Dennis Arra

Dennis Arra
Episode 129



"Kalo kamu bener-bener melihat formulirnya Arra. Pasti udah disetorin gabung sama yang lainnya. Coba saya tanya, kemarin kamu hitung pas nggak 32 anak?", tanya Miss Irena. Rifky dan Bagus saling berpandangan.


"Kemaren kan kita nggak ngitung Ky", ujar Bagus berbisik kepada Rifky. "Berapa?", tanya Miss Irena menantang. Mereka berdua masih saja diam dan menundukan kepalanya. "Ya sudah, Miss kasih keringanan sama kamu yah Raa. Kamu cari formulir pendaftaran kamu sampai ketemu yaah. Nanti kalau udah ketemu kamu anterin ke saya di Sekolah Seni Teater yaa", ucap Miss Yerin memberi keringanan.


"Beneran Miss?", tanya Arra terlihat lega. Miss Yerin menganggukan kepalanya pelan sembari tersenyum. "Makasiih banyak yaa Miss. In syaa Allah saya akan temukan kertas formulir pendaftaran saya Miss", ucap Arra begitu gembira.


Jam pelajaran pertama selesai, dan jam istirahat pun datang. Arra masih duduk di bangkunya. "Lu nggak ke kantin?", tanya Dennis pelan. "Lo kalo mau ke kantin, silahkan. Gue ntaran ajah deh yah", jawab Arra lesu. Rifky dan Jino mendekat ke meja Dennis dan Arra. "Yaudah Raa, lu nggak usah sedih. Kita mau kok bantuin nyari formulir lu", ujar Rifky mencoba membuat Arra tersenyum.


"Nggak usah, biar gue ajah. Makasiih yah kalian udah mau peduli sama gue. Bahkan sodara gue sendiri ajah nggak ada yang peduli, huh", jawab Arra tersenyum dengan terpaksa. "Dahlahh, lu nggak usah mikirin tuhh sii Raffa sama Aris", ujar Jino sambil melirik tajam ke arah Raffa dan Aris.


Raffa merasa tak enak kepada Arra, ia pun ikut mendekat ke Arra dan lainnya. Sedangkan Aris sama sekali tak peduli dengan saudari kembarnya. "Heh!!, Ariss!!. Lu kagak ada otaknya yaa!!. Sumpahh, untung gua cowok, kalo gua cewek, beuhh!!. Gua kagak bakalan mau tuhh pacaran ama lu!", ujar Rifky. Aris masih saja tak peduli dengan Arra. "Ya lu masih bisa peduli kan sama Arra?. Masih banyak kan yang sayang sama Arra?. Masih ada Raffa kan, sodara yang peduli sama Arra?. Napa harus gua terus siih yang disinggung!. Wajib apa gimana?. Sebel gua dahh!", jawab Aris dengan emosi.


"Apa lu bilang?!. Lu jadi cowok nggak usah kek gitu ya-",


Bug.... Sangking emosinya, Dennis memukul wajah Aris. "****** lu Den!. Anj*ng!!!-", Bug... Aris membalas pukulan ke Dennis.


"Udah-udahh!!!", teriak Arra melerai keduanya. "Kenapa siih kalian berdua harus berantem?. Pliss yaah, kalian nggak usah bikin suasana hati gue tambah panas yaah!. Kalian ngerti nggak siih?, gue tuh lagi pusing!!", Arra pun pergi meninggalkan kelas.


"Ini semua tuh gara-gara lu yaa!. Jangan karna lu ketua kelas, lu jadi sombong!", ujar Dennis mengacung-ngacungkan jarinya ke depan wajah Aris. Dennis pun berlari mengejar Arra.


Pindah ke yang lainnya...


"Lu duduk dulu ya beb. Gua mau pesen makanan dulu yaah", pamit Vanno. "Oke deh Beb", jawab Kinnara sambil tersenyum gembira. Vanno berjalan menuju ke dapur kantin.


Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, ada seorang siswi yang menabrak Vanno dan hampir terjatuh. Untungnya Vanno segera meraih tubuh siswi tersebut. Dan ternyata siswi itu adalah Tiara.


Vanno begitu terpukau dengan wajah Tiara. Bunga-bunga bermekaran di sekitar wajah Tiara. "Wawwww, it's so beautiful😍".


Tiara melepaskan diri dari genggaman Vanno. "Ehh sorry-soryy No. Gue nggak sengaja. Sori yaah, lo nggak apapa kann?", tanya Tiara kepada Vanno yang masih terkagum melihat kecantikan wajah Tiara.


"Vanno, Vann. Heyy", Tiara melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Vanno. "Eyy, iyahh?. Kenapa?", tanya Vanno tersenyum. "Lo nggak apapa kan?", tanya Tiara. "Nggak kok, yaudah gua mau ke situ dulu yaa", jawab Vanno mengacungkan ke arah dapur kantin. "Ohh iya iyah", jawab Tiara.


Vanno kembali berjalan. Namun ia kembali berhenti, dan membalikkan badannya. Terlihat di mata Vanno, Tiara mengibaskan rambutnya. Terlihat begitu sangat cantik.


Untung saja, Kinnara tak melihat hal ini, kalau melihat. Uhhh, apa jadinya Vanno??


BERSAMBUNG....