
Pindah ke Yang lainnya...
"Yahh Jin yaah... Plisss, okee Jin...", rengek Arra yang terus-terusan meminta agar Jino mau menjadi sahabatnya. Jino tak memperdulikan permintaan Arra, ia tetap terus fokus berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai 11. Pintu lift terbuka, Jino kembali berjalan ke kamarnya.
Saking berisiknya, Jino sampai lupa dimana ia sekarang. "Sstt. Diem duluu, ini lante berapa yaa?", tanya Jino. "Ini kan baru lante 8, lo bilang katanya mau pake tangga ajah", jawab Arra. "Argghhhh!!, gila luu!!!. Dari lante 8 ke lante 11 mau pake tangga!, lu kira ini kos-kosan apa!. Orang ini ajah hampir sama kek Hera Palace yang di drakor 'The Penthouse'!. Mau kaki gua lumpuhh!!", ujar Jino sambil berjalan kembali ke lift.
"Hera palace..hera palace, emang di A-IJAS ada patung Hera??", ucap Arra. "Lahh lu nggak tauuu, tuhh di depan A-IJAS ada patung gede tuh patung apa kalo bukan patung Hera?", jawab Jino. Mereka berdua makin menjorok ke perdebatan yang sia-sia. "Itu bukan patung Hera Jinooo... Tapi itu tuhh patung Queen of Chastity's Light, alias Patung Ratu Cahaya Kesucian", jelas Arra menasehati Jino. "Lu nggak usah sok-sokan ngasih tau gua soal patung RCK!, gua juga tau kali. Nama-nama Patung besar yang ada di Kota IJAS tuh apa ajah", ucap Jino agak kesal.
Tak terasa ternyata mereka berdua malahan berjalan lewat tangga. "Coba apa ajah sebutin, mulai dari namanya, larangan-larangannya, dan dimana tempatnya", ucap Arra sambil terus berjalan menaiki tangga bersama Jino. "Okee, yang pertama patung Queen Of Chastity's Light, atau patung Ratu Cahaya Kesucian, Patungnya ada di depan A-IJAS 1, larangan dari patung ini adalah, jangan sampe ada darah manusia yang mengalir di patung ini, kalo sampe ada darah manusia yang ngalir di patung ini maka bisa jadi salah satu sahabat si korban akan menyusul kematiannya. Yang kedua, yaitu patung Kesenian yang ada di depan Gedung Seni Teater IJAS 1, larangannya adalah entahh. Terus lupa laah", jawab Jino menyerah.
"Widdiwww, hebat juga kauu. Ehh tapi lo mau kan jadi sahabat guee, pliss Jinnn. Pliss yaaahh", rengek Arra sambil memegangi tangan Jino. Tiba-tiba Jino menghentikan langkahnya, dan ia pun seketika melepaskan tangan Arra yang sedang memegangi tangannya dengan paksa.
"Ihhh sakit tauu Jinnn!!, ada apaan siih?, main lep-as, l..epa..s ajah hihihi", ucap Arra terkejut setelah melihat ada Dennis di depannya. "Ehh Dennis, tumben Den nggak pake lift?", tanya Jino basa-basi. "Harusnya gua yang nanya kalian berdua!. Kalian berdua kok jalan berdua di tangga, mana sambil gandengan lagi!. Lu lupa yaa sama janji lu?", ujar Dennis terlihat kesal.
"Tadi itu kita pake tangga karna li-".
"Ihh nggak kalah jauh laah sama guee!!. Gue 171!", jawab Arra tak mau kalah. "Siapa?".
"Gue!".
"Yang nanya?", ucap Dennis berlagak sok. "Ihh nih anak!!, kalo bukan Dennis udah gue timpuk nihh!!", batin Arra. "Emang kalo gua Dennis mau diapain?", tanya Dennis. Jino merasa Dennis sudah melupakan kesalahan Jino, akhirnya ia pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mau... Gue... Gigit!!, hahahaha", jawab Arra sambil berlalu pergi menaiki tangga. Namun, tiba-tiba kakinya terasa begitu sakit, hingga ia hampir saja terjatuh dari tangga. Untungnya, Dennis dengan sigap langsung menolong Arra. Mata mereka berdua saling pandang.
"Awwww, ganteng banget siih nihh cowok!. Pengin dehh langsung ditembak gitu.. Andai dia itu cowok yang kek Aris, langsung nembak cewek, pasti udah gue terima. Sayangnya dia itu cowok dingin, kek es krim, tapi kalo udah kenal cinta langsung meleleh, hahahaha", batin Arra sambil terus menatap wajah Dennis. "Kok dada gua gatel yaah?. Mata gua mau nangis nihh liat muka dia deket banget gini, waduhh gua bisa langsung keceplosan bilang sayang nihh", batin Dennis yang juga tersenyum-senyum karena saling pandang.
BERSAMBUNG...