
Besok adalah keberangkatan double twin dan teman-temannya ke Bandung, sehingga malam ini teman-teman double twin memilih untuk menginap di kediaman keluarga Zandra. Mereka akan berangkat menggunakan mobil Van milik keluarga Zandra, tentunya kalian ingat bukan?
Untuk mengingatkan, aku bakal lampirkan gambarnya lagi. Namun karena ini ada 20 orang, maka mereka harus menambah 1 mobil van lagi. Yang tak kalah mewah dan lengkap dengan sebelumnya, dan tentu saja hal itu Rendra yang menyiapkannya.
"Kamu tidak tidur?" tanya Yumi pada Ajeng, yang kini tengah duduk sendiri di taman belakang. Yumi pun duduk di samping Ajeng, Ajeng segera menggeser memberikan tempat untuknya.
"Ah, oma. Ajeng belum mengantuk oma, malam ini banyak bintang. Membuat Ajeng ingin menikmatinya, karena jarang sekali bisa melihat pemandangan seperti ini di Jakarta." jawab Ajeng tersenyum dan menoleh pada Yumi, Yumi menatap Ajeng. Ia bisa melihat kesedihan yang sangat dalam di matanya, senyuman itu pun terlihat hambar.
Yumi yang tadinya hendak melihat taman milik Maria, malah melihat salah satu teman cucunya tengah melamun di sana. Yumi yang memang sudah tau cerita mengenai Ajeng, menghampirinya.
Ajeng kembali menatap ke depan dan menengadahkan kepalanya, melihat langit yang terlihat terang walau sekitarnya gelap. Yumi seakan merasakan sesak yang di rasakan Ajeng, Ajeng menghembuskan nafasnya pelan.
"Oma" panggil Ajeng dengan suara bergetar
"Kenapa? Hmm?" tanya Yumi, seraya merangkul Ajeng dari samping
"Apa setiap anak di lahirkan, mempunyai alasan terlahir? Walau ia tak di inginkan oleh orang tuanya." tanya Ajeng, bersamaan dengan air mata yang jatuh
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tidak mungkin orang tuamu tidak menginginkanmu." tanya Yumi
"Tapi aku merasakannya oma, mereka lebih memilih dengan urusan mereka masing-masing. Mereka hanya mementingkan perasaan mereka masing-masing, tanpa memikirkan perasaanku sama sekali. Mereka tidak peduli, dengan apa yang terjadi padaku? Apa yang aku rasakan? Apa yang aku inginkan? Bahkan, saat SMP. Ajeng pernah mengalami kecelakaan, namun tak ada satu pun dari mereka yang mau melihat kondisi Ajeng. Mereka hanya menyuruh bibi dan membayar perawat. Apa itu yang di sebut dengan DIINGINKAN, oma?" jawab Ajeng, seraya kembali bertanya. Ajeng mengalihkan pandangannya pada Yumi, wajahnya sudah basah dengan air mata.
Yumi bisa melihat luka di matanya, rasa kecewa dan sakit hati. Mendengar curahan hati sahabat cucunya, Yumi ikut meneteskan air mata. Yumi pun menarik Ajeng ke dalam pelukannya, di sana tangisan Ajeng kembali pecah.
Tak ada yang bisa Yumi ucapkan, rasa sakit yang di rasakan Ajeng sudah terlalu dalam nampaknya. Yumi menepuk pelan punggung Ajeng, Ajeng meremas baju Yumi.
"Oma, tidak bisa meminta mu untuk bersabar. Karena oma tidak tau sedalam apa luka yang kamu rasakan, tapi oma hanya bisa bilang. Kelahiran setiap orang, memiliki alasan dan tujuan tertentu. Allah sudah menggariskan takdirmu akan bagaimana ke depannya, kita sebagai umatnya. Hanya bisa menerima dan menjalani." ucap Yumi
"Apa kita bisa merubahnya oma?" tanya Ajeng
"Qodo dan Qodar setiap manusia sudah di tentukan, namun kita bisa memintanya melalui DO'A. Merubah orang tua, tentu tidak bisa. Tapi kamu bisa mendo'akan mereka, agar Allah melembutkan dan membukakan pintu hati mereka. Meminta pada Allah, agar sabarmu semakin di lapangkan, imanmu semakin di kuatkan. Kamu bisa meminta apapun pada pada Allah, pintalah di atas sajadah sayang." jawab Yumi
"Terkadang Ajeng lelah oma, apa salah Ajeng? Apa alasan mereka membenci kehadiran Ajeng, bila memang tidak di inginkan. Kenapa ibu melahirkan aku? Kenapa tidak ia gugurkan saat masih dalam kandungan, rasanya sangat sakit oma. hiks" Yumi semakin mengeratkan pelukan tersebut, gadis yang ada di pelukannya membutuhkan dukungan yang sangat besar.
