
Malam Hari...
Meyka keluar untuk mencari udara segar. Langit terlihat lebih indah, karena banyaknya bintang-bintang yang mungcul. Tak ada awan hitam satupun. Meyka mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba menghubungi orang yang paling ia cintai, ibunya.
Tuuutt...Tuuutt... "Halo Assalamu'alaikum Meyka, ada apa sayang?".
"Waalaikumsalam. Eomma, gimana kabar eomma?". Mereka memulai percakapan melalui telefon.
.
.
.
Reva juga sedang mencari udara segar. Tak sengaja ia melihat Meyka sedang berbicara dengan ibunya di telefon. Ia berhenti dan ia menguping pembicaraan Meyka dengan Ibunya.
"Eomma tau nggak?, aku ikut Ekskul nyanyi seriosa tauu. Dan aku berharap aku bisa jadi penyanyi sopran yang terbaik", ucap Meyka kepada ibunya. Reva yang mendengar kata-kata Meyka, sontak langsung terkejut. "Meyka ambil ekskul nyanyi seriosa?. Ini nggak boleh jadi!, dia bakalan nyingkirin aku dong?, dia juga bakalan deketin Adit?. Nggak bisa kek gini!. Gue harus ngomong sama Mamah", batin Reva.
.
.
.
Dalam perjalanan menuju ke kamar, Reva bertemu dengan teman-teman anak kelas 8C yang sedang merumpi. "Hai Revaa, lo abis kemana?", tanya Vania, siswi kelas 8C yang terkenal paling hits. "Nggak kemana-mana kok, ini abis nyari angin doang", jawab Reva.
"Ehh Rev, lo pilih ekskul apa?", tanya Cici. "Gue?, gue pilih nyanyi sopran. Emang kenapa?", jawab Reva. "Ooohh, ya nggak siih. Tapi lo harus kerja keras yaah, soalnya kan di kelas lo ada siswi yang suaranya paling bagus", ujar Cici. "Emang siapa siswi itu?", tanya Reva dibuat penasaran. "Meyka. Siswi yang muka nya agak ke korea-koreaan itu lhoo", ucap Cici. Reva langsung terkejut. Ia semakin panas dan takut kalau sampai ia tersaingi oleh Meyka.
.
.
.
Pindah ke yang lainnya...
"Biasa?. Oohh Dona?".
"Iyah, gimana dia?. Apa dia bikin masalah?".
"Ya nggak siih Mahh, tapi tenang ajah, aku bakalan bikin Dona kena masalah di sekolah maupun di A-IJAS", jawab Yoona dengan tatapan jahatnya. "Tapi kamu jangan sampe kena masalah juga yaa", ucap Bu Laura. "Iyah, tenang ajah Mahh", jawab Yoona. "Awas ajah kamu Dona!. Kamu bakalan kena masalah sama kayak ayah kamu!", batin Bu Laura.
.
.
.
Pagi Hari...
Arra keluar dari kamarnya. Ia berjalan tanpa menengok ke kanan dan kirinya. Tak seperti biasanya, mungkin hari ini ia tidak sedang berada pada mood yang baik.
"Ohh, itu Arra. Samperin ahh", ucap Aris sambil berlari menghampiri Arra. "Hai Arra", sapa Aris. "Hai", jawab Arra datar. "Ehh Ra, lu tau nggak semalem...".
"Kira-kira hari ini Dennis gimana yaa?. Apa jangan-jangan yang kemaren dia omongin ke gue itu emang asli dari hatinya?. Kok bisa-bisanya gue ngomong kek gitu siii!!!. Gue terlalu kebaperan siih", batin Arra. "Jadi gitu Raa... Ra!, hoii!!".
"Hem?, iyah kenapa Ris?", jawab Arra. "Lu dengerin gua cerita nggak siih Ra?", tanya Aris kesal. "Iyah dengerin kok Ris", jawab Arra masih datar. "Apa coba?", tanya Aris mengecek kesadaran Arra. "Lo semalem mimpiin Dennis kan", jawab Arra seperti orang b*go. "Ihhh, berarti lu nggak dengerin gua ngomong dari tadi!. Lu mikirin siapa siih?", tanya Aris.
"Gue mikirin... Ehh gue mau cerita nihh Ris. Jadi gini gue kan kemaren...". Arra terus bercerita hingga ia tak tau, kalau Aris sudah berganti menjadi Dennis. "Dia nggak bakalan tau kan?", tanya Aris bisik-bisik. Dennis menggelengkan kepala.
"....Itu kenapa yaa?, padahal kan gue itu cuman bercanda. Apa dia jangan-jangan emang cuma nganggep gue sahabatnya ajah?, nggak lebih?. Tapi dia pernah meluk gue kok. Itu menurut lo gimana yaa?", tanya Arra tanpa menoleh siapa yang ada di sampingnya.
"Itu maksudnya tanda kalo lu itu nggak boleh deket-deket sama cowok lain selain gua", jawab Dennis. Arra berhenti berjalan, ia menoleh ke sampingnya pelan-pelan. "Ehh Dennis", kata Arra sambil tersenyum malu. Arra menoleh ke arah sebelahnya untuk menutupi malunya.
"Kok bisa ya, mukanya si zilong berubah jadi Alucard?", gumam Arra. "Hahahahha, salah kan lu!!. Mangkanya jangan nyuekin gua!. Jadinya gini kan, niatnya mau nyeritain Dennis dibelakang Dennis, ehh malahan orang nya dateng", ledek Aris.
"Enak ajah lo!. Gue nggak lagi nyeritain Dennis kok!", ucap Arra mengelak. "Udahlahh, yok kita ke kelas", ajak Dennis. Dan tiba-tiba sett.... Dennis merangkul Arra.
BERSAMBUNG....