
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Seminggu lagi, double twin dan yang lainnya akan menghadapi ujian untuk kelulusan.
Pihak sekolah memberikan masa tenang, untuk diam di rumah selama seminggu. Kini, mereka berdelapan tengah berkumpul di cafe milik Kay.
"Kak Zef, beneran mau ngelamar Maya setelah selesai ujian?" tanya Dena
"Iya, Axel juga mau melamar Kira di hari yang sama." jawab Zef mengangguk
Dena pun mengangguk
"Apa tidak kecepatan bang?" tanya Kira pada Axel, Axel menggeleng
"Sebentar lagi kalian akan masuk ke dunia perkuliahan, dan di pastikan akan ada banyak pria yang mengejar kalian." jawab Axel menatap Kira, Kira hanya tersenyum.
DEG
"Right, gue setuju. Sedia uang sebelum jajan, ga asyik soalnya kalo ngutang." celetuk Zef, yang lainnya langsung tertawa
Syahid dan Sahin terdiam dan saling tatap, benar juga.
"Apa aku juga harus melakukan hal yang sama?" tanya Sahin dan di angguki oleh Syahid, mereka berenam langsung menatap twin prince
"Hah?" Ita dan Dena terkejut mendengar pertanyaan tersebut
"Yang, kamu kesambet apa?" tanya Dena, seraya tangannya memegang kening sang kekasih
"Nggak panas ko" ucap Dena lagi, Sahin pun menurunkan tangan Dena.
"CK, kamu tidak dengar dengan apa yang di ucapkan oleh kak Axel dan kak Zef?" tanya Sahin balik
"Ya denger, terus kenapa?" tanya Dena bingung
"Karena aku juga tidak mau melihat, ada pria yang dekat denganmu." jawab Sahin kesal, Dena mencebikkan bibirnya.
"Lagian ya sayangku honey bunny sweet sweet, yang suka sama aku itu cuma kamu doang. Mana ada yang mau sama cewek pecicilan kaya aku, kamu aja yang matanya rabun." ucap Dena, ia mengaduk minumannya dan menyedot isi gelas tersebut.
"Itu mulut, kalo ngomong seenaknya aja. Kamu itu langka, ga akan ada lagi." ucap Sahin
"Bee, kalo kamu kenapa?" tanya Ita
"Sama dengan mereka lah, kamu cewek paling sempurna di mataku. Dan di sekolah saja, yang menyukaimu sudah banyak. Apalagi saat nanti kita masuk perkuliahan, bisa aku ratakan kampus bila aku sampai melihat ada pria yang mendekatimu." jawab Syahid dengan menatap tajam Ita
"Jangan suka melotot gitu ih, ga suka aku" ucap Ita, mengusap wajah Syahid.
"Maaf, tapi kamu mau kan aku lamar setelah kita lulus ujian?" tanya Syahid serius
"Kalau kamu udah yakin sama aku, ya sok aja. Kamu datangi ibu dan bibi ke rumah, minta aku pada mereka. Tapi tidak mungkin kan di waktu bersamaan, sedangkan anggota keluarga yang lain juga kan pasti sibuk dengan acara lamaran Maya dan Kira." jawab Ita
Syahid mengangguk
"Akan aku bicarakan dengan bubu dan yayah, bagaimana baiknya nanti." ucap Syahid final, Ita hanya mengangguk
"Kamu mau kan yang?" tanya Sahin lagi pada Dena
"Ngapain buru-buru, yang. Lagian di hati aku cuma ada kamu seorang, percaya deh. Ga bakalan ada yang suka sama aku, yang mesti aku takutin itu ya kamu. Pasti banyak wanita yang akan mengejar-ngejar kamu nantinya." jawab Dena
"Ya maka dari itu, aku lamar kamu. Biar para perempuan itu, ga ada yang deketin aku. Karena tau kalo aku sudah ada pawangnya, gimana?"
Dena terdiam, saat akan menjawab
"Hai Den, lama banget ga ketemu. Gimana kabar kamu?" Dena yang hapal suara tersebut, langsung memejamkan matanya. Ia melupakan pria ini, pria yang mengejarnya saat SMP dulu.
"Ha hai Gus, Alhamdulillah baik." jawab Dena tergagap
GLEK
Dena menelan salivanya susah payah, saat ia melihat tatapan tajam Sahin. Dena juga melihat kedua tangan kekasihnya itu mengepal, sampai uratnya pun terlihat menonjol.
Dena menunduk dan menggigit bibir bawahnya
'Agus b*jingan, s*alan. Kamu datang di waktu yang tidak tepat.' ucap Dena dalam hati
Maya dan yang lain, menunduk menahan tawanya.