"Biarkan orang tuamu seperti itu, kamu tidak sendiri sayang. Bukankah ada teman-temanmu yang selalu ada untukmu, ada oma, ada anggota keluarga yang lainnya. Kami ada untukmu, kamu tidak sendiri sayang." ucap Yumi dengan suara yang ikut bergetar, karena menahan tangisannya. Ia ikut merasakan kesakitan, yang di rasakan oleh Ajeng.
Setelah setengah jam, Ajeng pun menghentikan tangisannya. Yumi pun memerintahkan Ajeng untuk segera istirahat, karena besok mereka akan berangkat pagi. Ajeng yang baru kali ini merasakan pelukan dari seorang ibu, merasa enggan untuk melepaskannya. Namun, yang di katakan Yumi benar. Besok ia dan teman-temannya akan berangkat setelah shalat subuh.
"Ya Allah, kuatkanlah hatinya. Berikanlah perlindungan padanya, ia masih anak-anak. Tapi cobaan yang Engkau berikan, sangat menyakiti hatinya." ucap Yumi seraya menatap punggung Ajeng yang melangkah menjauhinya, Yumi menghela nafas.
Tanpa mereka sadari, ternyata interaksi mereka di saksikan beberapa pasang mata di atas balkon kamar. Reksa dan juga Dena, dengan pikiran mereka masing-masing.
.
.
"Huss... Dena kebiasaan ihh, untung Sahin sabar." tegur Maya, bukannya tersinggung. Dena malah bernyanyi lagu Udin sedunia
"Udin yang suka ke masjid, namanya alimudin. Udin yang suka berdo'a, namanya Aminudin. UDin ga suka marah, namanya SABARUDIN. Aseekkk" Ita dan Kira hanya menggelengkan kepala mereka, sedangkan Ajeng terlihat pulas tertidur. Mungkin karena semalam ia terlalu banyak menangis, sehingga begitu masuk ke dalam van. Ajeng langsung pamit ke kamar dan merebahkan tubuhnya.
Ita membiarkan Ajeng, karena subuh tadi Yumi memberitahukan bila semalam Ajeng telah mencurahkan hatinya dan banyak menangis.
Sedangkan keenam gadis lainnya berada di van yang lain, mereka berangkat menggunakan 4 mobil van. Dengan supir yang di sediakan oleh Rendra pula, sehingga di antara ke 9 pria tak ada yang menjadi supir.
Seperti biasa, sebelum berangkat. Mereka pasti akan di berikan wejangan, karena setiap daerah memiliki peraturan mereka masing-masing. Sehingga mereka harus bisa menjaga diri dan tata krama, juga sopan santun.
"Berapa jam ke sana?" tanya Syahid
"Kalo tidak macet 3 jam lebih beberapa menit." jawab Reksa, Syahid, Sahin dan kedua tunangan twin princess mengangguk
"Kakekku sudah meminta penjaga villa untuk menyediakan semuanya di sana, jadi kita tidak akan terlalu kerepotan nantinya. Tapi, dari villa juga tidak terlalu jauh ke tempat kuliner, hiburan dan juga shoping para gadis." ucap Reksa
"Waahh... bisa semakin betah tunangan kita." celetuk Zef, yang tau Maya dan Dena tukang jajan. Sahin tertawa kecil, ia mengiyakan ucapan Zef.
"Kakak benar, kudengar Bandung itu surganya jajanan. Entah apa nanti yang akan mereka serbu, yang pasti..."
"SEBLAK" ucap twin prince dan Axel serempak, mereka tertawa.
Selama di perjalanan, mereka mempunyai hiburan mereka masing-masing. Sehingga mereka tidak merasa bosan sama sekali, apalagi di bis yang ada Dena dan Ajeng. Perut yang menempati van tersebut, merasa keram di perutnya karena celetukan dan juga tebakan-tebakan dari mereka berdua.
"Udah, please gue ga tahan. Pengen pipis ini" Kira pun lari ke toilet karena sudah tidak tahan
"Masih ada satu lagi ihhh, KIRAAAA" teriak Dena
"Tau nggak kalau selama ini nyamuk punya nama. Siapa coba ?" tanya Dena pada Ita dan yang lain, mereka hanya menggelengkan kepalanya. Tak kuat untuk mendengar dan menjawab lagi
"Ishhh... mikir atuh sebentar mah." gerutu Dena
"Gue tau, jawabannya Tatang." jawab Ajeng
"Ko Tatang?" tanya Maya
"Tatang seekor nyamuk hap" Dena dan Ajeng pun bertos ria, Ita dan Maya langsung menyerang mereka berdua. Tawa pun pecah di van tersebut
...****************...
...Happy Reading allππππ...