
Jino akhirnya ingat apa yang ia katakan tadi di depan Vian, Rizal, dan Arra. Jino langsung pergi berlari mencari Arra. Di tengah perjalanan mencari Arra, tiba-tiba Jino bertemu dengan Dennis. "Ehh Den, lu liat Arra lari kemana nggak?", tanya Jino tanpa rasa bersalah. "Dia di taman deket Aula A-IJAS", jawab Dennis dingin. "Ohh gitu yaah makasii yaah".
"Silahkan lu bahagiain Arra. Gua tau gua nggak bisa bikin dia seneng. Setiap kali gua bahagia sama dia, ada ajah yang mau ngerusak hubungan gua. Tolong jagain dia yaah", ucap Dennis dengan nada suara yang begitu lembut. "Apa?. Lu kenapa siih Den", tanya Jino terkejut. "Apa dia denger apa yang gua ucapin tadi di lorong?. Duhh ini bakalan jadi salah faham", pikir Jino.
"Kayaknya lu salah paham dehh Den. Gua ngomong begitu karena gua itu mau ngelindungin Arra dari Vian", jawab Jino memberi penjelasan kepada Dennis. "Lu ngambil kesempatan di atas kesempitan orang lain?. Lu temen apa bukan siih?", tanya Dennis mulai emosi. "Yaa justru karena gua temen lu dan Arra. Jadi gua bilang begitu, supaya Vian nggak ngejar-ngejar Arra lagi Den", jawab Jino kembali memberikan penjelasan. "Tapi kan bisa bilang kalo Arra itu mau jadi pacar gua!. Kenapa harus lu sendiri?. Apa lu jangan-jangan sebenernya emang asli suka sama Arra?", tanya Dennis.
"Nggak laah Den. Kan kita semua bestfriend forever", jawab Jino mulai takut kalau Dennis marah kepadanya. "Lu takut gua marah kan?. Mangkanya nggak usah bikin gua kesel!. Nggak usah bikin ulah!!", ucap Dennis. "Jangan lupa Jin, gua indigo tingkat atas!. Gua bisa baca pikiran orang lain meski cuman ngeliat dari gerakan matanya. Jadi, jangan pernah buat ngebohongin gua!. Apalagi lu, yang katanya sahabat gua!", jelas Dennis. Ia pun pergi meninggalkan Jino dengan perasaan masih kesal.
Jino terus memikirkan perkataan Dennis. "Apa yang gua lakuin!!. Gimana nihh???. Semoga nggak akan ada yang tau selain Arra, Dennis, Vian, sama Rizal doang!", gumam Jino sambil menggaruk-garuk kepalanya.
.
.
.
"Okee!!. Semuanya sudah kumpul di Aula??. Baik kita mulai acara yang pertama yaa", seru Mrs. Irma. "Acara yang pertama adalah, kita akan melakukan pemilihan ketua A-IJAS yaah. Sudah didaftarkan ada 5 calon ketua A-IJAS. Baik, Saya sebutkan yaah. Yang pertama ada Riani Alula Raharjdo 7D, Raffa Imrandi Pratama 8A, Naufal Hilman Abidzar 8F, Kinnara Ummiatun Asyifa 8A, dan Wira Ardana Wangsana 7A. Ohh iyaa, kok kelas 9 nggak ada yang mau mencalonkan diri yaa??. Kenapa?", tanya Mrs. Irma kepada barisan kelas 9.
Anak-anak kelas 9 hanya tersenyum malu. Mereka semua saling pandang. "Maaf Miss. Kami bukannya malu untuk mencalonkan diri. Tapi, masih ada adik kelas kita yang punya lebih banyak waktu untuk menjaga kedamaian dan kerukunan A-IJAS ini Miss", jawab Alice, salah satu siswi dari kelas 9A. Mrs. Irma menganggukan kepalanya pelan. "Ohh begitu yaa. Ya sudah kalau begitu. Sekarang kita mulai melakukan pencoblosan. Silahkan Mr. Anwar untuk memimpin jalannya pencoblosan", tambah Mrs. Irma.
***BERSAMBUNG...
ALICE
Dia adalah siswi paling pintar se kelas 9. Alice juga kakak sepupunya Reva, Raffa, Aris, dan Arra.
YOONA
Dia adalah kakak nya Dona. Dia kelas 9C. Dia juga terkenal angkuh, paling egois dan paling kejam sama adik kelas. Dia musuhnya Alice***.