"Ehem... G Gus, kenalin Sahin tunangan gue dan ini teman-teman gue sekaligus saudara tunangan gue." ucap Dena memperkenalkan Sahin dan yang lain
"What? Lo udah tunangan? Njir, mana lebih ganteng dari gue lagi. Fix.. gue mundur kalo udah gini mah, sori bro, Gue ga tau, kalo cewe inceran gue dari SMP udah tunangan." celetuk Agus, Agus memang di kenal ceplas ceplos. Dia akan dengan gamblangnya mengucapkan apa yang ada di pikirannya, tidak peduli bagaimana perasaan lawan bicaranya.
Sahin hanya mengangguk dan tersenyum kecil, lalu menatap Dena tajam. INCERAN?? Berani sekali pria ini...
"Kalo gitu gue pamit, semoga kalian langgeng sampe pelaminan dan hidup bahagia til jannah. Aamiin" Agus pun pergi meninggalkan Dena dkk
"AAMIIN" jawab Dena dan yang lain serempak
"Aku akan melamar mu selesai ujian, titik no debat." ucap Sahin tegas
GLEK
'Wis lah pasrah aku, daripada di diemin berhari-hari' ucap Dena dalam hati, seraya menghembuskan nafasnya pelan
"Dengar tidak?"
"Inggih, Gusti Pangeran." jawab Dena mengatupkan kedua tangannya di atas kepala, seraya menundukkan sedikit kepalanya.
Ita menyembunyikan wajahnya di punggung Syahid, dia tertawa cekikikan di sana. Begitu juga dengan Maya dan Kira, mereka tertawa lepas mendengar. Sedangkan Syahid, Zefran dan Axel hanya bisa menunduk menahan tawa.
Syahid benar-benar tidak menyangka, Sahin bisa se berubah ini setelah bertemu dan menjalin kasih dengan Dena. Ia jadi lebih banyak mengeluarkan ekspresi yang berbeda-beda, dan ia menyukai Sahin yang seperti ini.
"Seminggu ini kamu tidak boleh keluar, harus belajar. Nanti aku yang akan menjadi tutor mu, antara..."
"Tapi kan itu sa..."
"Tak ada penolakan sayang.... Antara aku yang ke rumahmu, atau aku yang menjemputmu belajar di kediaman Zandra." potong Sahin
"Ya sudah, aku akan bicara pada ayah untuk memintakan ijin pada om Teja. Supaya selama dua minggu ini, Dena menginap di rumah kita. Dan supaya kamu juga ga perlu bolak balik mengajar di rumah Dena atau jemput Dena, bagaimana?" saran Maya
"Ide bagus tuh" jawab Dena semangat
"Gimana Hin?" tanya Kira, Sahin menganggukkan kepalanya
"Aseeekk... kita bisa ketemu tiap hari, pacaran tiap hari." ucap Dena, Sahin mengusap wajah Dena
"BE LA JAR, bukan PA CA RAN. Inget, kita hanya punya waktu seminggu untuk belajar." tekan Sahin
"Bodo amatlah, sing penting. Wis rong minggu aku ora ngrasakake rasa kangen karo kowe, mas. Aku kebak ndeleng sampeyan, saben dina. / Selama dua minggu aku nggak negrasain rasa kangen sama kamu, mas. Kenyang aku lihat kamu, setiap hari." jawab Dena, yang membuat teman-temannya bengong.
"Tolong ya mboke, kalo ngomong jangan pake bahasa yang kita nggak paham." protes Kira kesal
"Pokonya, intinya selama dua minggu aku ga perlu merasa kangen sama mas Sahin. Iya nggak mas, kita bakalan ketemu terus. Pisahnya kalo kita mau tidur aja, apa mau tidur di kamar yang sama?" ucap Dena
BLUSH
"Ko ya, ceweknya ini yang agresif. Eddaann" ucap Maya, seraya melempar sedotan yang sedang ia pegang.
"Ya elah, canda May. Bisa di pecat gue jadi calon mantu, kalo gue ngamar bareng bebeb. Ya beib?" Dena mengalihkan pandangannya pada Sahin
"Dih... jangan mikir yang iya-iya ya, cuma asal ngomong loh aku. Kamu kan mau ngajar aku, bukan ngamar beib." ucap Dena, saat dirinya melihat wajah Sahin yang memerah.
"Kacau... kacau... yuk ah, kita ke mall" ajak Zefran
...****************...
...Happy Reading allππππ...