Zandra's Family (Season 4)

Zandra's Family (Season 4)
Tentang Lia



"Jadi, ada apa dengan Lia?" tanya Sahin, ia pun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan melipat kedua tangannya di atas perut.


Kini di kafe hanya tinggal Syahid, Sahin, Kira, Maya, Ita, Dena dan Dira. Sebenarnya twin prince tak ingin ikut campur masalah yang tengah di hadapi teman sekelasnya, namun Ita yang peka saat tadi Syahid mengalihkan pembicaraan. Membuat Ita pun jadi ingin tau, bukan sok ikut campur.


Hanya saja, kekasihnya dan juga keluarganya di berikan kelebihan. Pasti dengan tujuan, agar bisa menolong orang-orang di sekitarnya. Karena itu, Ita tak mau bila Syahid dan yang lainnya hanya diam saja, melihat saat orang lain membutuhkan pertolongan.


Dira yang sejak tadi hanya menunduk, kini mengangkat kepalanya dan menatap keenam orang yang ada di hadapannya. Rasanya percuma menyembunyikan sesuatu dari mereka, akhirnya Dira mengambil keputusan untuk menceritakan yang terjadi pada sahabatnya itu.


Dira menghembuskan nafasnya pelan, ia mencoba mengatur nafasnya.


"Sebenarnya, sejak 3 hari yang lalu. Lia mendadak berubah..." Dira mengalihkan tatapannya ke arah jalanan, seraya sesekali menarik dan menghembuskan nafasnya.


"Maksudmu berubah? Berubah jadi Spiderman?"


PLAK


Dira mengalihkan pandangannya pada Dena, ia cukup terkejut melihat interaksi mereka.


"AWwww... ssshhh... sakit May, galak banget sih lo. Gue kan cuma pengen cairin suasana" ucap Dena, ia pun mengusap lengan bagian atasnya yang baru saja di pukul Maya. Dira yang melihatnya pun tersenyum, Dena memang berbeda.


"Ayang sakit, Maya galak banget." adunya pada Sahin, Sahin menggelengkan kepalanya dan mengusap lengan Dena yang sakit.


"Kamu juga tuman, udah tau lagi serius." tegur Sahin, Dena langsung mencebikkan bibirnya.


"Terus gimana Dir?" tanya Dena


'Ko berasa ga enak banget panggil Dir, berasa dahdir gitu.' Dena menundukkan kepalanya seraya menggigit bibirnya, ia menahan tawa karena pikirannya sendiri. Dena menarik nafas dan menghembuskannya pelan, mencoba mengendalikan dirinya.


"Awalnya, Lia tiba-tiba menjadi pendiam dan mengurung dirinya di kamar sepulang sekolah. Tante Ami bilang, terkadang selalu terdengar suara tangisan dari kamar Lia. Tante Ami meminta bantuan padaku, untuk mengajaknya berbicara. Berharap Lia mau menceritakan masalahnya, namun sampai sekarang..." Dira menggelengkan kepalanya, matanya mulai berkaca-kaca.


Ita yang melihatnya, langsung berdiri dan mendekati Dira. Tak lupa mendekatkan tisu ke dekatnya, Ita merangkul bahu Dira dan mengusapnya pelan.


"Bila terlalu sulit, sudahi saja. Jangan di paksakan, aku khawatir malah jadi mengganggu pikiranmu." ucap Ita, Dira menggelengkan kepalanya lagi


"Justru... bila aku tidak melanjutkan cerita ini, malah akan semakin kepikiran." jawab Dira, Ita mengangguk paham. Lalu Ita mengambil sehelai tisu dan di berikan pada Dira, Dira menerimanya dan mengusap air matanya sempat lolos tadi.


"Puncaknya kemarin, Lia ternyata berusaha mencoba untuk menyakiti dirinya. Ia mencoba menghabisi ny*wanya, dengan meny*yat pergelangan tangan miliknya." lanjut Dira dengan suara bergetar, yang pada akhirnya roboh lah benteng pertahanannya untuk menahan tangisan.


Mereka berenam pun terkejut, keempat gadis itu sampai membulatkan kedua bola matanya.


"La lalu?" tanya Maya terbata, masalahnya sebesar apa? Sampai Lia nekad untuk mengakhiri hidupnya.


"Tante Ami yang merasakan bila hatinya tidak baik-baik saja , ia memaksa om Chris dan bang Axel untuk mencari kunci cadangan pintu kamar Lia. Saat masuk, mereka terkejut karena Lia yang sudah tak sadarkan diri dengan tangannya yang mengeluarkan darah yang tak sedikit. Bang Axel segera mengangkat tubuh Lia, dan segera membawanya ke rumah sakit. Untung Allah masih sayang, sehingga nyawa Lia masih tertolong. Kabar terakhir yang aku dengar siang tadi, Lia kini sudah di bawa pulang. Namun, dokter menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikiater. Karena kemungkinan Lia mengalami gejala depresi, dokter yakin bila Lia trauma pada sesuatu yang entah apa dan kenapa?" jawab Dira terisak, rasanya sangat sesak.


