jawab Pak Hardi menunduk. "Hahh??, Astagfirullah koma??. Ya ampunn sakit apa emangnya Dennis Di??, sebelumnya perasaan Mas nggak pernah denger kalo Dennis punya penyakit yang serius dehh", kata Pak Adam terkejut.


"Iyah Mas, aku juga nggak tau Dennis sakit apa sampai bisa koma dan dibawa ke ruang ICU. Yaudah Mas kalo gitu aku sama Hardi berangkat ke bandara dulu. Ohh iya aku hampir lupa, tolong bilangin ke sekretaris aku yah Mas, kalo aku lagi pulang ke Jakarta dulu", ucap Pak Adjie.


"Ohh iya iyah, InsyaAllah saya sampaikan ke sekretaris kamu kok. Yaudah ati-ati yahh, ehh nanti mobilnya siapa yang bawa ke sini lagi?", tanya Pak Adam. "Nanti itu biar asisten aku yang bawain mobilnya Mas", jawab Pak Adjie.


Pak Hardi dan Pak Adjie pun melajukan mobilnya menuju ke Bandara. Dengan kecepatan yang sedang, Pak Adjie fokus kepada setirnya. Pak Hardi terus-menerus khawatir akan keadaan anak laki-laki nya yang paling ia cintai. Karena di dalam keluarganya, Dennis lah yang paling ia takuti jika pergi meninggalkannya.


Aris baru pulang dari rumah Raffa. Ia tak tahu kalau ternyata dirumah sama sekali tidak ada orang. Hanya ada ART-ART yang sedang menjaga rumah kebesarannya.


"Assalamu'alaikum..", ucap Aris membuka pintu rumahnya. "Lho kok nggak ada yang jawabin salam gua siih...", gerutunya. Aris mencari ibunya dan Arra di setiap ruangan yang ada. Namun, tetap saja, mereka berdua tak ada di rumah.


"Nj*rr, gua sendirian lagi dirumahh. Cuman ada ART-ART doang lagii. Gua takut ada jelmaannya Miss-K sama Pocii. Aduhhh", Aris menepuk dahinya. Ia tiba-tiba merinding, seakan seperti ada sosok yang ada di dekatnya.


"Duhh gua pake merinding lagii. Pliss yahh semuanya temennya Arra, jangan pada nakutin gua yahh. Gua tau gua juga indigo, tapi gua mahh nggak kek Arra, suka sama yang horror-horror. Jangan pada menampakkan diri yahh, plissss", gumam Aris sambil pergi menuruni tangga menuju ke lantai 1.


"Apa gua telfon Kak Gita ajah yahh", Aris serasa mempunyai ide yang sangat luar biasa.


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE YAHH😍😍


I LOVE U ALL❤❤🍎🍎