
"Ibu sudah paham dengan perkataan saya?", tanya Dokter Melanie. Bu Meina memgangguk lagi. "Ohh iya saya lupa, sebenarnya Dennis membutuhkan istirahat yang cukup, jadi apa Bu Meina setuju kalau kami memindahkan Dennis ke ruangan ICU?", tambah Dokter Melanie.
"Ke ICU dok?", tanya Arra kaget. "Iyah Arra. Ya kan kalo misalnya di ICU kan alat-alat nya lebih lengkap", jawab Dokter Melanie. "Kalau Bu Meina setuju, tolong tanda tangani surat persetujuan ini", tambah Dokter Melanie lagi.
Bu Meina menghela napasnya panjang-panjang. "Huhh.... Iyah Dok, saya akan tanda tangani", jawab Bu Meina. Tak terasa tiba-tiba Arra meneteskan air matanya.
"Baik kalo begitu Bu Meina dan Arra bisa pergi", ucap Dokter Melanie. Bu Meina dan Arra keluar dari ruangan Dokter Melanie. Dina yang sedang menunggu ibunya langsung menghampiri Bu Meina saat melihat ibunya sudah keluar dari ruangan Dokter Melanie.
"Gimana Bun?, ada apa sama Kak Dennis?", tanya Dina. Bu Meina tak menjawab pertanyaan anaknya. "Kakak kamu harus dibawa ke ruangan ICU Din", jawab Arra setelah menunggu jawaban dari Bu Meina yang tak kunjung keluar.
"Mba Meinaa", panggil seseorang dari arah lorong rumah sakit. "Mamah?", ucap Arra setelah mengetahui kalau yang datang adalah Bu Erika. Bu Erika langsung memeluk Bu Meina.
Bu Meina membalas pelukan dari Bu Erika, dan menangis bertambah keras. "Mba Ikaa", tangis Bu Meina sudah tak terbendung lagi. "Kamu yang sabar yahh, Dennis pasti sembuh kok", kata Bu Erika menenangkan hati Bu Meina.
Arra yang melihat hal itu, juga ikut memeluk mereka berdua. "Mba, gimana inii. Dennis harus dibawa ke ruang ICU. Aku nggak sanggup ngeliat dia menderita kek gini Mbaa", ucap Bu Meina hingga membuat Bu Erika juga ikut meneteskan air matanya.
"Yaudah kamu setujuin apa ajah yang dikatakan sama Dokter yahh. Semoga ajah itu adalah jalan yang terbaik buat kesembuhan Dennis", jawab Bu Erika.
"Yaudah kalo gitu, kita ke ruangan Dennis yukk", tambah Bu Erika lagi sambil menuntun Bu Meina berjalan. Dina dan Arra mengikuti mereka berdua di belakang.
.
.
.
.
Dokter dan beberapa para suster-suster sedang mempersiapkan Dennis untuk dibawa ke ruangan ICU. Saat baru keluar dari ruangan rawat inap, tiba-tiba Dennis tersadarkan dari kritisnya.
"Bunnn.... Bundaaa", panggil Dennis dengan suara seraknya. Bu Meina dan Arra langsung mendekat ke ranjang Dennis. "Iyah sayangg. Ini Bunda sayang, ini Bunda", jawab Bu Meina kembali menangis.
"Arra mana Bundaa??", tanyanya lagi. "Ini gue Arra Denn. Ada apa Dennis", jawab Arra sambil memegang tangan Dennis yang terikat oleh jarum infus.
"Arraa... Maafin Dennis yahh, kalo selama ini Dennis banyak salah sama Arra. Doain Dennis biar bisa sembuh yahh", kata Dennis membuat Arra mulai ingin menangis lagi.
Arra mengangguk menahan tangisnya. "Iyah iyah Denn.. Arra pasti doain Dennis biar bisa sembuh, Dennis harus kuat, harus semangat. Biar kita bisa sekolah lagii", jawab Arra mengusap pipi Dennis yang lembut itu.
"Bundaa..", panggil Dennis lagi. "Iyah sayang?", jawab Bu Meina. "Dennis udah nggak kuat Bun.. Tolong semuanya bantu doa yahh buat Dennis", jawab Dennis membuat semuanya yang ada ditempat itu menangis tak terbendung. Bahkan Nico dan Jino pun ikut menangis.
"Iyah sayangg, Bunda pasti doakan yang terbaik buat Dennis". A...A...Akk, tiba-tiba Dennis tak sadarkan diri. "Ayo Dokter kita harus segera bawa ruang ICU", ucap salah satu suster itu.
"Dennissss.....", teriak Bu Meina, dan langsung tak dapat berdiri. "Dennissss... Lo harus kuat Denn", teriak Arra juga. Bu Erika dan Dina membantu Bu Meina untuk berdiri.
Sedangkan, Nico, Jino, Meyka, dan Dona membantu Arra untuk berdiri kuat lagi. "Lo harus kuat yahh Raa... Dennis pasti nggak kenapa-kenapa kok", ucap Dona menyemangati Arra.
Saddd😭
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA BUAT LIKE, KOMEN, DAN VOTE NYA YAAA
I LOVE U ALL🍎❤