Baginya Lia bukan hanya sahabat, Lia sudah dia anggap seorang kakak. Karena usia Lia, yang selisih 3 bulan lebih tua dari Dira. Pemikiran Lia lebih dewasa dari Dira, Lia tempatnya mengeluh dan mengadu. Sehingga saat melihat keadaan Lia sekarang, Dira ikut merasakan sakit luar biasa. Kenapa dia tidak bisa seperti Lia, yang selalu ada di saat ia membutuhkannya.


Dira langsung menatap wajah Kira, lalu ia pun menatap satu per satu wajah yang lainnya. Ita mengangguk, begitu juga dengan yang lainnya.


"Terimakasih, aku mohon tolong Lia. Aku tidak tau trauma apa yang tengah ia hadapi, tapi aku berharap kalian bisa membantu kami." ucap Dira


"Jangan berharap pada manusia, karena sejatinya yang menolong dan menyelamatkan seseorang adalah Allah. Tapi kami akan berusaha untuk membantu, semoga Allah meridhoi niat baik kami." ucap Ita


"AAMIIN" ucap mereka serentak.


Dira pun berpamitan untuk segera pulang, karena di depan ia sudah di jemput oleh sang kakak. Sahin mengantar Dena pulang terlebih dahulu, dan yang lainnya memilih untuk segera pulang.


.


.


"Aku yakin ada yang sudah terjadi pada Lia, sebenarnya aku bisa saja melihat apa yang terjadi. Bila tadi aku meminta barang yang sering di pegang oleh Lia, namun entah kenapa hatiku tidak siap untuk sekarang. Aku mersa takut, dengan apa yang akan aku lihat nantinya." ucap Kira, ia menyandarkan kepalanya di kaca.


Maya menarik kepala Kira, agar bersandar di bahunya. Syahid dan Ita merasakan kegundahan yang Kira rasakan, mereka berdua melihat Kira dari kaca spion depan. Terlihat bila ada beban berat yang menekan Kira, padahal ia belum mengetahui apa masalah yang sedang di hadapi Lia.


Jarak kafe yang tidak jauh dari rumah kediaman Zandra, sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai.


Saat akan turun, Syahid melihat Kira yang sudah terlelap. Syahid menghembuskan nafasnya pelan, ia yakin besok akan ada kejadian besar. Karena firasat Kira, tak pernah meleset. Syahid membuka pintu belakang, bagian sisi Kira. Ia mengambil tubuh Kira dengan perlahan, Syahid menggendong tubuh Kira masuk ke dalam rumah. Ita dan Maya, mengikutinya dari belakang. Tak ada yang buka suara, entah kenapa rasanya mulut mereka terkunci untuk saat ini.


"Biarkan Kira tidur di kamarku, bee." pinta Ita saat Syahid hendak lurus ke kamar Kira, Syahid mengangguk. Ia pun akhirnya berbelok masuk ke dalam kamar Ita, ia membaringkan tubuh Kira dengan pelan ke atas ranjang.


"Biar nanti aku yang akan membersihkan tubuh dan menggantikan pakaian Kira." ucap Ita lagi, Syahid tersenyum.


"Terimakasih" ucap Syahid tersenyum seraya mengecup puncak kepala Ita, ia pun pamit untuk kembali ke kamarnya.


Ita membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah selesai dan sudah mengganti baju. Ita mengisi baskom dengan air hangat, tak lupa ia membawa handuk kering.


Dengan perlahan Ita membuka pakaian Ita secara bertahap, pertama ia membuka atasan Kira. Ia juga tak lupa membuka d*laman Kira, lalu Ita membersihkan bagian atas Kira. Setelah selesai, ia memakaikan bajunya tanpa menggunakan d*laman. Karena bila tidur, Kira memang tidak pernah memakainya. Lanjut ke bagian bawahnya, ia melakukan hal yang sama. Tapi tentunya di pakein daleman ya kalo bawah, awas jangan traveling. hahahaha🤣🤣🤣


Setelah selesai, Ita menaruh kembali baskom itu ke kamar mandi. Setelah membuang airnya, terlebih dahulu tentunya.


Saat hendak membaringkan tubuhnya, pintu kamarnya di ketuk dari luar. Sudah bisa di tebak siapa pelakunya, Ita tersenyum dan memintanya untuk masuk.


"Maya juga bobo sini ya teh" pinta Maya, Ita mengangguk dan menepuk sisi sebelah kirinya yang kosong. Hanya dalam hitungan menit, Maya terlelap saat Ita mengusap pelan kepala Maya. Ita pun ikut memejamkan mata dan akhirnya terlelap.


...****************...


Huft.... so sad banget sih😮‍💨😮‍💨


...Happy Reading all💞💞...