
Dina masih bingung dengan suasana yang terjadi pada ibunya. "Bundaa... Kita mau kemana siih??. Ada apa sama Kakak?? Bunnn???", Dina masih bertanya-tanya kepada Bu Meina, namun tak ada satupun pertanyaan yang terjawab oleh Bu Meina.
"Kakak kamu diculik Dinaaa. Sekarang keadaannya dia itu penuh memar, dan butuh banyak nafas. Akhirnya dia dibawa ke rumah sakit Dinaa", jawab Bu Meina geram. Dina terkejut, hanya bisa melongo saja. "Yaudah hayokk sekarang kita ke Rumah Sakit Bunn", jawab Dina membuat Bu Meina bertambah geramm.
"Nahh ini mau kesana nenggg. Haduhh", Bu Meina menepuk dahinya keras. Dina masih melongo dan diam tanpa kalimat. Bu Meina kembali melajukan mobilnya. "Moga nggak macet Ya Allah", ucap Bu Meina.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua sampai di rumah sakit. Bu Meina langsung berlari ke resepsionis. "Maaf mba saya mau tanya, ruangan pasien atas nama Dennis Azmian dimana yaa", tanya Bu Meina.
"Dennis Azmian, ohh ibu lurus ajah nanti belok ke kanan nomor 15 nahh disitu ruangannya", jawab Resepsionis itu. "Oke makasiih ya mba", Bu Meina pergi ke ruangan itu. Dina membuntuti ibunya.
Beberapa langkah, Bu Meina dan Dina sampai di ruangan Dennis. Arra yang sedamg duduk ditemani 4 temannya langsung menghampiri Bu Meina dan memeluknya.
"Tantee", panggilnya sambil meneteskan air mata. "Raa, sebenernya apa yang terjadi sama Dennis siih??", tanya Bu Meina yang juga menangis.
Arra menceritakan semua kejadian yang dialaminya dan Dennis. Bu Meina menangis lebih keras. "Mana anaknya mana??. Berani-beraninya dia ganggu anak Hardiansyah Raksawijaya dan Meina Puspa Wijaya!!. Sehebat apa emangnya orang tuanya", suara Bu Meina terdengar sangat menggelegar.
Bu Meina sangat emosi dengan perlakuan Vian kepada Dennis yang bahkan tak tau apa-apa soal urusan antara Vian dan Aris. "Udah Tante tenang yahh, nanti Arra sama temen-temen yang ngurusin Vian", Arra mencoba menenangkan Bu Meina yang sudah sangat emosi.
"Tante nggak bisa tenang Arra. Tante nggak sanggup kalo ngeliat Dennis sakit", Bu Meina kembali meneteskan air matanya. Dina hanya diam saja melihat Ibunya yang kalau emosi benar-benar menakutkan.
Tak lama tiba-tiba dokter keluar dari ruangan Dennis. "Bu Meina?", panggil Dokter Melanie, dokter yang juga pernah merawat Arra sewaktu di rumah sakit dulu.
"Iyah saya sendiri Dok. Ada apa ya dok?", tanya Bu Meina mendekat ke Dokter Melanie. "Keruangan saya ya Bu, ada hal penting yang mau saya beritau. Sama Arra juga yah, takutnya nanti ada apa-apa", jelas Dokter Melanie.
FLASHBACK ON..
"Selamat yah Pak Hardi dan Bu Meina, anaknya laki-laki, sehat, dan sempurna", ucap Dokter Melanie sambil meletakkan bayi itu ke samping Bu Meina.
"Tapi saya mohon maaf Bu Meina. Setelah saya periksa, sepertinya ada salah satu syaraf yang kalau terjadi benturan bisa berubah sifat dan watak", tambah Dokter Melanie.
Bu Meina terlihat sangat terkejut. "Terus gimana Dok cara mengatasinya?", tanya Pak Hardi, suami Bu Meina. "Saran saya, jangan sampai Anak Ibu sama Bapak, kalau sakit jangan sampai pingsan apalagi koma, nanti akan terjadi pergantian watak, yaa seperti hilang ingatan namun dalam sifat", jelas Dokter Melanie.
FLASHBACK OFF..
"Iyah saya inget Dok", jawab Bu Meina. "Nahh berarti nanti Ibu jangan terkejut yahh kalau nanti ada sesuatu yang berbeda dengan Dennis yang sebelumnya. Bu Meina mengangguk paham.
Arra masih terdiam dan terlihat bingung dengan perkataan Dokter Melanie. "Sebenernya apa yang salah sama Dennis??. Lahh liat ajah dehh ntar, emang ada apa sama sifat Dennis kalo abis Koma..", pikir Arra.
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA BUAT TINGGALKAN LIKE, KOMEN, DAN VOTE YAA...
I LOVE U ALL❤🍎😍😚